- Esai dan OpiniPembelajaran Literasi Di Sekolah Dasar Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Karakter Siswa
- Esai dan OpiniPembelajaran Sastra Dan Bahasa Di Sekolah Dasar: Perspektif Para Ahli Pendidikan
- Esai dan OpiniMenurunnya Kemampuan Menulis Siswa di Era Digital
- Esai dan OpiniStrategi Cerdas Menggunakan Presentation Script untuk Mengasah Kemampuan Menyimak Siswa di Era Modern
- Esai dan OpiniBahasa di Ujung Jari: Cara Cerdas Belajar di Era Digital

Antara Gadget dan Buku: Menelusuri Penyebab Rendahnya Minat Baca yang Menghambat Kemampuan Berbahasa Anak
By: Hershanda Sri Davina
Di era digital saat ini, banyak anak lebih tertarik melihat layar gadget daripada membuka halaman buku. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk membaca sering kali habis untuk bermain game, menonton video, atau menggunakan media sosial. Minat baca memiliki peran penting dalam perkembangan kemampuan berbahasa anak, terutama pada usia sekolah dasar. Dengan membaca, anak dapat memperkaya kosakata, memahami struktur bahasa, serta mengembangkan kemampuan menulis dan berbicara. Namun, kenyataannya minat baca anak di Indonesia masih tergolong rendah. Banyak siswa SD yang belum terbiasa membaca buku di luar tugas sekolah. Salah satu faktor yang sering disebut sebagai penyebabnya adalah penggunaan gadget yang semakin tinggi pada anak. Jika tidak diimbangi dengan kebiasaan membaca, hal ini dapat berdampak pada kemampuan berbahasa anak.
Oleh karena itu, rendahnya minat baca pada anak sekolah dasar di Indonesia dipengaruhi oleh penggunaan gadget yang berlebihan, kurangnya kebiasaan membaca di lingkungan keluarga, serta terbatasnya budaya literasi di sekolah yang pada akhirnya menghambat perkembangan kemampuan berbahasa anak.
Salah satu penyebab rendahnya minat baca anak adalah penggunaan gadget yang berlebihan. Banyak anak lebih tertarik pada hiburan digital seperti game dan video dibandingkan membaca buku. Konten di gadget biasanya bersifat visual dan cepat sehingga lebih mudah menarik perhatian anak. Akibatnya, anak menjadi kurang terbiasa membaca teks yang lebih panjang seperti cerita atau buku pelajaran. Contoh nyata dapat dilihat pada beberapa siswa sekolah dasar di Indonesia yang lebih sering menghabiskan waktu setelah pulang sekolah dengan bermain game di ponsel. Ketika guru meminta mereka membaca cerita pendek atau menulis karangan sederhana, sebagian siswa mengalami kesulitan karena kurang terbiasa membaca. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan gadget tanpa pengawasan dapat mengurangi kebiasaan membaca pada anak.
Selain itu, kebiasaan ini juga memengaruhi kemampuan bahasa anak. Misalnya Penggunaan Bahasa “Gamer” di Kelas, Anak-anak sering menggunakan istilah dari game online (seperti Roblox, Mobile Legends, atau Free Fire) dalam percakapan formal atau tugas menulis. Contoh: Seorang anak menulis di tugasnya, “Kemarin saya mabar sama teman dan kita mabar sampai menang.” atau menggunakan kata “Afk”, “Noob”, dan “Toxic” saat berbicara dengan guru tanpa memahami bahwa kata tersebut tidak sopan atau tidak baku. Anak yang jarang membaca biasanya memiliki kosakata yang lebih terbatas dibandingkan anak yang sering membaca buku.
Selain gadget, faktor lingkungan keluarga juga sangat memengaruhi minat baca anak. Anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang jarang membaca biasanya tidak memiliki contoh kebiasaan membaca. Orang tua yang lebih sering memberikan gadget kepada anak sebagai hiburan juga dapat membuat anak semakin jauh dari buku. Contohnya, banyak orang tua yang memberikan ponsel kepada anak agar anak tidak rewel atau agar lebih mudah diawasi di rumah. Akibatnya, anak lebih terbiasa bermain game daripada membaca buku cerita. Padahal, jika sejak kecil anak dibiasakan membaca bersama orang tua, minat baca mereka dapat berkembang dengan baik. Kebiasaan membaca di rumah sebenarnya dapat membantu meningkatkan kemampuan berbahasa anak. Anak yang sering mendengar cerita atau membaca buku biasanya lebih mudah memahami kata-kata baru dan lebih percaya diri dalam berbicara.
