- Esai dan OpiniPentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra
- Esai dan OpiniMengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi
- Esai dan OpiniMenyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi
- Esai dan OpiniPengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra
- Esai dan OpiniPengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

Menyemai Cinta Bahasa dan Sastra: Fondasi Karakter di Sekolah Dasar
By: Nikita Karin
Bahasa sebagai Alat Berfikir dan Sastra sebagai Jiwa
Bahasa adalah alat berpikir. Kualitas bahasa yang dikuasai seorang anak akan menentukan kualitas berpikirnya. Di SD, pembelajaran bahasa seharusnya tidak hanya terpaku pada tata bahasa yang kaku, melainkan pada kemampuan mengekspresikan gagasan secara logis dan santun. Namun, aspek sastra memiliki fungsi yang bahkan lebih mendalam. Sastra menyediakan ruang bagi anak untuk berimajinasi, merasakan emosi orang lain (empati), dan memahami kompleksitas masalah manusia melalui cerita.
Menurut Nurgiyantoro (2018), sastra anak memiliki potensi besar untuk mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual. Ketika siswa SD membaca cerita tentang persahabatan atau kejujuran, mereka tidak hanya menghafal moral cerita, tetapi menginternalisasi nilai tersebut melalui pengalaman imajinatif. Oleh karena itu, memisahkan pembelajaran bahasa dari sastra adalah sebuah kesalahan pedagogis. Keduanya harus berjalan beriringan; bahasa sebagai wahana, dan sastra sebagai muatan nilai.
a. Kelebihan (Strengths)
Internalisasi nilai moral yang halus, sastra (dongeng, cerita rakyat, puisi anak) menyajikan nilai moral tidak secara menggurui, melainkan melalui kisah dan tokoh. Anak SD berada pada tahap operasional konkret, sehingga meneladani tokoh baik dalam cerita lebih efektif daripada sekadar hafalan aturan. Penguatan identitas dan nasionalisme, melalui sastra daerah dan bahasa Indonesia, siswa diperkenalkan pada kearifan lokal. Ini menjadi fondasi karakter cinta tanah air sejak dini, sesuai dengan tujuan Profil Pelajar Pancasila. Pengembangan empati dan kecerdasan emosional, membaca sastra memungkinkan siswa “masuk” ke dalam perasaan tokoh lain. Ini melatih empati, rasa peduli, dan kemampuan memahami perspektif orang lain, yang merupakan inti dari karakter sosial. Menstimulasi imajinasi dan kreativitas, frasa “Menyemai Cinta” mengimplikasikan pendekatan yang menyenangkan. Sastra membuka ruang imajinasi yang luas, yang penting untuk perkembangan kognitif anak usia dasar dan mendorong berpikir kreatif (divergen). Peningkatan keterampilan berkomunikasi, fondasi karakter juga mencakup kemampuan menyampaikan pendapat dengan santun. Pembelajaran bahasa yang baik mengajarkan siswa bagaimana berargumen dan berkomunikasi secara efektif dan etis.
b. Kelemahan (Weaknesses)
Dominasi pendekatan teknis-gramatikal, di lapangan pembelajaran bahasa Indonesia di SD sering kali terjebak pada hafalan tata bahasa, ejaan, dan persiapan ujian (kognitif semata). Hal ini membunuh “cinta” terhadap sastra dan membuat pelajaran terasa membosankan. Keterbatasan kompetensi guru, tidak semua guru SD memiliki latar belakang atau minat yang kuat terhadap sastra. Akibatnya, metode pengajaran sering kali monoton (hanya membaca teks dalam hati dan menjawab pertanyaan), gagal menyentuh aspek emosional siswa. Minimnya bahan ajar sastra anak yang kontekstual, banyak buku bacaan di sekolah kurang relevan dengan dunia anak masa kini atau didominasi oleh terjemahan asing. Kurangnya sastra anak Indonesia yang berkualitas dan mudah diakses menghambat proses penyemaian karakter berbasis kearifan lokal. Tantangan era digital, perhatian siswa SD saat ini terpecah oleh gawai dan konten video singkat. Membangun kecintaan pada membaca teks sastra (yang membutuhkan fokus panjang) menjadi tantangan berat dibandingkan dengan hiburan instan. Kesulitan dalam asesmen karakter, mengukur keberhasilan “fondasi karakter” jauh lebih sulit daripada mengukur nilai ujian bahasa. Sifat karakter yang abstrak sering kali luput dari penilaian rapor, sehingga dianggap kurang prioritas oleh sekolah atau orang tua.
c. Opini: Realitas Pembelajaran di Lapangan
Menurut pengamatan dan opini penulis, terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara harapan kurikulum dan realitas di lapangan mengenai pembelajaran bahasa dan sastra di SD. Beberapa poin kritis yang perlu disoroti adalah dominasi pendekatan teknis, banyak guru masih terjebak pada pendekatan struktural yang menekankan pada kebenaran ejaan dan tata bahasa daripada keberanian berekspresi. Anak sering kali takut salah menulis sehingga enggan berkarya. Hal ini membunuh kreativitas sejak dini. Minimnya apresiasi sastra daerah, Indonesia kaya akan sastra lisan dan tulis daerah. Namun, di banyak SD, muatan lokal ini sering kali tidak terintegrasi dengan baik dalam pembelajaran bahasa. Akibatnya, generasi muda mulai kehilangan koneksi dengan akar budaya mereka sendiri. Tantangan literasi digital, kehadiran gawai memang memudahkan akses informasi, namun konten yang dikonsumsi anak-anak SD cenderung bersifat instan dan kurang berbobot secara sastra. Budaya membaca buku cerita berganti dengan budaya menonton video pendek yang tidak melatih imajinasi teks.
d. Solusi dan Harapan Kedepan
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penulis berpendapat bahwa diperlukan transformasi metode pembelajaran. Pertama, guru harus bertindak sebagai model literasi. Guru yang gemar membaca dan bercerita akan menularkan semangat yang sama kepada siswanya. Metode storytelling (bercerita) harus dihidupkan kembali kelas-kelas rendah sebagai jembatan menuju budaya baca. Kedua, pembelajaran harus kontekstual. Materi bahasa dan sastra harus dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Misalnya, meminta siswa menulis puisi tentang lingkungan sekolah mereka atau mendongeng tentang legenda setempat. Hal ini membuat pembelajaran menjadi relevan dan menyenangkan. Ketiga, sekolah perlu berkolaborasi dengan komunitas literasi atau perpustakaan daerah untuk menyediakan bahan bacaan yang berkualitas. Buku-buku sastra anak yang menarik secara visual dan naratif harus tersedia mudah dijangkau oleh siswa.
admin
06 Jun 2026
By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …
admin
06 Jun 2026
By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …
admin
06 Jun 2026
By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …
admin
06 Jun 2026
By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …
admin
06 Jun 2026
By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …
admin
06 Jun 2026
By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …
18 Dec 2024 3.119 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
01 Apr 2025 2.165 views
By: Reza Widya Lubis Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, terutama yang berasal dari tradisi Melayu. Kearifan lokal ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari seni, adat istiadat, sastra lisan, hingga filosofi hidup masyarakatnya. Namun, di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan masuknya budaya …
03 Jan 2025 1.584 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
Comments are not available at the moment.