Home » Berita » Pengembangan Menyimak / Storytelling

Pengembangan Menyimak / Storytelling

admin 30 May 2026 58

By: Nikita Karin, Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia memiliki empat keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Di antara keempat keterampilan tersebut, menyimak merupakan keterampilan pertama yang dikuasai manusia sejak lahir, namun ironisnya justru paling sering diabaikan dalam proses pembelajaran di sekolah.

Salah satu metode yang dianggap efektif dalam mengembangkan keterampilan menyimak adalah storytelling atau bercerita. Metode ini tidak hanya melatih kemampuan mendengarkan secara aktif, tetapi juga membangun imajinasi, empati, dan kecintaan siswa terhadap karya sastra. Namun demikian, penerapan storytelling dalam pembelajaran tidak terlepas dari berbagai tantangan dan permasalahan yang perlu dicermati secara kritis.

Menyimak bukan sekadar mendengar. Menyimak adalah proses aktif dalam memahami, menginterpretasi, dan mengevaluasi pesan yang disampaikan oleh pembicara. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, menyimak menjadi fondasi penting dalam membangun pemahaman berbahasa siswa secara menyeluruh.

Sementara itu, storytelling adalah seni menyampaikan cerita secara lisan dengan menggunakan ekspresi, intonasi, gestur, dan alur yang menarik. Dalam dunia pendidikan, storytelling dijadikan sebagai media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi siswa, terutama di jenjang sekolah dasar dan menengah.

Kelebihan

Meningkatkan konsentrasi dan daya simak siswa, ketika guru atau narasumber menyampaikan cerita dengan menarik, siswa secara alami terdorong untuk fokus dan memperhatikan setiap detail cerita. Hal ini secara langsung melatih kemampuan konsentrasi dan daya simak mereka. Membangun imajinasi dan kreativitas, storytelling mengajak siswa membayangkan tokoh, latar, dan alur cerita dalam pikiran mereka sendiri. Proses ini merangsang otak untuk berpikir kreatif dan imajinatif tanpa bergantung pada layar atau gambar. Menanamkan nilai moral dan karakter, cerita-cerita dalam sastra Indonesia kaya akan nilai moral, kearifan lokal, dan pesan kehidupan. Melalui storytelling, nilai-nilai tersebut tersampaikan secara natural tanpa terkesan menggurui siswa. Meningkatkan kemampuan berbahasa secara menyeluruh, menyimak cerita secara aktif membantu siswa memperkaya kosakata, memahami struktur kalimat, serta meningkatkan kemampuan berbicara dan menulis mereka secara tidak langsung. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, storytelling mengubah suasana kelas menjadi lebih hidup, interaktif, dan menyenangkan. Siswa tidak merasa tertekan karena belajar dilakukan dalam nuansa yang santai namun tetap bermakna.

Kekurangan

Keterbatasan kemampuan guru, tidak semua guru memiliki kemampuan bercerita yang baik. Storytelling yang efektif membutuhkan keterampilan khusus seperti olah vokal, ekspresi wajah, penguasaan cerita, dan kemampuan membangun suasana. Tanpa bekal ini, metode ini justru bisa menjadi membosankan. Minimnya pelatihan dan pengembangan kompetensi, di banyak sekolah, terutama di daerah terpencil, pelatihan guru terkait metode storytelling masih sangat terbatas. Guru lebih sering menggunakan metode ceramah konvensional karena lebih mudah dan tidak memerlukan persiapan khusus. Kurangnya penilaian yang terstruktur, keterampilan menyimak sulit diukur secara objektif. Tidak seperti membaca atau menulis yang hasilnya dapat dilihat secara langsung, hasil menyimak sering kali hanya diuji melalui tes lisan atau pertanyaan singkat yang kurang komprehensif. Keterbatasan waktu pembelajaran, kurikulum yang padat membuat guru kesulitan mengalokasikan waktu yang cukup untuk kegiatan storytelling yang memadai. Akibatnya, metode ini sering dikesampingkan demi mengejar target materi. Pengaruh teknologi dan media digital, di era digital perhatian siswa banyak tersita oleh konten video pendek, game, dan media sosial. Hal ini membuat kemampuan menyimak secara mendalam semakin menurun karena siswa terbiasa dengan konten yang cepat dan instan.

Opini

Berbicara tentang pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, saya memiliki keyakinan kuat bahwa keterampilan menyimak selama ini masih menjadi “anak tiri” di antara empat keterampilan berbahasa yang ada. Guru lebih sibuk mengejar target membaca dan menulis, sementara menyimak seolah dianggap akan berkembang dengan sendirinya tanpa perlu diajarkan secara serius. Padahal justru di sinilah letak permasalahan yang sesungguhnya.

Namun, banyak guru yang enggan menggunakan metode ini bukan karena tidak mau, melainkan karena tidak percaya diri. Mereka merasa tidak memiliki bakat bercerita, tidak tahu cerita apa yang harus dibawakan, atau khawatir siswa tidak merespons dengan baik. Ini bukan kesalahan guru semata – ini adalah cermin dari sistem pelatihan tenaga pendidik kita yang belum cukup membekali guru dengan keterampilan pedagogi yang kreatif.

Saya percaya, ketika seorang anak belajar menyimak dengan sungguh-sungguh melalui cerita yang menyentuh hati, ia tidak hanya belajar bahasa. Ia sedang belajar menjadi manusia yang lebih peka, lebih bijak, dan lebih mencintai budayanya sendiri.