Faktor lain yang memengaruhi rendahnya minat baca adalah budaya literasi di sekolah yang belum maksimal. Meskipun banyak sekolah telah memiliki perpustakaan, tidak semua siswa memiliki kebiasaan untuk memanfaatkannya. Kegiatan membaca sering kali hanya dilakukan ketika ada tugas dari guru. Sebagai contoh, beberapa siswa sekolah dasar hanya membaca buku saat pelajaran berlangsung. Ketika waktu istirahat, mereka lebih memilih bermain atau menggunakan gadget daripada pergi ke perpustakaan. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca belum menjadi budaya yang kuat di sekolah.
Oleh karena itu, sekolah perlu menciptakan kegiatan literasi yang menarik, seperti membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, membuat pojok baca di kelas, atau mengadakan kegiatan bercerita. Kegiatan-kegiatan ini dapat membantu menumbuhkan minat baca sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa siswa.
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa rendahnya minat baca anak sekolah dasar di Indonesia dipengaruhi oleh penggunaan gadget yang berlebihan, kurangnya dukungan dari lingkungan keluarga, serta budaya literasi di sekolah yang belum berkembang secara optimal. Penggunaan gadget yang tidak terkontrol membuat anak lebih tertarik pada hiburan digital daripada membaca buku. Selain itu, kurangnya kebiasaan membaca di rumah juga menyebabkan anak tidak terbiasa berinteraksi dengan buku. Di sisi lain, sekolah juga perlu meningkatkan kegiatan literasi agar siswa lebih tertarik untuk membaca. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara orang tua, guru, dan sekolah untuk menumbuhkan kembali minat baca pada anak. Jika anak terbiasa membaca sejak dini, kemampuan berbahasa mereka akan berkembang lebih baik, sehingga mereka dapat belajar dan berkomunikasi dengan lebih percaya diri di masa depan.
admin
26 Apr 2026
By: Rachel Fairus Mumtaz Sebagai calon guru Sekolah Dasar, saya menyadari bahwa proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir serta pembentukan karakter peserta didik. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa untuk aktif, kreatif, dan reflektif. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang secara …
admin
26 Apr 2026
By: Nurul Fadila Putri HAKIKAT DAN TUJUAN PEMBELAJRAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR Pembelajaran sastra di sd memiliki hakikat yang berbeda dengan pembelajaran sastra di jenjang yang lebih tinggi. Menurut Saxby dalam Nurgiyanto (2013), sastra anak adalah karya sastra yang secara emosional dan psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak-anak yang bersumber dari pengalaman emosional …
admin
26 Apr 2026
By: Gledy Sintya Situmorang Perkembangan teknologi digital menyebabkan perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Kemudahan akses informasi melalui internet, media sosial, dan berbagai aplikasi komunikasi memberikan dampak positif sekaligus negatif. Salah satu dampak negatif yang terlihat adalah menurunnya kemampuan menulis siswa, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal …
admin
26 Apr 2026
By: Nurhanisa Lubis Dalam pembelajaran bahasa, keterampilan menyimak merupakan fondasi utama yang mendukung kemampuan berbicara, membaca, dan menulis. Namun, pada praktiknya, banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang disampaikan secara lisan. Hal ini sering disebabkan oleh kurangnya fokus, metode pembelajaran yang monoton, serta penyampaian materi yang tidak terstruktur. Kondisi tersebut menuntut adanya inovasi …
admin
26 Apr 2026
By: Endah Nur Hafizah Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa. Saat ini, belajar bahasa tidak lagi terbatas pada buku dan ruang kelas. Dengan adanya internet dan berbagai aplikasi digital, siapa pun dapat belajar bahasa kapan saja dan di mana saja. Namun, kemudahan ini sering kali tidak …
admin
26 Apr 2026
By: Delfi Nanda Azmita Minat baca adalah salah satu bagian penting dalam keberhasilan suatu pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Namun yang terjadi di Indonesia, minat baca masyarakat tergolong sangat rendah. Kondisi ini menjadi perhatian yang cukup serius karena kemampuan membaca sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam memahami informasi, berpikir kritis, dan juga mengembangkan …
18 Dec 2024 2.790 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
01 Apr 2025 1.736 views
By: Reza Widya Lubis Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, terutama yang berasal dari tradisi Melayu. Kearifan lokal ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari seni, adat istiadat, sastra lisan, hingga filosofi hidup masyarakatnya. Namun, di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan masuknya budaya …
03 Jan 2025 1.447 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
Comments are not available at the moment.