Home » Esai dan Opini » Kurangnya Kebakuan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar

Kurangnya Kebakuan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar

admin 19 Apr 2026 109

By: Umi Khairani

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejak dini, terutama di jenjang sekolah dasar, siswa seharusnya mulai dibiasakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah kebakuan. Namun, pada kenyataannya, penggunaan bahasa Indonesia yang baku di lingkungan sekolah dasar masih kurang diperhatikan. Hal ini terlihat dari kebiasaan siswa maupun lingkungan sekitar yang lebih sering menggunakan bahasa tidak baku dalam komunikasi sehari-hari.

Berdasarkan pengamatan pribadi penulis, fenomena ini cukup sering terjadi baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Misalnya, dalam percakapan sehari-hari, kata “tidak” sering digantikan dengan “ga” atau “nggak”. Begitu juga dengan kata “saya” yang berubah menjadi “aku” atau bahkan “gue”, tergantung pengaruh lingkungan. Kebiasaan ini tidak hanya dilakukan oleh siswa, tetapi juga terkadang oleh guru dan orang dewasa di sekitar mereka. Akibatnya, siswa menjadi terbiasa menggunakan bahasa tidak baku dan menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Pengalaman penulis saat mengamati kegiatan belajar di sekolah dasar menunjukkan bahwa penggunaan bahasa baku sering kali hanya muncul dalam situasi formal, seperti saat membaca teks di buku pelajaran atau ketika ujian berlangsung. Namun, di luar itu, baik saat diskusi maupun interaksi santai, siswa cenderung kembali menggunakan bahasa sehari-hari yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Bahkan, dalam beberapa kasus, guru tidak selalu mengoreksi penggunaan bahasa yang kurang tepat tersebut, sehingga kebiasaan ini terus berlanjut.

Menurut ahli linguistik, penggunaan bahasa yang baik dan benar sangat penting untuk membentuk kemampuan berkomunikasi yang efektif. Gorys Keraf berpendapat bahwa bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi, sedangkan bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah tata bahasa. Dari pendapat ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa tidak baku sebenarnya tidak selalu salah, tetapi menjadi kurang tepat jika digunakan dalam konteks pendidikan formal seperti di sekolah.

Selain itu, Chaer (Abdul Chaer) juga menyatakan bahwa kebiasaan berbahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Jika lingkungan sehari-hari lebih dominan menggunakan bahasa tidak baku, maka anak-anak akan meniru dan menjadikannya sebagai kebiasaan. Hal ini menunjukkan bahwa peran lingkungan, baik keluarga maupun sekolah, sangat besar dalam membentuk kemampuan berbahasa anak.

Kurangnya pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia baku di sekolah dasar dapat berdampak pada kemampuan akademik siswa. Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam menulis karangan, memahami teks formal, atau menyusun kalimat yang sesuai dengan kaidah. Selain itu, kebiasaan ini juga dapat memengaruhi sikap siswa terhadap bahasa Indonesia itu sendiri, sehingga mereka kurang menghargai pentingnya penggunaan bahasa yang baik dan benar.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya yang konsisten dari berbagai pihak. Guru sebagai pendidik memiliki peran penting dalam memberikan contoh penggunaan bahasa baku dalam setiap kegiatan pembelajaran. Selain itu, sekolah dapat membuat program khusus, seperti hari berbahasa Indonesia baku atau lomba berbahasa yang baik dan benar. Di sisi lain, orang tua juga perlu membiasakan penggunaan bahasa yang lebih baku di rumah agar anak mendapatkan contoh yang konsisten.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kurangnya kebakuan bahasa Indonesia di sekolah dasar merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian serius. Melalui pembiasaan, keteladanan, dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat ditingkatkan sejak dini. Hal ini penting agar generasi muda mampu berkomunikasi secara efektif sekaligus menjaga keberlangsungan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra

admin

06 Jun 2026

By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …

Mengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi

admin

06 Jun 2026

By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …

Menyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi

admin

06 Jun 2026

By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …

Pengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra

admin

06 Jun 2026

By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …

Pengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

admin

06 Jun 2026

By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …

Pengembangan Kemampuan Berbicara sebagai Dasar Komunikasi Efektif

admin

06 Jun 2026

By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …