Home » Esai dan Opini » Efek Mayoritas dalam Normalisasi Penyimpangan

Efek Mayoritas dalam Normalisasi Penyimpangan

admin 04 Nov 2025 322

By: Jun Anas’Ash Ritonga. Manusia seringkali menghadapi ketidakpastian antara benar dan salah dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu diciptakanlah aturan berupa hukum maupun norma berdasarkan nilai moral yang ada. Aturan diciptakan sebagai pembatas bagi perilaku manusia untuk menjaga ketertiban dan keteraturan. Perilaku mayoritas dalam masyarakat menjadi faktor penting supaya aturan tetap berjalan sebagaimanamestinya.

Dalam psikologi sosial, ada sebuah konsep yang dinamakan Konformitas. Menurut Robert A. Baron dan Donn Byrne yang merupakan tokoh psikolog sosial, Konformitas adalah perubahan sikap dan tingkah laku agar sesuai dengan norma sosial yang ada. Ini menandakan bahwa perilaku seseorang dapat berubah dikarenakan norma yang ada dalam suatu kelompok sosial. Hal ini merupakan hal positif apabila mayoritas dalam kelompok sosial tersebut secara patuh melaksanakan norma dan aturan yang ada. Begitu juga sebaliknya, apabila mayoritas dalam kelompok sosial tersebut seringkali melanggar aturan maka timbullah kekhawatiran bahwa penyimpangan akan ternormalisasikan. Perilaku mayoritas secara tidak langsung menarik individu tertentu satu demi satu dan memunculkan rasa aman bagi mereka untuk melakukan hal yang sama meskipun itu tidak sesuai aturan yang akibatnya terciptalah suatu pembenaran sosial.

Seorang psikolog sosial terkenal, Solomon Asch, pada tahun 1951 pernah melakukan eksperimen untuk mengetahui seberapa besar pengaruh mayoritas terhadap individu. Dia meminta sekelompok orang untuk membandingkan panjang garis antara 2 gambar dimana pada gambar pertama terdapat 1 garis sebagai referensi dan gambar lain terdapat 3 garis yang panjangnya berbeda. Tugasnya hanya menjawab secara verbal garis mana pada gambar kedua yang sama panjangnya dengan garis pada gambar pertama.

Ada 8 orang dalam 1 kelompok eksperimen dimana hanya 1 orang yang menjadi subjeknya sedangkan 7 orang lain berperan sebagai aktor. Setiap orang menjawab satu persatu dan subjek telah diatur agar menjadi orang terakhir yang menjawab. Para aktor telah diberi instruksi untuk menjawab dengan salah sebanyak 12 kali dari 18 perbandingan. Hasilnya adalah dari 50 percobaan, 13 orang konsisten secara keseluruhan pada jawaban yang benar, 31 orang terpengaruh pada beberapa jawaban salah, dan 6 orang hampir secara keseluruhan terpengaruh pada jawaban salah. Ini artinya 37 dari 50 subjek pernah setidaknya sekali terpengaruh oleh jawaban salah yang diberikan oleh para aktor sebagai kelompok mayoritas.

Asch membagi alasan fenomena ini terjadi menjadi tiga berdasarkan pengakuan dalam hasil wawancara terhadap 37 subjek yang cenderung terpengaruh pada jawaban mayoritas: (1) Distorsi Persepsi, subjek yang benar-benar percaya bahwa jawaban mayoritas adalah benar; (2) Distorsi Penilaian, subjek yang setelah beberapa kali perbandingan menjadi tidak yakin dengan jawabannya sehingga akhirnya mengikuti jawaban kelompok mayoritas; dan (3) Distorsi Tindakan, subjek yang sadar bahwa jawaban kelompok mayoritas itu salah namun tetap mengikutinya hanya karena tidak ingin tampak berbeda. Eksperimen ini menjadi bukti kecil bagaimana penyimpangan bisa mempengaruhi individu tertentu. Akibatnya adalah perilaku apapun yang hanya karena dilakukan oleh banyak orang cenderung dianggap benar walau sebenarnya salah.

