- Esai dan OpiniPembelajaran Literasi Di Sekolah Dasar Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Karakter Siswa
- Esai dan OpiniPembelajaran Sastra Dan Bahasa Di Sekolah Dasar: Perspektif Para Ahli Pendidikan
- Esai dan OpiniMenurunnya Kemampuan Menulis Siswa di Era Digital
- Esai dan OpiniStrategi Cerdas Menggunakan Presentation Script untuk Mengasah Kemampuan Menyimak Siswa di Era Modern
- Esai dan OpiniBahasa di Ujung Jari: Cara Cerdas Belajar di Era Digital

Fenomena Sosial: Adiksi Gawai, Penerapan Screentime Pada Anak
By: Rizky Aulia Handika. Dalam beberapa tahun terakhir kita dikejutkan dengan banyak munculnya inovasi dalam bidang teknologi, hampir seluruh generasi baik, generasi baby boomer sampai generasi Z terpapar dengan perkembangan teknologi yang cukup masif ini. Para ahli menyebut era ini sebagai era disrupsi ditandai dengan banjirnya informasi (flood of information) dan perpindahan masif dari analog menuju digital, contohnya saja sangat sedikit sekali yang membaca koran dewasa ini, hampir semua orang menggunakan gawai bahkan di kalangan kelas bawah sekalipun. Era ini sudah tidak dapat dihindari lagi dan telah menjadi keniscayaan modernitas karena apabila dihindari maka yang terjadi adalah rasa fear of missing out, kurang update dan ketinggalan zaman.
A DOUBLE-EDGED SWORD
Di satu sisi membawa tantangan peradaban, di sisi lain membawa petaka, begitulah teknologi ibarat pisau bermata dua apabila tidak digunakan untuk kemajuan manusia sebaik mungkin bisa jadi tanpa sadar akan membawa kehancuran manusia itu sendiri. Penulis sendiri termasuk yang merasa semakin sering kita bersentuhan dengan teknologi semakin hilang kemampuan bertahan hidup (survivability) kita misalnya, semakin ketergantungan manusia dengan ciptaannya sendiri, semakin tidak mampu mengendalikan waktu dan tertawan oleh dopamine yang dihasilkan dari kebanyakan bermain gawai. Tentu dalam pemanfaatan teknologi, manusia dituntut untuk sadar dan mindful dalam penggunaannya. Tidak sampai ketergantungan dan kelewat batas.
Tak jarang kita dengar berita -yang tentu tidak lagi kita akses melalui koran- di Kediri, dimana seorang ibu mengaku terperanjat ketika ia mendapat tagihan pembayaran online sebesar 11 juta dalang dari anaknya yang baru berusia 12 tahun yang ketagihan bermain sejumlah permainan online yang menggunakan akun playstore ayahnya. Itu masih mending, karena di tempat lain tepatnya di Subang Jawa Barat, siswa SMP kelas 1 meninggal diduga penyebabnya karena kecanduan game setelah didiagnosa mengalami gangguan syaraf terindikasi radiasi dari telepon seluler. Tidak perlu jauh-jauh misalnya di keluarga kita saja, yang sudah menjadi fenomena sehari-hari kita dimana tak jarang kita mendengar keluhan dari orang tua, guru, orang dewasa pada umumnya terhadap perilaku anak yang semakin sulit untuk diatur miris ketika anak-anak selalu diberi gratifikasi dengan memegang hp agar tidak merengek dan menangis, padahal orang tua tahu betul bukan saat bagi anak umur 5-12 tahun untuk mengakses hp bahkan memegangnya, penulis merasa secara instingtif tergerak untuk melakukan riset kecil-kecilan mengenai fenomena ini. Tentu ini bukan tema atau permasalahan baru dalam dunia pendidikan, tentu telah ada yang membuka jalan tentang riset mengenai fenomena ini.
GADGET ADDICTION
Sekarang pertanyaannya apa itu adiksi? Secara etimologi berasal dari bahasa inggris addiction yang berarti secara harfiah ketagihan atau kecanduan, dalam dunia media ini termasuk penyakit, begitu juga dalam psikologi itu termasuk sebuah penyimpangan kejiwaan. Gejala adiksi dapat mencakup penggunaan yang terus menerus tanpa memperhatikan konsekuensi, mengabaikan keuangan dan tanggung jawab lainnya, upaya yang gagal untuk berhenti dan turunnya fungsi sosial.
