- Esai dan OpiniPentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra
- Esai dan OpiniMengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi
- Esai dan OpiniMenyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi
- Esai dan OpiniPengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra
- Esai dan OpiniPengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

MENGAKHIRI BULLYING DENGAN SOSIALISASI: HARAPAN ATAU ILUSI?
By: Della Frice Br Manurung, Ana Theresia Br Sitepu, Dhea Ayuanda
Kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah masih menjadi permasalahan yang sulit diatasi hingga saat ini. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), angka kasus bullying terus meningkat setiap tahunnya. Meskipun berbagai upaya edukasi dan sosialisasi telah dilakukan, seperti kampanye anti-bullying di sejumlah sekolah, termasuk SMA 1, SMA 2, dan SD di Balikpapan, kenyataannya tindakan perundungan masih marak terjadi. Fakta ini membuktikan bahwa edukasi saja tidak cukup untuk menghentikan perilaku bullying di kalangan generasi muda. Lalu, apa yang sebenarnya menjadi akar masalah dari perundungan ini? Dan langkah apa yang harus diambil untuk benar-benar mengatasi permasalahan ini?
Sering kali, penyebab bullying hanya dikaitkan dengan kurangnya edukasi tentang dampaknya. Padahal, akar masalahnya lebih kompleks dan berhubungan dengan sistem nilai yang dianut oleh generasi saat ini.
Salah satu faktor yang berkontribusi adalah berkembangnya nilai-nilai sekuler yang menempatkan kebebasan individu sebagai asas utama dalam berpikir dan bertindak. Ketika kebebasan ini tidak diiringi dengan tanggung jawab sosial dan moral, maka dapat muncul perilaku yang merugikan orang lain, termasuk bullying.
Sekulerisme (paham yang memisahkan agama dalam kehidupan) yang menitikberatkan kebebasan tanpa batas terkadang membuat individu merasa berhak melakukan apa pun yang diinginkan, tanpa mempertimbangkan konsekuensinya terhadap orang lain. Nilai seperti empati, kepedulian, dan kebersamaan menjadi terpinggirkan, sementara individualisme semakin menguat. Dalam lingkungan seperti ini, bullying tidak lagi dianggap sebagai pelanggaran moral yang serius, tetapi sering kali dilihat sebagai sekadar ekspresi kebebasan pribadi.
Selain itu, orientasi sistem pendidikan yang lebih menitikberatkan pada prestasi akademik dibandingkan penguatan karakter turut berkontribusi pada munculnya perilaku bullying. Ketika siswa tidak dibekali dengan nilai-nilai moral, empati, dan rasa hormat terhadap sesama, mereka cenderung lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan yang membenarkan tindakan kekerasan dan merendahkan orang lain.
Tak hanya itu, peran keluarga juga menjadi faktor penting dalam membentuk perilaku anak. Namun, dalam banyak kasus, orang tua yang terlalu sibuk bekerja sering kali kurang memberikan perhatian penuh terhadap pendidikan moral dan karakter anak sejak dini. Akibatnya, anak tumbuh tanpa bimbingan yang cukup dalam memahami nilai-nilai benar dan salah. Kurangnya pengawasan dan keterlibatan orang tua membuat anak lebih rentan terpengaruh oleh Lingkungan yang negatif, kemudia diperparah dengan budaya sekuler yang mendominasi, semakin memperkuat perilaku bullying sebagai sesuatu yang biasa dan bahkan dianggap sebagai bentuk eksistensi diri.
Fakta lain yang mengkhawatirkan adalah bahwa upaya penanggulangan bullying masih terkendala oleh lemahnya perangkat hukum serta minimnya peran masyarakat dalam membangun lingkungan yang aman dan suportif. Regulasi yang ada sering kali belum mampu memberikan perlindungan maksimal bagi korban maupun efek jera bagi pelaku. Selain itu, kurangnya kesadaran sosial dan budaya permisif yang justru menormalisasi tindakan kekerasan semakin memperburuk situasi. Jika penegakan hukum tidak diperkuat dan kesadaran kolektif masyarakat tidak ditingkatkan, maka bullying akan terus menjadi masalah yang sulit diatasi di berbagai lingkungan, termasuk di luar sekolah.
Solusinnya
Dalam mengatasi masalah bullying, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan menyeluruh, baik dari aspek keluarga, hukum, maupun peran masyarakat.
Pertama, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak sejak dini. keluarga punya peran dalam memastikan lingkungan sosial yang sehat bagi generasi. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai akhlak sejak dini, membentuk karakter anak dengan pemahaman yang benar tentang adab dan interaksi sosial. Pendidikan berbasis nilai Islam harus menjadi pondasi utama dalam membangun kepribadian yang kuat, sehingga anak-anak tumbuh dengan kesadaran akan hak dan kewajiban mereka dalam bermasyarakat.
Kedua, sistem hukum yang tegas dan adil sangat diperlukan untuk memberikan efek jera bagi pelaku bullying. Regulasi yang jelas dan sanksi yang tegas akan membuat para pelaku berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Namun, hukuman yang diberikan juga harus bersifat mendidik, agar pelaku memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali berkontribusi positif di lingkungan sosial.
Selanjutnya, peran media dan institusi pendidikan juga tidak kalah penting. Media harus lebih banyak menyajikan konten-konten edukatif yang membangun kesadaran akan pentingnya menghormati sesama dan menolak kekerasan dalam bentuk apa pun. Di sisi lain, institusi pendidikan perlu menerapkan kurikulum yang tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai moral.
Selain itu, masyarakat juga harus berperan aktif dalam menciptakan budaya yang menolak segala bentuk kekerasan dan perundungan. Budaya saling peduli, saling menghormati, serta berani menegur ketika melihat tindakan yang salah harus ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, bullying bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Pendekatan ini sejalan dengan sistem yang telah diatur secara komprehensif dalam Islam. Dalam Islam, setiap aspek kehidupan telah diatur dengan sempurna, termasuk dalam upaya mencegah dan menanggulangi bullying. Islam menekankan pentingnya peran keluarga dalam menanamkan akhlak mulia, sistem hukum yang adil untuk memberikan efek jera, serta peran masyarakat dalam menjaga amar ma’ruf nahi munkar. Jika semua elemen ini dapat diterapkan secara konsisten, maka perilaku bullying dapat ditekan secara efektif.
Wallahu A’lam bisshowwab.
admin
06 Jun 2026
By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …
admin
06 Jun 2026
By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …
admin
06 Jun 2026
By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …
admin
06 Jun 2026
By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …
admin
06 Jun 2026
By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …
admin
06 Jun 2026
By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …
18 Dec 2024 3.119 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
01 Apr 2025 2.165 views
By: Reza Widya Lubis Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, terutama yang berasal dari tradisi Melayu. Kearifan lokal ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari seni, adat istiadat, sastra lisan, hingga filosofi hidup masyarakatnya. Namun, di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan masuknya budaya …
03 Jan 2025 1.584 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
Comments are not available at the moment.