MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA DAERAH SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BAHASA DIERA MODERNISASI
- account_circle admin
- calendar_month 1/04/2025
- visibility 326
- comment 0 komentar
- label Esai dan Opini
By: Nur Hunava
Bahasa daerah dalam perkembangan era modernisasi dan globalisasi yang kian maju menyebabkan bahasa daerah dapat mengalami penurunan yang cepat. Penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa ibu maupun bahasa nasional semakin berkurang. Padahal, bahasa memiliki peran krusial dalam membentuk identitas nasional, khususnya dalam mencerminkan jati diri suatu bangsa dan kekayaan lingustiknya. Namun demikian, pada generasi muda, khususnya pengguna bahasa daerah akan terancam limitasi. Mekanisme ini disebabkan keberadaan teknologi, informasi lebih banyak dengan bahasa yang dominan, penurunan kebiasaan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih lagi, dalam beberapa dekade, banyak bahasa daerah akan punah tanpa upaya dari individu untuk meningkatkan kemampuan dalam berbahasa daerah, sehingga upaya untuk memperbaikinya harus menjadi poin utama.
Bahasa daerah memiliki peran yang tidak kalah penting dalam pembentukkan identitas budaya dan kearifan lokal. Menurut penelitian yang dilakukan oleh UNESCO, setiap dua minggu ada satu bahasa di dunia yang benar-benar punah karena jumlah penutur aktif yang tidak mencukupi. Tidak terkecuali Indonesia yang dikenal memiliki jumlah bahasa yang sangat tinggi. Berdasarkan data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikkan dan Kebudayaan RI, ada sekitar 718 bahasa daerah di Indonesia. Beberapa bahasa diantara itu bahkan masuk kedalam kategori kritis dan terancam punah. Oleh sebab itu, untuk melestarikan warisan budaya ini, meningkatkan kemampuan berbahasa daerah harus menjadi prioritas.
Dalam era modernisasi, terdapat beberapa langkah strategis yang dapat diambil untuk meningkatkan kemampuan berbahasa daerah masyarakat. Pertama, belajar bahasa daerah juga dapat menjadi Pelajaran di sekolah sebagai bagian dari kurikulum formal maupun non-formal. Dengan demikian, generasi muda dapat mulai mengenal, memahami, dan belajar menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, manfaatkan teknologi yang ada agar belajar berbahasa daerah menjadi menarik bagi generasi muda. Dengan adanya aplikasi pembelajaran bahasa daerah, media sosial, dan konten digital berbahasa daerah, belajar bahasa menjadi lebih menarik. Contoh penerapannya, membuat video edukatif, komik digital, atau podcast dalam bahasa daerah sehingga masyarakat pembelajar berkomunitas untuk belajar bahasa daerah.
Mengenai keluarga, bahwa keluarga juga memiliki tanggung jawab penting dalam menjaga bahasa daerah agar tetap berkembang. Orangtua sebagai agen pertama pembelajaran bahasa harus menjalankan fungsi kebahasaannya, tumbuh bersama anak. Melalui cara itu, anak tertanam bahwa bahasa daerahnya merupakan suatu hal yang harus tetap digunakan dan dilestarikan. Komunitas atau pemerintah daerah juga dapat mengadakan festival budaya dan lomba pidato dalam bahasa daerah serta menerbitkan buku atau artikel dalam bahasa tersebut untuk menumbuhkan lingkungan penggunaan yang formal publik. Di sejumlah wilayah di Indonesia, upaya pelestarian bahasa daerah telah berjalan dengan baik. Contohnya, di Yogyakarta dan di Bali, bahasa daerah masih digunakan secara luas berkat dukungan kebijakkan pemerintah setempat serta tradisi budaya yang tetap dijaga oleh masyarakat. Bahkan, di beberapa daerah, berbicara dalam bahasa daerah dianggap sebagai suatu kebanggaan yang mempertegas identitas budaya mereka.

Saat ini belum ada komentar