- Esai dan OpiniPembelajaran Literasi Di Sekolah Dasar Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Karakter Siswa
- Esai dan OpiniPembelajaran Sastra Dan Bahasa Di Sekolah Dasar: Perspektif Para Ahli Pendidikan
- Esai dan OpiniMenurunnya Kemampuan Menulis Siswa di Era Digital
- Esai dan OpiniStrategi Cerdas Menggunakan Presentation Script untuk Mengasah Kemampuan Menyimak Siswa di Era Modern
- Esai dan OpiniBahasa di Ujung Jari: Cara Cerdas Belajar di Era Digital

KRISIS KESEHATAN MENTAL REMAJA DI ERA DIGITAL SERTA TANTANGAN DAN SOLUSINYA
By: Vira Aulia, Aridha Silfani
Kesehatan mental di kalangan remaja perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pihak pemerintah. Contoh nyata adalah kasus menyedihkan seorang mahasiswa UGM yang mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 11 sebuah hotel di Yogyakarta, yang menunjukkan bahwa ada keadaan darurat kesehatan mental di antara remaja di Indonesia. Bunuh diri merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di negara ini, di mana ratarata satu orang meninggal setiap jam akibat tindakan tersebut, khususnya di kalangan usia 15 hingga 29 tahun. Kelompok mahasiswa memiliki risiko tinggi untuk mengalami pemikiran atau percobaan bunuh diri. Banyak kasus bunuh diri di antara mahasiswa muncul karena masalah akademis. Salah satu contohnya adalah kesulitan dalam menyelesaikan tugas akhir yang menyebabkan stres dan meningkatkan kemungkinan munculnya pikiran bunuh diri.
Lebih jauh lagi, masalah kesehatan mental remaja dapat membuat mereka terjebak dalam pergaulan yang tidak sehat, seperti hubungan seksual di usia dini, merokok, mengonsumsi alkohol, berkelahi, dan penyalahgunaan narkoba untuk menghindari masalah yang mereka hadapi. Salah satu penyebab gangguan kesehatan mental ini ialah perceraian orang tua serta kurangnya perhatian dan kasih sayang dari lingkungan mereka. Ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental remaja di Indonesia masih sangat rendah. Setiap tahun, masalah gangguan kesehatan mental semakin bertambah.
Di Indonesia, angka gangguan jiwa masih cukup tinggi, dengan satu dari lima orang atau sekitar 20% populasi berisiko mengalaminya. Berdasarkan data dari Riskesdas 2018, sekitar 6,2% remaja yang berusia 15 hingga 24 tahun menghadapi masalah depresi. Angka tersebut meningkat menjadi 8,9% seiring bertambahnya usia (InfodatinKemenkes RI, 2019). Berbagai gangguan kesehatan mental yang cukup umum di Indonesia meliputi kecemasan, stres, depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, hingga trauma. Banyak orang mengalami trauma akibat kekerasan atau pelecehan seksual. Sayangnya, penanganan bagi mereka yang menderita gangguan kesehatan mental masih sangat terbatas. Banyak keluarga yang masih menganggap masalah ini sebagai aib, membuat kesehatan mental jadi isu tabu. Kurangnya pemahaman publik mengenai kesehatan mental mengakibatkan terjadinya diskriminasi, pengucilan, perlakuan tampak buruk, bahkan pengekangan terhadap pasien.
Remaja enggan mengungkapkan masalah yang mereka hadapi karena banyak masyarakat masih menganggap kesehatan mental sebagai hal yang tidak penting. Semakin lama masalah tersebut dibiarkan, semakin besar kemungkinan munculnya masalah lain yang lebih sulit untuk diselesaikan, yang dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik remaja. Menurut teori, keberadaan psikiater dan psikolog seharusnya membantu menjaga kesehatan mental remaja. Namun, banyak orang masih menganggap psikolog sebagai makhluk paranormal, bahkan beberapa menyamakan mereka dengan dukun, karena mereka percaya bahwa psikolog memiliki kemampuan untuk membaca sifat dan karakter seseorang. Sangat sulit bagi pemerintah untuk memberi tahu masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mental remaja dan menghapus stigma paranormal terhadap psikolog.