Gadget addiction atau adiksi gawai adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan penggunaan yang sangat berlebihan pada perangkat elektronik seperti smartphone, tablet, dan komputer, yang dapat menyebabkan gangguan secara fisik dan mental manusia utamanya anak. Ketergantungan ini dapat dimanifestasikan dalam berbagai cara, termasuk ketidakmampuan untuk fokus pada tugas, gejala perilaku negatif ketika tidak menggunakan gawai, dan penurunan interaksi sosial. Dampak psikologis dari kecanduan gadget pada anak usia dini dapat dilihat dari berbagai aspek. Perilaku adiktif dan kurangnya kontrol diri yang terkait dengan kecanduan dapat meningkatkan resiko anak mengidap masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan agresi sebagaimana yang telah kita perhatikan dari fenomena berita tadi. Selain itu, gangguan kognitif akibat penggunaan gawai yang berlebihan juga dapat terlihat pada penurunan kemampuan anak dalam berkonsentrasi, pemrosesan informasi, dan penyelesaian masalah. Lebih jauh lagi, kecanduan gawai juga berdampak pada perkembangan sosial emosional anak, seperti kesulitan berinteraksi dengan orang lain, kurangnya empati, dan peningkatan antisosial. Sekarang, apakah adiksi gawai dan turunannya -atau sebut saja adiksi media sosial – adalah nyata terjadi ataukah hanya sekedar kejadian sesaat? Penulis berpreasusmsi kuat bahwa adiksi gawai / media sosial ini nyata.
BRAINROT
Di istilah kekinian, kita sering mendengar Brainrot, isitilah yang dipopulerkan kalangan Gen Z, terhadap situasi dimana seseorang terlalu banyak mengkonsumsi konten sampah sampai otaknya menjadi busuk. Entah para generasi sudah sadar betapa pentingnya mindfulness dalam penggunaan gawai atau kata ini ditujukan sebagai sarkas terhadap apa yang mereka definisikan tentang mana itu konten sampah dan mana yang tidak. Misalnya seorang anak dapat didiagnosa terkena brainrot (tentu belum ada diagnosa medis tentang ini atau bisa jadi ada?!) ketika ia tertawa dengan meme-meme absurd yang tingkat keabsurdannya sampai level max, sebut saja contonya seorang anak yang terpapar meme tung-tung sahur, atau meme yang saking absurdnya menciptakan kasta komedi antar generasi, dimana para generasi baby boomer tidak akan mungkin tertawa dengan joke dari kalangan gen z.
Setelah menyatakan adiksi ini nyata, apakah efek dari adiksi ini terhadap perkembangan anak? Tentu, sangat berefek baik secara fisik, kognitif, mental maupun psikis. Namun disini muncul masalah lagi, di era disrupsi sekarang ini, apabila seorang anak tidak diberi gawai pada usia tertentu, orang tua akan dianggap tidak sayang anak, terlalu otoriter, ketinggalan zaman, sama seperti dulu ketika contohnya orang tua kita melarang untuk nonton tv terlalu dekat, malah sekarang sangat dekat dengan layar gawai.
TEORI DISRUPSI PENDIDIKAN
Nah disini teori disrupsi pendidikan bisa kita gunakan. Teori disrupsi dikoinkan oleh Clayton M. Christensen ini memperkenalkan inovasi yang menciptakan perubahan besar-besaran bagaimana dengan adanya inovasi baru mengganggu nilai-nilai lama secara keseluruhan. Sebagai turunannya Teori Disrupsi Pendidikan menjadi relevan sekarang ini. Disrupsi pendidikan adalah perubahan besar yang mengancam dan mengubah sistem pendidikan tradisional akibat kemajuan teknologi.
Dalam dunia pendidikan, disrupsi juga terjadi, dulu kita belajar menggunakan kapur dan papan tulis, sekarang hampir semua kelas diisi dengan proyektor, smart classroom, setor tugas via link, belajar tatap muka via zoom sudah menjadi biasa di zaman sekarang. Nah pertanyaan apabila teknologi sudah akan diperkenalkan bahkan saat anak tersebut belum mencapai usia yang layak memegang handphone bukankah ini akan membuka peluang semakin kecanduan seorang anak dengan teknologi? Penulis termasuk yang kontra apabila disrupsi ini memaksa seorang anak bahkan usia PAUD sudah harus ‘berkelahi’ dengan teknologi di saat secara alamiah harus anak umur 5-12 di habiskan uttuk secara fisik aktif menjelajah alam, bermain permainan tradisional, bukan sudah harus presentasi menggunakan i-pad atau menggambar menggunakan desain aplikasi corel draw misalnya.