Solusi dan Harapan Kedepan

Menyimak dan storytelling sejatinya adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling menghidupkan satu sama lain. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa keduanya masih belum mendapat perhatian yang serius dalam dunia pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan solusi nyata sekaligus harapan besar agar kondisi ini dapat berubah ke arah yang lebih baik.

Solusi pertama dan paling mendasar adalah meningkatkan kemampuan guru dalam bercerita. Pemerintah melalui dinas pendidikan perlu menyelenggarakan pelatihan dan workshop storytelling secara berkala dan merata, tidak hanya di kota besar tetapi juga hingga ke pelosok daerah. Harapannya, setiap guru Bahasa Indonesia ke depan tidak hanya mampu mengajar secara tekstual, tetapi juga mampu menjadi pencerita yang hidup dan menginspirasi di hadapan siswanya.

Selama ini storytelling hanya disisipkan sebagai metode tambahan yang tidak wajib. Sudah saatnya metode ini dimasukkan secara resmi ke dalam struktur kurikulum Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai bagian dari kompetensi dasar yang harus dicapai. Harapannya, pembelajaran menyimak tidak lagi dianggap remeh, melainkan menjadi keterampilan utama yang dinilai dan dikembangkan secara serius dari jenjang sekolah dasar hingga menengah.

Pada akhirnya, membangun keterampilan menyimak melalui storytelling bukan hanya tentang metode pembelajaran semata. Ini adalah tentang bagaimana kita membentuk generasi Indonesia yang mampu mendengarkan dengan hati, berpikir dengan jernih, dan berempati dengan sesama. Harapan terbesar adalah lahirnya generasi emas Indonesia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya secara nilai, karakter, dan kecintaan terhadap bahasa serta sastra bangsanya sendiri.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pengembangan Membaca Permulaan Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

admin

30 May 2026

By: Khairunnisa Sihotang, Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang paling fundamental dalam kehidupan manusia modern. Kemampuan membaca tidak lahir secara alamiah, melainkan harus dipelajari dan dibimbing secara sistematis sejak usia dini. Dalam konteks pendidikan formal di Indonesia, pengajaran membaca dimulai dari tahap yang paling awal yang dikenal dengan istilah membaca permulaan (beginning reading). Membaca permulaan …

DOSEN UMN AL-WASHLIYAH GELAR PELATIHAN INTEGRASI NILAI TATA KRAMA DALAM PEMBELAJARAN DI MTS USWATUN HASANAH BINJAI

admin

08 Feb 2026

Binjai — Dosen Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah, M. Faisal Husna, S.Sos., S.Pd., M.H., melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Pelatihan Guru dalam Integrasi Nilai Tata Krama ke dalam Pembelajaran di MTs Uswatun Hasanah Binjai, Sabtu (13/12/2025). Kegiatan ini diikuti oleh para guru MTs Uswatun Hasanah Binjai dan berlangsung dengan antusias. Kegiatan pengabdian tersebut …

DOSEN UMN AL-WASHLIYAH LAKSANAKAN PENGABDIAN MASYARAKAT DI SMAS UNGGULAN UMMU RAHMAH PATUMBAK

admin

06 Feb 2026

Patumbak — Tim dosen Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SMAS Unggulan Ummu Rahmah Patumbak, Desa Patumbak Kampung, Kecamatan Patumbak, pada Selasa, 3 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 12 orang guru SMAS dan disambut langsung oleh Kepala Sekolah, Nazra Indrawati, S.E., M.Pd. Pengabdian masyarakat ini mengusung penguatan kapasitas guru …

PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS BIKIN BELAJAR SISWA MAKIN FOKUS

admin

25 Jan 2026

Jakarta, 1 Desember 2025 — Beberapa sekolah sekarang mulai ngerasain manfaat dari program Makan Bergizi Gratis yang baru aja jalan minggu ini. Program ini dibuat supaya siswa bisa belajar lebih fokus karena kebutuhan makan mereka sudah terpenuhi. Banyak guru dan orang tua yang senang karena anak-anak jadi lebih siap mengikuti pelajaran. Di sekolah-sekolah yang ikut …

PULIHKAN SEMANGAT BELAJAR ANAK PASCABANJIR, UMN AL-WASHLIYAH GELAR PENGABDIAN NASIONAL DI ACEH TAMIANG

admin

21 Jan 2026

Aceh Tamiang — Tim dosen Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah Medan melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Nasional di Lembaga Bimbingan Belajar SANG JUARA, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (14/1/2026). Kegiatan ini menyasar anak-anak dan masyarakat yang terdampak banjir besar yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Mengusung tema “Pemulihan dan Penguatan Pendidikan …

BANGUN DUNIA AMAN DI RANAH DIGITAL: MAHASISWA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA GAUNGKAN ANTI-BULLYING BERBASIS DIGITAL DI SMP DHARMA PANCASILA MEDAN

admin

09 Dec 2025

Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) kelompok 39 Anti Perundungan menyelenggarakan kegiatan edukasi bertema “Game Tanpa Bully” di SMP Dharma Pancasila Medan pada Sabtu, (1/11/2025). Kegiatan ini didampingi oleh Merry Alfrida Sitepu, S.H., M.Kn selaku dosen pembimbing dan Arbiahtul Insani Lubis selaku mentor. Kelompok 39 ‘anti perundungan yang terdiri dari 20 mahasiswa-mahasiswi dari berbagai fakultas dan …