PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH DAN ISU KEPUNAHAN
- account_circle admin
- calendar_month 1/04/2025
- visibility 397
- comment 0 komentar
- label Berita
By : Anisa Putri
Bahasa daerah di Indonesia saat ini terancam dengan sangat serius. Kepunahan sudah bukan sekadar potensi, tetapi sudah menjadi kenyataan. Data dari Kemendikbudristek menunjukkan bahwa jumlah bahasa daerah, seperti Tandia di Papua Barat dan Mawes di Papua, sudah tidak lagi digunakan oleh masyarakat. Penelitian dari Australian National University (ANU) pun memperkirakan bahwa ratusan bahasa daerah di Indonesia berisiko punah sebelum abad ke-21 berakhir. Menurut pandangan saya, ini bukan hanya berkaitan dengan menurunnya jumlah penutur, tetapi juga dengan hilangnya nilai-nilai budaya, sejarah, dan identitas komunitas yang telah dijaga selama bergenerasi
Untuk mengatasi masalah ini, bagian dari pemerintah telah mengambil berbagai Tindakan atau perlakuan, antara lain memasukkan bahasa daerah dalam kurikulum pendidikan, mendorong penggunaannya di tempat umum, serta mengadakana acara budaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Anak muda juga dianjurkan untuk lebih sering memakai Bahasa daerah, baik dalam percakapan sehari – hari maupun dalam pembuatan konten digital. Namun, menurut saya , usaha ini tidak akan berjalan efektif jika hanya bergantung pada kebijakan resmi tanpa adanya kesadaran masyarakat untuk tetap menggunakan dan melestarikan Bahasa daerah dalam kehidupan sehari – hari.
Menurut saya, masalah utama dalam upaya pelestarian Bahasa daerah bukan sekedar keterbatasan kebijakan, tetapi juga perubahan pola pikir masyarakat. Banyak orang tua yang lebih memilih untuk berbicara atau berkomunikasi dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing saat berbicara dengan anak-anak mereka, berharap untuk mempersiapkan mereka menghadapi tantangan global. Dampaknya, pemakaian Bahasa daerah semakin berkurang dan hanya dianggap sebagai sesuatu yang dipelajari di sekolah, bukan sebagai aspek penting dalam kehidupan sehari – hari yang perlu dilestarikan.
Selain itu, penyusunan jumlah penutur asli bahasa daerah turut menjadi faktor yang mempercepat kepunahannya. Ketika bahasa daerah tidak lagi digunakan dalam komunikasi sehari – hari, secara bertahap bahasa tersebut akan hilang dan akhirnya punah. Menurut saya, pelestarian Bahasa daerah tidak hanya diperjuangkan melalui Pendidikan formal, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari – hari di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Salah satu strategi yang menurut saya dapat efektif dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah adalah dengan menanamkan rasa bangga terhadap bahasa tersebut sejak usia dini. Orang tua memiliki tanggung jawab yang signifikan dalam memperkenalkan bahasa daerah kepada anak-anak mereka, sehingga bahasa ini tetap hidup dalam keseharian. Selain itu, media juga dapat berperan penting dengan menyediakan lebih banyak konten dalam Bahasa daerah, seperti film, lagu, dan flatform digital, agar generasi muda lebih tertarik untuk menggunakannya.
Jika pelestarian Bahasa daerah hanya mengandalkan kebijakan pemerintah tanpa keterlibatan aktif masyarakat, maka Bahasa daerah akan semakin tersisih dan berisiko punah. Oleh karena itu, saya percaya bahwa pelestarian Bahasa daerah bukan hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan juga tanggung jawab semua elemen masyarakat agar Bahasa ini tetap hidup dan tidak punah.

Saat ini belum ada komentar