Sila kedua Pancasila itu sendiri telah dirusak oleh sikap masyarakat terhadap orang-orang yang menderita gangguan mental. Menurut sila kedua, negara harus menghormati dan menjaga martabat dan harkat setiap manusia (Kaelan dan Zubaidi, 2007: 32). Sila kedua Pancasila mencerminkan kesadaran moral dan perilaku manusia yang berbasis kebudayaan dan norma, baik terhadap diri sendiri, sesama, maupun lingkungan. Nilai kemanusiaan adalah inti darinya. Kemanusiaan yang dimaksud mencakup sikap adil dan beradab, yang menekankan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan dan nilai-nilai keadilan. Ini diwujudkan dalam rasa saling menghargai dan toleransi, yang tercermin dalam perilaku sehari-hari yang didasarkan pada nilai moral yang kuat dan kepentingan bersama.Dengan menerapkan sila kedua ini, diharapkan masalah yang dihadapi bangsa saat ini, seperti kurangnya toleransi, konflik antar golongan, dan masalah sosial, dapat diselesaikan.
Faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan mental remaja termasuk kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mental mereka dan efek negatif dari era globalisasi. Salah satu dampak dari kurang tidur yang berkelanjutan, yang dapat meningkatkan risiko depresi. Selama bertahun-tahun, kebutuhan untuk tetap terhubung di media sosial telah dikaitkan dengan penurunan kepercayaan diri dan peningkatan risiko depresi dan gangguan kecemasan. Selain itu, telah terbukti bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan, terutama di kalangan anak-anak dan remaja, meningkatkan tingkat stres psikologis.
Semua faktor ini dapat saling berhubungan dan meningkatkan depresi remaja. Media sosial sering menjadi tempat untuk mengekspresikan diri atau memamerkan aktivitas sehari-hari, yang justru dapat memicu rasa iri pada orang lain, yang dapat menyebabkan depresi dan gangguan mental lainnya. Selain itu, media sosial sering menjadi tempat bullying, yang dapat menyebabkan tertekan dan bahkan memicu bunuh diri. Mementingkan diri sendiri, mengabaikan lingkungan sosial, tidak sopan, mudah marah, dan tidak stabil emosi adalah beberapa gejala. Karena remaja adalah motor penggerak kemajuan dan pembangunan negara, banyak kasus gangguan mental pada remaja dapat merusak masa depan negara. Kesehatan mental remaja dapat menurunkan kualitas generasi muda Indonesia jika pemerintah tidak segera menangani masalah ini. Tanpa peran remaja yang aktif, negara akan kesulitan untuk maju, berubah, dan berkembang, dan identitasnya bisa hilang. Kualitas bangsa tercermin dari keberhasilannya, dan generasi muda, yang sering disebut sebagai agen perubahan, memainkan peran penting dalam perubahan sosial di lingkungan mereka. Sebagai agen perubahan, pemuda yang kritis dan jujur dapat mempengaruhi dan menyadarkan orang lain untuk melakukan perubahan sosial, misalnya dengan mendukung aspirasi masyarakat yang seringkali bertentangan dengan kebijakan pemerintah.
Pemuda adalah harapan bangsa, dan generasi berikutnya akan menjadi generasi penerus perubahan negara di masa depan. Pemuda Indonesia harus berjuang untuk kemajuan negara mereka. Sebagai penerus bangsa, mereka harus menyadari pentingnya pendidikan karena pendidikan adalah kunci kemajuan negara. Dengan pendidikan mereka, mereka memiliki kemampuan untuk menghasilkan ide-ide kreatif dan semangat perjuangan untuk kemajuan negara. Namun, generasi muda bangsa tidak akan dapat diandalkan untuk kemajuan jika kesehatan mental remaja tidak dijaga. Jika bukan generasi muda, siapa yang akan menjaga kedaulatan negara? Pemerintah harus menyadari betapa pentingnya kesehatan mental remaja untuk masa depan negara ini. Kesehatan mental adalah masalah terbesar yang dihadapi negara ini, dan jika masalah ini tidak ditangani segera, negara akan hancur.