Dalam teori perkembangan anak, utamanya Teori perkembangan Kognitif Vygotsky menekankan bahwa interaksi sosial budaya dan bahasa memainkan peranan penting dalam perkembangan kognitif anak. Tentu gawai dalam hal ini didesain sebagai perancah (scaffolding) kepada anak untuk membantu mereka dalam belajar yang apa apabila dilakukan secara bertahap harus dikurangi seiring anak semakin mahir dalam keterampilan atau tugas tersebut.
SCREENTIME
Dalam perkembangan anak, dibutuhkan konsep screentime yang harus dimaknai ulang oleh orangtua, guru dan pendidik dalam menerapkan pengawasan dan kontrol terhadap kemungkinan seorang anak terkena adiksi gawai. Kita mengetahui bahwa dalam gaya pola asuh, pola asuh orang tua tidak keluar dari 3 model pola asuh, ada pola asuh Otoriritarian, Pola Asuh Permissif, Pola Asuh Demokratis.
Screentime adalah waktu yang dihabiskan seseorang untuk menatap layar perangkat elektronik seperti ponsel, komputer, tablet atau televisi terutama untuk hiburan. Dengan menerapkan waktu khusus diharapkan dapat memutus mata rantai adiksi gawai. Maka disini dangat diperlukan kontol orang tua (parental guide) dan contoh dari orang tua.
Hal ini bisa dimulai dari memperhatikan usia anak, anak dibawah 1 tahun tidak boleh diberikan screentime sama sekali, dan saat memasuki usia 1-2 tahun batasi hanya 5-10 menit setiap hari . Apabila sudah menginjak 7-12 tahun harus ditetapkan batas waktu 1-2 jam sehari tidak boleh lebih. Maka disini gaya pola asuh orang tua memainkan peranan.
Untuk orangtua yang anaknya terindikasi adiksi gawai, bisa secara rutin melakukan konseling. Dan apabila sangat parah harus dilakukan rehabilitasi dan penyitaan gawai sampai tunduk dengan aturan screen time untuk kebaikan anak itu sendiri.
admin
26 Apr 2026
By: Rachel Fairus Mumtaz Sebagai calon guru Sekolah Dasar, saya menyadari bahwa proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir serta pembentukan karakter peserta didik. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa untuk aktif, kreatif, dan reflektif. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang secara …
admin
26 Apr 2026
By: Nurul Fadila Putri HAKIKAT DAN TUJUAN PEMBELAJRAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR Pembelajaran sastra di sd memiliki hakikat yang berbeda dengan pembelajaran sastra di jenjang yang lebih tinggi. Menurut Saxby dalam Nurgiyanto (2013), sastra anak adalah karya sastra yang secara emosional dan psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak-anak yang bersumber dari pengalaman emosional …
admin
26 Apr 2026
By: Gledy Sintya Situmorang Perkembangan teknologi digital menyebabkan perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Kemudahan akses informasi melalui internet, media sosial, dan berbagai aplikasi komunikasi memberikan dampak positif sekaligus negatif. Salah satu dampak negatif yang terlihat adalah menurunnya kemampuan menulis siswa, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal …
admin
26 Apr 2026
By: Nurhanisa Lubis Dalam pembelajaran bahasa, keterampilan menyimak merupakan fondasi utama yang mendukung kemampuan berbicara, membaca, dan menulis. Namun, pada praktiknya, banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang disampaikan secara lisan. Hal ini sering disebabkan oleh kurangnya fokus, metode pembelajaran yang monoton, serta penyampaian materi yang tidak terstruktur. Kondisi tersebut menuntut adanya inovasi …
admin
26 Apr 2026
By: Endah Nur Hafizah Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa. Saat ini, belajar bahasa tidak lagi terbatas pada buku dan ruang kelas. Dengan adanya internet dan berbagai aplikasi digital, siapa pun dapat belajar bahasa kapan saja dan di mana saja. Namun, kemudahan ini sering kali tidak …
admin
26 Apr 2026
By: Delfi Nanda Azmita Minat baca adalah salah satu bagian penting dalam keberhasilan suatu pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Namun yang terjadi di Indonesia, minat baca masyarakat tergolong sangat rendah. Kondisi ini menjadi perhatian yang cukup serius karena kemampuan membaca sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam memahami informasi, berpikir kritis, dan juga mengembangkan …
18 Dec 2024 2.823 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
01 Apr 2025 1.850 views
By: Reza Widya Lubis Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, terutama yang berasal dari tradisi Melayu. Kearifan lokal ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari seni, adat istiadat, sastra lisan, hingga filosofi hidup masyarakatnya. Namun, di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan masuknya budaya …
03 Jan 2025 1.470 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
Comments are not available at the moment.