Home » Esai dan Opini » Kurangnya Kebakuan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar

Kurangnya Kebakuan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar

admin 19 Apr 2026 31

By: Umi Khairani

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejak dini, terutama di jenjang sekolah dasar, siswa seharusnya mulai dibiasakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah kebakuan. Namun, pada kenyataannya, penggunaan bahasa Indonesia yang baku di lingkungan sekolah dasar masih kurang diperhatikan. Hal ini terlihat dari kebiasaan siswa maupun lingkungan sekitar yang lebih sering menggunakan bahasa tidak baku dalam komunikasi sehari-hari.

Berdasarkan pengamatan pribadi penulis, fenomena ini cukup sering terjadi baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Misalnya, dalam percakapan sehari-hari, kata “tidak” sering digantikan dengan “ga” atau “nggak”. Begitu juga dengan kata “saya” yang berubah menjadi “aku” atau bahkan “gue”, tergantung pengaruh lingkungan. Kebiasaan ini tidak hanya dilakukan oleh siswa, tetapi juga terkadang oleh guru dan orang dewasa di sekitar mereka. Akibatnya, siswa menjadi terbiasa menggunakan bahasa tidak baku dan menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Pengalaman penulis saat mengamati kegiatan belajar di sekolah dasar menunjukkan bahwa penggunaan bahasa baku sering kali hanya muncul dalam situasi formal, seperti saat membaca teks di buku pelajaran atau ketika ujian berlangsung. Namun, di luar itu, baik saat diskusi maupun interaksi santai, siswa cenderung kembali menggunakan bahasa sehari-hari yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Bahkan, dalam beberapa kasus, guru tidak selalu mengoreksi penggunaan bahasa yang kurang tepat tersebut, sehingga kebiasaan ini terus berlanjut.

Menurut ahli linguistik, penggunaan bahasa yang baik dan benar sangat penting untuk membentuk kemampuan berkomunikasi yang efektif. Gorys Keraf berpendapat bahwa bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi, sedangkan bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah tata bahasa. Dari pendapat ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa tidak baku sebenarnya tidak selalu salah, tetapi menjadi kurang tepat jika digunakan dalam konteks pendidikan formal seperti di sekolah.

Selain itu, Chaer (Abdul Chaer) juga menyatakan bahwa kebiasaan berbahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Jika lingkungan sehari-hari lebih dominan menggunakan bahasa tidak baku, maka anak-anak akan meniru dan menjadikannya sebagai kebiasaan. Hal ini menunjukkan bahwa peran lingkungan, baik keluarga maupun sekolah, sangat besar dalam membentuk kemampuan berbahasa anak.

Kurangnya pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia baku di sekolah dasar dapat berdampak pada kemampuan akademik siswa. Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam menulis karangan, memahami teks formal, atau menyusun kalimat yang sesuai dengan kaidah. Selain itu, kebiasaan ini juga dapat memengaruhi sikap siswa terhadap bahasa Indonesia itu sendiri, sehingga mereka kurang menghargai pentingnya penggunaan bahasa yang baik dan benar.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya yang konsisten dari berbagai pihak. Guru sebagai pendidik memiliki peran penting dalam memberikan contoh penggunaan bahasa baku dalam setiap kegiatan pembelajaran. Selain itu, sekolah dapat membuat program khusus, seperti hari berbahasa Indonesia baku atau lomba berbahasa yang baik dan benar. Di sisi lain, orang tua juga perlu membiasakan penggunaan bahasa yang lebih baku di rumah agar anak mendapatkan contoh yang konsisten.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kurangnya kebakuan bahasa Indonesia di sekolah dasar merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian serius. Melalui pembiasaan, keteladanan, dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat ditingkatkan sejak dini. Hal ini penting agar generasi muda mampu berkomunikasi secara efektif sekaligus menjaga keberlangsungan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pembelajaran Literasi Di Sekolah Dasar Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Karakter Siswa

admin

26 Apr 2026

By: Rachel Fairus Mumtaz Sebagai calon guru Sekolah Dasar, saya menyadari bahwa proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir serta pembentukan karakter peserta didik. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa untuk aktif, kreatif, dan reflektif. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang secara …

Pembelajaran Sastra Dan Bahasa Di Sekolah Dasar: Perspektif Para Ahli Pendidikan

admin

26 Apr 2026

By: Nurul Fadila Putri HAKIKAT DAN TUJUAN PEMBELAJRAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR             Pembelajaran sastra di sd memiliki hakikat yang berbeda dengan pembelajaran sastra di jenjang yang lebih tinggi. Menurut Saxby dalam Nurgiyanto (2013), sastra anak adalah karya sastra yang secara emosional dan psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak-anak yang bersumber dari pengalaman emosional …

Menurunnya Kemampuan Menulis Siswa di Era Digital

admin

26 Apr 2026

By: Gledy Sintya Situmorang Perkembangan teknologi digital menyebabkan perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Kemudahan akses informasi melalui internet, media sosial, dan berbagai aplikasi komunikasi memberikan dampak positif sekaligus negatif. Salah satu dampak negatif yang terlihat adalah menurunnya kemampuan menulis siswa, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal …

Strategi Cerdas Menggunakan Presentation Script untuk Mengasah Kemampuan Menyimak Siswa di Era Modern

admin

26 Apr 2026

By: Nurhanisa Lubis   Dalam pembelajaran bahasa, keterampilan menyimak merupakan fondasi utama yang mendukung kemampuan berbicara, membaca, dan menulis. Namun, pada praktiknya, banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang disampaikan secara lisan. Hal ini sering disebabkan oleh kurangnya fokus, metode pembelajaran yang monoton, serta penyampaian materi yang tidak terstruktur. Kondisi tersebut menuntut adanya inovasi …

Bahasa di Ujung Jari: Cara Cerdas Belajar di Era Digital

admin

26 Apr 2026

By: Endah Nur Hafizah   Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa. Saat ini, belajar bahasa tidak lagi terbatas pada buku dan ruang kelas. Dengan adanya internet dan berbagai aplikasi digital, siapa pun dapat belajar bahasa kapan saja dan di mana saja. Namun, kemudahan ini sering kali tidak …

Krisis Minat Baca dan Dampaknya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Indonesia

admin

26 Apr 2026

By: Delfi Nanda Azmita Minat baca adalah salah satu bagian penting dalam keberhasilan suatu pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Namun yang terjadi di Indonesia, minat baca masyarakat tergolong sangat rendah. Kondisi ini menjadi perhatian yang cukup serius karena kemampuan membaca sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam memahami informasi, berpikir kritis, dan juga  mengembangkan …