Home » Esai dan Opini » KRISIS KESEHATAN MENTAL REMAJA DI ERA DIGITAL SERTA TANTANGAN DAN SOLUSINYA

KRISIS KESEHATAN MENTAL REMAJA DI ERA DIGITAL SERTA TANTANGAN DAN SOLUSINYA

admin 04 Apr 2025 966

By: Vira Aulia, Aridha Silfani

Kesehatan mental di kalangan remaja perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pihak pemerintah. Contoh nyata adalah kasus menyedihkan seorang mahasiswa UGM yang mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 11 sebuah hotel di Yogyakarta, yang menunjukkan bahwa ada keadaan darurat kesehatan mental di antara remaja di Indonesia. Bunuh diri merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di negara ini, di mana ratarata satu orang meninggal setiap jam akibat tindakan tersebut, khususnya di kalangan usia 15 hingga 29 tahun. Kelompok mahasiswa memiliki risiko tinggi untuk mengalami pemikiran atau percobaan bunuh diri. Banyak kasus bunuh diri di antara mahasiswa muncul karena masalah akademis. Salah satu contohnya adalah kesulitan dalam menyelesaikan tugas akhir yang menyebabkan stres dan meningkatkan kemungkinan munculnya pikiran bunuh diri.

Lebih jauh lagi, masalah kesehatan mental remaja dapat membuat mereka terjebak dalam pergaulan yang tidak sehat, seperti hubungan seksual di usia dini, merokok, mengonsumsi alkohol, berkelahi, dan penyalahgunaan narkoba untuk menghindari masalah yang mereka hadapi. Salah satu penyebab gangguan kesehatan mental ini ialah perceraian orang tua serta kurangnya perhatian dan kasih sayang dari lingkungan mereka. Ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental remaja di Indonesia masih sangat rendah. Setiap tahun, masalah gangguan kesehatan mental semakin bertambah.

 

Di Indonesia, angka gangguan jiwa masih cukup tinggi, dengan satu dari lima orang atau sekitar 20% populasi berisiko mengalaminya. Berdasarkan data dari Riskesdas 2018, sekitar 6,2% remaja yang berusia 15 hingga 24 tahun menghadapi masalah depresi. Angka tersebut meningkat menjadi 8,9% seiring bertambahnya usia (InfodatinKemenkes RI, 2019). Berbagai gangguan kesehatan mental yang cukup umum di Indonesia meliputi kecemasan, stres, depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, hingga trauma. Banyak orang mengalami trauma akibat kekerasan atau pelecehan seksual. Sayangnya, penanganan bagi mereka yang menderita gangguan kesehatan mental masih sangat terbatas. Banyak keluarga yang masih menganggap masalah ini sebagai aib, membuat kesehatan mental jadi isu tabu. Kurangnya pemahaman publik mengenai kesehatan mental mengakibatkan terjadinya diskriminasi, pengucilan, perlakuan tampak buruk, bahkan pengekangan terhadap pasien.

Remaja enggan mengungkapkan masalah yang mereka hadapi karena banyak masyarakat masih menganggap kesehatan mental sebagai hal yang tidak penting. Semakin lama masalah tersebut dibiarkan, semakin besar kemungkinan munculnya masalah lain yang lebih sulit untuk diselesaikan, yang dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik remaja.  Menurut teori, keberadaan psikiater dan psikolog seharusnya membantu menjaga kesehatan mental remaja. Namun, banyak orang masih menganggap psikolog sebagai makhluk paranormal, bahkan beberapa menyamakan mereka dengan dukun, karena mereka percaya bahwa psikolog memiliki kemampuan untuk membaca sifat dan karakter seseorang.  Sangat sulit bagi pemerintah untuk memberi tahu masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mental remaja dan menghapus stigma paranormal terhadap psikolog.

Sila kedua Pancasila itu sendiri telah dirusak oleh sikap masyarakat terhadap orang-orang yang menderita gangguan mental.  Menurut sila kedua, negara harus menghormati dan menjaga martabat dan harkat setiap manusia (Kaelan dan Zubaidi, 2007: 32).  Sila kedua Pancasila mencerminkan kesadaran moral dan perilaku manusia yang berbasis kebudayaan dan norma, baik terhadap diri sendiri, sesama, maupun lingkungan.  Nilai kemanusiaan adalah inti darinya.  Kemanusiaan yang dimaksud mencakup sikap adil dan beradab, yang menekankan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan dan nilai-nilai keadilan.  Ini diwujudkan dalam rasa saling menghargai dan toleransi, yang tercermin dalam perilaku sehari-hari yang didasarkan pada nilai moral yang kuat dan kepentingan bersama.Dengan menerapkan sila kedua ini, diharapkan masalah yang dihadapi bangsa saat ini, seperti kurangnya toleransi, konflik antar golongan, dan masalah sosial, dapat diselesaikan.

Faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan mental remaja termasuk kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mental mereka dan efek negatif dari era globalisasi.  Salah satu dampak dari kurang tidur yang berkelanjutan, yang dapat meningkatkan risiko depresi.  Selama bertahun-tahun, kebutuhan untuk tetap terhubung di media sosial telah dikaitkan dengan penurunan kepercayaan diri dan peningkatan risiko depresi dan gangguan kecemasan.  Selain itu, telah terbukti bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan, terutama di kalangan anak-anak dan remaja, meningkatkan tingkat stres psikologis.

Semua faktor ini dapat saling berhubungan dan meningkatkan depresi remaja.  Media sosial sering menjadi tempat untuk mengekspresikan diri atau memamerkan aktivitas sehari-hari, yang justru dapat memicu rasa iri pada orang lain, yang dapat menyebabkan depresi dan gangguan mental lainnya.  Selain itu, media sosial sering menjadi tempat bullying, yang dapat menyebabkan tertekan dan bahkan memicu bunuh diri.  Mementingkan diri sendiri, mengabaikan lingkungan sosial, tidak sopan, mudah marah, dan tidak stabil emosi adalah beberapa gejala. Karena remaja adalah motor penggerak kemajuan dan pembangunan negara, banyak kasus gangguan mental pada remaja dapat merusak masa depan negara.  Kesehatan mental remaja dapat menurunkan kualitas generasi muda Indonesia jika pemerintah tidak segera menangani masalah ini.  Tanpa peran remaja yang aktif, negara akan kesulitan untuk maju, berubah, dan berkembang, dan identitasnya bisa hilang.  Kualitas bangsa tercermin dari keberhasilannya, dan generasi muda, yang sering disebut sebagai agen perubahan, memainkan peran penting dalam perubahan sosial di lingkungan mereka.  Sebagai agen perubahan, pemuda yang kritis dan jujur dapat mempengaruhi dan menyadarkan orang lain untuk melakukan perubahan sosial, misalnya dengan mendukung aspirasi masyarakat yang seringkali bertentangan dengan kebijakan pemerintah.

Pemuda adalah harapan bangsa, dan generasi berikutnya akan menjadi generasi penerus perubahan negara di masa depan.  Pemuda Indonesia harus berjuang untuk kemajuan negara mereka. Sebagai penerus bangsa, mereka harus menyadari pentingnya pendidikan karena pendidikan adalah kunci kemajuan negara. Dengan pendidikan mereka, mereka memiliki kemampuan untuk menghasilkan ide-ide kreatif dan semangat perjuangan untuk kemajuan negara. Namun, generasi muda bangsa tidak akan dapat diandalkan untuk kemajuan jika kesehatan mental remaja tidak dijaga. Jika bukan generasi muda, siapa yang akan menjaga kedaulatan negara? Pemerintah harus menyadari betapa pentingnya kesehatan mental remaja untuk masa depan negara ini. Kesehatan mental adalah masalah terbesar yang dihadapi negara ini, dan jika masalah ini tidak ditangani segera, negara akan hancur.

Akibatnya, pemerintah harus memberikan perhatian khusus pada kesehatan mental remaja. Pemerintah seharusnya bekerja sama dengan lembaga kesehatan untuk menangani kasus gangguan mental pada remaja dan memberi tahu orang agar tidak menganggap gangguan mental sebagai aib.  Upaya ini dapat membantu mengurangi angka bunuh diri remaja dan mengurangi stigma sosial yang menyebabkan dikucilkan.  Karena sila kedua Pancasila mengandung nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, keadilan, saling menghargai, dan mengutamakan adab, pemerintah dapat menggunakannya sebagai pedoman dalam menangani masalah kesehatan mental remaja. Nilai-nilai ini dapat digunakan untuk mencegah diskriminasi, pengucilan, perlakuan kasar, atau bahkan pemasungan terhadap orang yang mengalami gangguan jiwa.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra

admin

06 Jun 2026

By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …

Mengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi

admin

06 Jun 2026

By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …

Menyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi

admin

06 Jun 2026

By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …

Pengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra

admin

06 Jun 2026

By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …

Pengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

admin

06 Jun 2026

By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …

Pengembangan Kemampuan Berbicara sebagai Dasar Komunikasi Efektif

admin

06 Jun 2026

By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …