Beranda » Berita » HARGA BERAS DI PASAR NAIK, KONSUMEN MULAI ALIHKAN KE ALTERNATIF PANGAN LOKAL

HARGA BERAS DI PASAR NAIK, KONSUMEN MULAI ALIHKAN KE ALTERNATIF PANGAN LOKAL

Medan, 25 November 2025 kenaikan harga beras dipasar tradisional Medan semakin dirasakan oleh konsumen. Dalam dua minggu terakhir, harga beras naik antara 15-29 persen, memaksa banyak banyak rumah tangga mencari alternatif pangan seperti jagung, singkong, dan kacang-kacangan.

 Kenaikan harga beras paling dirasakan oleh ibu rumah tangga dan pedagang kecil. Ibu Nana, seorang konsumen di Pasar Induk, mengeluhkan kenaikan harga beras premium yang kini mencapai Rp 15.500 per kilogram. “Belanja bulanan jadi lebih berat. Kami harus memilih beras kualitas medium atau bahkan beralih ke bahan pangan lain,” ujarnya.

Harga beras premium melonjak dari Rp 13.000 menjadi Rp 15.500 per kilogram, sedangkan beras medium naik dari Rp 10.500 menjadi Rp 12.500 per kilogram. Kenaikan ini berdampak pada penurunan daya beli masyarakat, terutama rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah, yang kini mulai mengurangi konsumsi beras.

Kenaikan harga beras mulai terasa sejak awal November 2025 dan terus meningkat hingga pertengahan bulan. Puncaknya terjadi pada pekan terakhir, menjelang musim hujan yang menyebabkan sebagian sawah di Tebing Tinggi dan Pante Labu terendam banjir. Kenaikan harga paling terlihat di pasar tradisional besar di Medan , termasuk Pasar Simpang Limun, Pasar Melati dan Pasar Palmerah.

Menurut Kepala Dinas Perdagangan Medan, kenaikan harga beras disebabkan kombinasi faktor: pasokan beras menurun akibat banjir di sentra produksi, biaya distribusi meningkat karena harga bahan bakar, serta permintaan yang tetap tinggi menjelang akhir tahun. “Situasi ini mendorong kenaikan harga di pasar tradisional. Kami tengah mengupayakan operasi pasar murah untuk menstabilkan harga,” jelas Sigit.

Pedagang menyesuaikan harga sesuai pasokan dari distributor. Beberapa pedagang membatasi pembelian per orang agar stok tetap tersedia bagi semua konsumen. Pemerintah juga memperluas distribusi beras melalui Bulog dan operasi pasar untuk menjaga keterjangkauan. Konsumen diimbau untuk membeli sesuai kebutuhan dan mempertimbangkan alternatif pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan pada beras.

Selain itu, beberapa kelompok masyarakat mulai memanfaatkan bahan pangan lokal yang lebih murah, seperti jagung, singkong, dan sagu, sebagai pengganti beras di menu harian. Praktik ini tidak hanya membantu menekan pengeluaran, tetapi juga memperkenalkan variasi pangan lokal yang lebih sehat dan beragam.

Dengan kenaikan harga beras yang masih berpotensi berlanjut, warga Medan diingatkan untuk bijak mengatur belanja bulanan, memanfaatkan operasi pasar, dan tetap memprioritaskan kebutuhan pokok agar tidak memberatkan anggaran keluarga.

Namun, peralihan ke pangan lokal tidak sepenuhnya mudah bagi semua masyarakat. Beberapa konsumen mengaku masih kesulitan menyesuaikan resep atau selera keluarga dengan bahan pangan pengganti. Meski begitu, tren ini menunjukkan adanya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya fleksibilitas dan diversifikasi pangan dalam menghadapi fluktuasi harga beras.

Dengan meningkatnya harga beras, masyarakat diharapkan dapat lebih kreatif dalam mengelola kebutuhan pangan keluarga, sekaligus mendukung keberlanjutan pangan lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal. Pemerintah juga diharapkan terus memberikan edukasi serta memastikan pasokan pangan tetap stabil agar masyarakat tidak terbebani secara berlebihan. (Caity Tata Rahman)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less