Fenomena nyata paling sederhana terkait pembahasan ini dapat dilihan di jalan raya. Pengendara seringkali tetap menerobos lampu merah ketika tidak ada kendaraan dari arah lain. Beberapa pengendara yang tidak pernah melanggar lalu lintas terpengaruh untuk ikut menerobos begitu melihat 4 atau 5 kendaraan menerobos secara serentak. Akibatnya, orang yang awalnya ragu menerobos lampu merah untuk pertama kalinya akan menjadi orang pertama yang menerobos lampu merah di lain hari dan mempengaruhi pengendara lain. Rantai kebiasaan inilah yang menjadikan penyimpangan menjadi ternormalisasikan. Dampaknya secara berkepanjangan adalah hilangnya rasa bersalah terhadap perilaku yang jelas-jelas salah.

Begitu juga dalam lingkungan keluarga, orang tua yang mengizinkan anaknya yang masih sekolah menggunakan kendaraan pribadi tanpa SIM atas dasar keefesienan dalam kebutuhan anak untuk pergi-pulang sekolah serta menghemat uang dari penggunaan kendaraan umum. Dalam hal ini, orangtua tersebut secara tidak langsung mengajarkan anaknya untuk melanggar aturan apabila didasari oleh kebutuhan yang mana sebenarnya tetap salah.

Fenomena ini juga dapat ditemukan dalam dunia pendidikan seperti budaya menyontek, kebiasaan yang hanya membaca bahan presentasi tanpa penjelasan lebih lanjut, manipulasi daftar hadir, joki tugas dan banyak hal lainnya. Beberapa peserta didik yang awalnya jujur juga terpengaruh untuk mengikuti kebiasaan buruk tersebut hanya karena dianggap terlalu kaku dan mengganggu kenyaman kelompok. Akibatnya, nilai integritas terkikis karena didominasi oleh pengaruh kebiasaan buruk mayoritas.

Fenomena ini bahkan terjadi dalam konteks keagaaman, contohnya beberapa umat Islam yang secara terang-terangan mewajarkan hubungan antara lawan jenis sebelum pernikahan atau yang biasa dikenal dengan pacaran. Normalisasi ini dilakukan dengan kesadaran penuh bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan ajaran agama namun tetap dilakukan secara terbuka karena hal tersebut telah dilakukan oleh banyak orang. Akibatnya, keyakinan dan perbuatan tidak sejalan yang akhirnya berujung ke kemunafikan.

Dalam psikologi sosial, ada beberapa fenomena pengaruh sosial yang juga menegaskan seberapa kuat efek mayoritas dalam normalisasi penyimpangan: (1) Peer Pressure, merupakan tekanan sosial dari lingkungan sebaya dimana seseorang lebih memilih untuk menyesuaikan diri dengan kelompok walau harus melanggar prinsipnya sendiri atas dasar konsekuensi sosial berupa cibiran maupun pengucilan yang dapat terjadi apabila menolak untuk ikut; (2) Desensitisasi Moral, merupakan proses hilangnya kepekaan seseorang secara bertahap terhadap kesalahan dikarenakan sering menyaksikan penyimpangan yang terlihat tanpa konsekuensi sehingga sadar atau tidak sadar menganggap penyimpangan tersebut adalah hal yang wajar; (3) Justifikasi Sosial, merupakan pembenaran kesalahan atas dasar banyaknya orang yang juga melakukan hal serupa dan digunakan sebagai pertahanan diri untuk menghilangkan rasa bersalah.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra

admin

06 Jun 2026

By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …

Mengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi

admin

06 Jun 2026

By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …

Menyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi

admin

06 Jun 2026

By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …

Pengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra

admin

06 Jun 2026

By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …

Pengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

admin

06 Jun 2026

By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …

Pengembangan Kemampuan Berbicara sebagai Dasar Komunikasi Efektif

admin

06 Jun 2026

By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …