- Esai dan OpiniPentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra
- Esai dan OpiniMengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi
- Esai dan OpiniMenyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi
- Esai dan OpiniPengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra
- Esai dan OpiniPengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

DIMANA PERAN PENDIDIKAN DALAM MENCIPTAKAN GENERASI TANGGUH?
By: Nurul Widya Yolanda Nst, Nur Aisyah Putri
Pendidikan selalu menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban manusia. Ia diyakini sebagai kunci untuk membuka pintu kemajuan suatu bangsa. Namun, di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, muncul pertanyaan besar: apakah pendidikan kita sudah benar-benar menciptakan generasi yang tangguh, atau hanya menghasilkan lulusan yang sekadar menghafal teori dan berburu nilai?
Faktanya, banyak lulusan sekolah maupun perguruan tinggi yang terlihat bingung ketika memasuki dunia nyata. Mereka mungkin lulus dengan predikat cum laude, namun mudah menyerah saat menghadapi tekanan pekerjaan, ketatnya persaingan, dan ketidakpastian masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan akademik saja tidak cukup. Dunia hari ini, bahkan masa depan, membutuhkan manusia yang memiliki ketangguhan mental, keterampilan hidup, serta kemampuan untuk terus beradaptasi (Santrock, 2011).
Sayangnya, sistem pendidikan kita masih terlalu fokus pada pencapaian akademis semata. Pendidikan seringkali diartikan sebagai proses transfer ilmu pengetahuan yang hanya berorientasi pada nilai ujian atau gelar, bukan pembentukan karakter (Kemendikbud, 2017). Akibatnya, siswa dan mahasiswa lebih banyak menghafal materi ketimbang belajar menyelesaikan masalah nyata yang kelak mereka hadapi dalam hidup.
Perluasan Peran Pendidikan
Di sinilah peran pendidikan seharusnya lebih diperluas. Sekolah dan perguruan tinggi tidak lagi cukup menjadi tempat belajar teori. Pendidikan harus menjadi ruang aman untuk menempa karakter, membangun ketangguhan, dan melatih keterampilan hidup (life skills).
Negara-negara maju seperti Finlandia telah lama menerapkan sistem pendidikan berbasis pengalaman. Mahasiswa di sana dilatih untuk menghadapi kegagalan, memimpin proyek nyata, dan membuat keputusan penting. Proses belajar tidak hanya terjadi di kelas, melainkan di dunia nyata yang sesungguhnya jauh lebih menantang (Sahlberg, 2015).
Sebaliknya, di Indonesia, pendekatan seperti ini masih belum maksimal. Kurikulum lebih banyak mengejar capaian kognitif daripada membentuk manusia yang resilien dan adaptif. Padahal, pengalaman gagal, bangkit kembali, dan belajar dari kesalahan adalah proses penting dalam membangun karakter tangguh (Sugihartono, dkk., 2010).
Lihatlah bagaimana negara seperti Jepang, misalnya, yang sejak dini mengajarkan anak-anaknya untuk disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab atas tindakan mereka. Pendidikan karakter dan sikap mental menjadi bagian dari sistem pendidikan mereka, sehingga menghasilkan individu yang tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan (Japan Foundation, 2013).
Saran
- Revisi Kurikulum Pendidikan
Pemerintah bersama lembaga pendidikan perlu merancang kurikulum yang menyeimbangkan antara pembelajaran akademik dan penguatan karakter (Kemendikbud, 2017). Materi tentang keterampilan hidup, pengembangan emosi, dan manajemen diri harus dimasukkan ke dalam sistem pembelajaran formal.
- Memberi Ruang untuk Pengalaman Nyata
Sekolah dan kampus harus memberi ruang lebih luas untuk program magang, proyek sosial, kewirausahaan, serta kegiatan berbasis komunitas. Pengalaman-pengalaman tersebut akan membiasakan peserta didik menghadapi masalah riil, bukan hanya menjawab soal-soal ujian (UNESCO, 2015).
- Membiasakan Budaya Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil
Pendidikan harus mendorong siswa dan mahasiswa untuk berani mencoba dan menghadapi kegagalan tanpa takut disalahkan. Proses pembelajaran harus mengutamakan nilai dari pengalaman dan perjalanan, bukan hanya nilai angka di atas kertas (Nasution, 2021).
- Peran Guru dan Dosen sebagai Mentor
Pendidik bukan hanya pengajar, tetapi pembimbing (mentor). Mereka berperan penting membentuk karakter, mendampingi proses tumbuh kembang peserta didik, serta menciptakan suasana belajar yang aman dan inklusif (Lickona, 2012).
Kesimpulan
Generasi tangguh tidak lahir dari sistem pendidikan yang hanya mengejar nilai akademik. Mereka tumbuh dari lingkungan belajar yang memberi ruang untuk gagal, berkembang, dan menemukan kekuatan diri. Dunia semakin penuh tantangan dan ketidakpastian. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu menghasilkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara mental, emosional, dan sosial.
Pendidikan masa depan bukan sekadar mencetak sarjana, melainkan membentuk pribadi yang siap menghadapi kerasnya realitas kehidupan. Sudah saatnya semua elemen pendidikan, mulai dari pemerintah, sekolah, hingga orang tua, bersama-sama melakukan transformasi pendidikan. Harapan kita adalah menciptakan generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga tangguh, berdaya saing global, dan mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat.
admin
06 Jun 2026
By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …
admin
06 Jun 2026
By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …
admin
06 Jun 2026
By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …
admin
06 Jun 2026
By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …
admin
06 Jun 2026
By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …
admin
06 Jun 2026
By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …
18 Dec 2024 3.119 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
01 Apr 2025 2.165 views
By: Reza Widya Lubis Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, terutama yang berasal dari tradisi Melayu. Kearifan lokal ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari seni, adat istiadat, sastra lisan, hingga filosofi hidup masyarakatnya. Namun, di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan masuknya budaya …
03 Jan 2025 1.584 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
Comments are not available at the moment.