Beranda » Berita » KESANTUNAN BERBAHASA DALAM INTERAKSI SOSIAL

KESANTUNAN BERBAHASA DALAM INTERAKSI SOSIAL

By : M Fajar Dwiansyah, Claudia Cahaya A.

Dalam era digital yang semakin berkembang, media sosial telah menjadi ruang komunikasi utama bagi masyarakat. Setiap hari, jutaan orang berinteraksi melalui berbagai platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan TikTok. Tetapi, dengan kebebasan berekspresi yang ditawarkan, sering kali pengguna melupakan aspek kesantunan dalam berbahasa. Padahal, menurut Geoffrey Leech dalam teorinya tentang kesantunan berbahasa (1983), terdapat prinsip-prinsip yang seharusnya diterapkan dalam komunikasi, termasuk di ranah digital.

Salah satu aspek penting dalam teori Leech adalah maksim kebijaksanaan, di mana seseorang harus mengurangi kerugian bagi orang lain dan meningkatkan keuntungan bagi mereka. Dalam konteks media sosial, hal ini berarti pengguna harus berhati-hati dalam menyampaikan pendapat agar tidak menyinggung atau merugikan pihak lain. Misalnya, dalam berdiskusi tentang isu-isu yang sensitif, penting untuk menggunakan bahasa yang tidak bersifat menghasut agar tidak memicu konflik yang tidak perlu. Contoh kasus yang lagi viral saat ini adalah seorang konten kreator yang menyampaikan pendapat tanpa memikir kan kerugian yang di peroleh dari pendapatnya tersebut.

Selain itu, maksim pujian juga relevan dalam berkomunikasi di media sosial. Pengguna sering kali lebih mudah memberikan kritik dibandingkan pujian. Padahal, dengan lebih sering memberikan penghargaan atau pujian terhadap karya dan pendapat orang lain, maka suasana komunikasi akan menjadi lebih positif. Daripada harus mencemoh atau merendahkan seseorang, komentar yang membangun dan memberikan motivasi jauh lebih bermanfaat dalam membentuk lingkungan digital yang baik.

Maksim kesederhanaan juga perlu diterapkan, terutama dalam konteks membangun karya diri di media sosial. Banyak pengguna yang tanpa sadar menunjukkan sikap sombong atau pamer secara berlebihan, yang dapat menimbulkan kesan kurang santun dan menimbulkan kegaduhan. Menjaga keseimbangan antara berbagi pengalaman pribadi dan tetap rendah hati adalah kunci untuk menjaga interaksi dan komunikasi yang baik dengan sesama pengguna media sosial.

maksim kesepakatan juga berperan dalam menjaga keharmonisan komunikasi. Dalam perdebatan online, sering kali orang lebih fokus untuk membantah dan menolak pendapat orang lain tanpa mencari solusi. Dengan lebih banyak menekankan pada kesepakatan dan mencari solusi bersama, diskusi di media sosial dapat menjadi lebih produktif dan bermanfaat bagi semua pihak.

Terakhir, maksim simpati menekankan pentingnya menunjukkan empati terhadap perasaan orang lain. Dalam media sosial, ini berarti pengguna harus lebih berhati-hati dalam mengomentari pengalaman pribadi orang lain, terutama yang berkaitan dengan kesedihan atau masalah pribadi. Kata-kata yang penuh empati dan dukungan dapat membantu menciptakan ruang yang lebih nyaman dan aman bagi semua pengguna.

Kesantunan berbahasa dalam media sosial bukan hanya sekedar teori, tetapi juga merupakan kebutuhan dalam menjaga hubungan sosial yang harmonis. Dengan menerapkan prinsip-prinsip kesantunan seperti yang dikemukakan oleh Leech, kita dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih nyaman, inklusif, dan beretika. Media sosial seharusnya menjadi tempat untuk berbagi informasi dan mempererat hubungan, bukan ajang untuk saling menjatuhkan atau menyebarkan ujaran kebencian. Oleh karena itu, mari kita mulai dari diri sendiri untuk lebih bijak dan santun dalam berkomunikasi di dunia maya.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less