Akibatnya, pemerintah harus memberikan perhatian khusus pada kesehatan mental remaja. Pemerintah seharusnya bekerja sama dengan lembaga kesehatan untuk menangani kasus gangguan mental pada remaja dan memberi tahu orang agar tidak menganggap gangguan mental sebagai aib. Upaya ini dapat membantu mengurangi angka bunuh diri remaja dan mengurangi stigma sosial yang menyebabkan dikucilkan. Karena sila kedua Pancasila mengandung nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, keadilan, saling menghargai, dan mengutamakan adab, pemerintah dapat menggunakannya sebagai pedoman dalam menangani masalah kesehatan mental remaja. Nilai-nilai ini dapat digunakan untuk mencegah diskriminasi, pengucilan, perlakuan kasar, atau bahkan pemasungan terhadap orang yang mengalami gangguan jiwa.
admin
26 Apr 2026
By: Rachel Fairus Mumtaz Sebagai calon guru Sekolah Dasar, saya menyadari bahwa proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir serta pembentukan karakter peserta didik. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa untuk aktif, kreatif, dan reflektif. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang secara …
admin
26 Apr 2026
By: Nurul Fadila Putri HAKIKAT DAN TUJUAN PEMBELAJRAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR Pembelajaran sastra di sd memiliki hakikat yang berbeda dengan pembelajaran sastra di jenjang yang lebih tinggi. Menurut Saxby dalam Nurgiyanto (2013), sastra anak adalah karya sastra yang secara emosional dan psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak-anak yang bersumber dari pengalaman emosional …
admin
26 Apr 2026
By: Gledy Sintya Situmorang Perkembangan teknologi digital menyebabkan perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Kemudahan akses informasi melalui internet, media sosial, dan berbagai aplikasi komunikasi memberikan dampak positif sekaligus negatif. Salah satu dampak negatif yang terlihat adalah menurunnya kemampuan menulis siswa, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal …
admin
26 Apr 2026
By: Nurhanisa Lubis Dalam pembelajaran bahasa, keterampilan menyimak merupakan fondasi utama yang mendukung kemampuan berbicara, membaca, dan menulis. Namun, pada praktiknya, banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang disampaikan secara lisan. Hal ini sering disebabkan oleh kurangnya fokus, metode pembelajaran yang monoton, serta penyampaian materi yang tidak terstruktur. Kondisi tersebut menuntut adanya inovasi …
admin
26 Apr 2026
By: Endah Nur Hafizah Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa. Saat ini, belajar bahasa tidak lagi terbatas pada buku dan ruang kelas. Dengan adanya internet dan berbagai aplikasi digital, siapa pun dapat belajar bahasa kapan saja dan di mana saja. Namun, kemudahan ini sering kali tidak …
admin
26 Apr 2026
By: Delfi Nanda Azmita Minat baca adalah salah satu bagian penting dalam keberhasilan suatu pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Namun yang terjadi di Indonesia, minat baca masyarakat tergolong sangat rendah. Kondisi ini menjadi perhatian yang cukup serius karena kemampuan membaca sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam memahami informasi, berpikir kritis, dan juga mengembangkan …
18 Dec 2024 2.823 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
01 Apr 2025 1.850 views
By: Reza Widya Lubis Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, terutama yang berasal dari tradisi Melayu. Kearifan lokal ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari seni, adat istiadat, sastra lisan, hingga filosofi hidup masyarakatnya. Namun, di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan masuknya budaya …
03 Jan 2025 1.470 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
Comments are not available at the moment.