ANTREAN BBM MENGULAR DI SPBU MEDAN: STOK PERTALITE DAN SOLAR LANGKA AKIBAT CUACA BURUK
- account_circle admin
- calendar_month 29/11/2025
- visibility 431
- comment 0 komentar
- label Berita
Kota Medan dalam beberapa hari terakhir dihadapkan pada persoalan serius terkait kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertalite dan solar subsidi (biosolar). Hampir di seluruh wilayah kota, masyarakat mengeluhkan panjangnya antrean di SPBU dan banyaknya titik pengisian BBM yang kehabisan stok. Fenomena ini menjadi sorotan publik karena terjadi berulang dalam beberapa hari berturut-turut dan menghambat aktivitas masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada kendaraan pribadi untuk bekerja dan beraktivitas. Kelangkaan ini bukan hanya memicu kekhawatiran, tetapi juga memunculkan situasi antrean yang mengular hingga ke badan jalan, menyebabkan kemacetan dan ketidakteraturan di sejumlah titik lalu lintas.
Kelangkaan BBM di Medan bukan terjadi karena berkurangnya produksi, melainkan akibat terganggunya distribusi. Berdasarkan laporan resmi Pertamina Patra Niaga, dua kapal pengangkut BBM yang membawa pasokan untuk wilayah Sumatera Utara dan Aceh tidak dapat melakukan bongkar muat di perairan Pelabuhan Belawan karena tingginya gelombang dan angin kencang yang membahayakan proses sandar kapal. Peristiwa ini memaksa kapal menunggu kondisi cuaca membaik demi keselamatan operasional, sehingga distribusi BBM ke depot dan SPBU mengalami keterlambatan signifikan. Selain itu, distribusi darat juga terkendala karena bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumut, sehingga suplai ke SPBU-SPBU tidak dapat dilakukan tepat waktu. Kombinasi gangguan laut dan darat inilah yang menyebabkan energi distribusi tersendat dan masyarakat akhirnya merasakan dampaknya secara langsung.
Situasi di lapangan menjadi semakin pelik ketika kelangkaan membuat masyarakat mulai melakukan pembelian BBM dalam jumlah lebih besar dari biasanya. Di beberapa SPBU, antrean kendaraan roda dua maupun empat tampak mengular sepanjang puluhan hingga ratusan meter. Sementara SPBU yang kehabisan BBM total menjadi pusat pemadatan kendaraan yang hanya ingin memastikan informasi stok. Sebagian warga bahkan rela berkeliling ke beberapa SPBU hanya untuk menemukan bahwa seluruhnya telah kehabisan BBM. Tidak sedikit pula masyarakat yang akhirnya terpaksa membeli BBM dari penjual eceran di pinggir jalan meskipun dengan harga jauh lebih tinggi, bahkan mencapai Rp 15.000 per liter untuk solar subsidi sebuah harga yang sangat membebani terutama untuk para pekerja harian, sopir angkutan, dan ojek online.
Pertamina dalam pernyataannya berupaya menenangkan masyarakat sekaligus meyakinkan bahwa kelangkaan bersifat sementara. Sejumlah langkah mitigasi dilakukan, termasuk skema alih suplai BBM dari terminal lain seperti Lhokseumawe, Siantar, dan Dumai untuk mengisi kekosongan pasokan akibat terhambatnya operasi di Belawan. Penyaluran juga diprioritaskan ke SPBU yang masuk kategori stok kritis agar masyarakat tetap bisa mendapatkan BBM meskipun dalam distribusi bertahap. Pertamina juga mengimbau agar masyarakat tidak melakukan panic buying demi menjaga kestabilan distribusi selama masa pemulihan. Meski demikian, pemulihan diprediksi tidak akan berlangsung sekaligus untuk seluruh SPBU dan akan memerlukan waktu bertahap hingga kondisi laut benar-benar stabil dan distribusi logistik pulih sepenuhnya.
Kelangkaan BBM di Medan menjadi pengingat bahwa ketergantungan masyarakat dan sektor ekonomi terhadap energi distribusi sangat tinggi, serta rentan terganggu oleh faktor cuaca ekstrem dan kondisi alam. Situasi ini memperlihatkan perlunya sistem distribusi energi yang lebih fleksibel dan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi gangguan logistik. Kepanikan dan pembelian berlebihan hanya memperburuk keadaan, sehingga sikap tenang dan penggunaan energi secara bijak sangat dibutuhkan sampai pasokan kembali normal. Harapan masyarakat kini hanya satu: suplai BBM segera pulih dan aktivitas warga kembali berjalan tanpa hambatan berarti. (Refa Dwi Audina, 29/11/2025)

Saat ini belum ada komentar