Home » Esai dan Opini » PENGABAIAN TERHADAP PENGGUNAAN BAHASA DAERAH OLEH GENERASI MUDA

PENGABAIAN TERHADAP PENGGUNAAN BAHASA DAERAH OLEH GENERASI MUDA

admin 01 Apr 2025 819

By: Anisa Zahara

Indonesia terkenal dengan kekayaan budayanya yang luar biasa, salah satu aspek yang paling menonjol adalah keberagaman bahasa daerah. Setiap daerah di tanah air ini memiliki bahasa lokal yang menjadi identitas dan ciri khas komunitasnya. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda semakin menurun. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya salah satu warisan budaya yang sangat berharga bagi bangsa. Bahasa daerah adalah salah satu pilar penting yang mendukung kekayaan budaya Indonesia. Seiring dengan kemajuan zaman dan arus globalisasi, penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda semakin terabaikan. Namun, tahukah kamu bahwa seiring dengan perkembangan zaman yang semakin canggih, bahasa daerah perlahan-lahan mulai memudar, Masyarakat sering kali terjerat dalam gaya hidup di era globalisasi, yang membawa dampak negatif terhadap penggunaan bahasa daerah yang sebenarnya mencerminkan identitas bangsa. Selain itu, masuknya bahasa asing melalui media sosial turut mempercepat proses ini. Bahkan, UNESCO menyebutkan bahwa bahasa daerah di Indonesia mengalami kepunahan setiap 15 hari sekali. Menurut UNESCO, yang tercantum dalam Atlas of the World’s Language in Danger of Disappearing, Indonesia memiliki lebih dari 640 bahasa daerah. Dari jumlah tersebut, sekitar 154 bahasa perlu mendapatkan perhatian khusus. Diantaranya, terdapat sekitar 139 bahasa yang terancam punah dan 15 bahasa yang telah punah. Bahasa-bahasa yang terancam punah dapat ditemukan di berbagai wilayah, seperti Kalimantan dengan 1 bahasa, Maluku memiliki 22 bahasa, sementara Papua Barat dan Kepulauan Halmahera memiliki 67 bahasa. Di Sulawesi terdapat 36 bahasa, di Sumatra ada 2 bahasa, dan Timor-Flores serta Bima-Sumbawa menyumbang 11 bahasa.
Adapun bahasa-bahasa yang telah punah tersebar di Maluku dengan 11 bahasa, di Papua Barat dan Kepulauan Halmahera, Sulawesi, serta Sumatra, masing-masing memiliki 1 bahasa.

         Sebagai Fakta empiris menunjukkan bahwa bahasa daerah masih banyak digunakan di pedesaan dan mulai meredup di daerah perkotaan. Dalam konteks ini, bukan hanya bahasa itu sendiri yang terpinggirkan, melainkan juga munculnya generasi penerus yang enggan menganggap bahasa daerah sebagai bagian dari identitas mereka. Hal ini berpotensi menyebabkan memudarnya penggunaan bahasa daerah di lingkungan perkotaan, yang dapat berujung pada kepunahan bahasa-bahasa tersebut. Minimnya pemakaian bahasa daerah menjadi masalah besar bagi generasi milenial. Dalam konteks ini, bukan hanya bahasa nasional yang terancam, tetapi juga bahasa daerah. Contohnya, kata “jancuk” dalam bahasa Jawa memiliki makna yang cukup kuat. Menurut kamus daring Universitas Gadjah Mada, istilah seperti jancuk, jancok, diancok, cuk, atau cok sering digunakan sebagai umpatan yang mengekspresikan emosi marah atau benci, dengan arti yang merujuk pada kata-kata kasar seperti sialan, kampret, atau berengsek. Hal ini menunjukkan pentingnya untuk membudayakan kembali penggunaan bahasa daerah agar tidak punah.

            Faktor yang menyebabkan Pengabaian Terhadap Penggunaan Bahasa Daerah Oleh Generasi Muda itu bisa saja dari globalisasi dan modernisasi yang memberikan dampak signifikan terhadap pola komunikasi dalam masyarakat, terutama bagi generasi muda yang cenderung lebih sering menggunakan bahasa nasional atau bahasa asing ketimbang bahasa daerah. Selain itu bisa juga dari Pengaruh Teknologi dan Media Massa Konten digital yang beragam di berbagai platform umumnya menggunakan bahasa Indonesia atau Bahasa asing. Hal ini berdampak pada berkurangnya peluang generasi muda untuk berkomunikasi dalam bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

            Keadaan ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, mengingat hal tersebut telah dengan jelas dinyatakan dalam amanat Pasal 32 Ayat 2 UUD 1945 mengenai Bahasa daerah yang bunyinya “Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional” Oleh sebab itu, penting untuk mengambil berbagai langkah strategis demi menjaga kelestarian bahasa daerah, antara lain:

No Upaya Pelestarian Bahasa Daerah
1 Meningkatkan Pendidikan Bahasa Daerah di Sekolah, Pemerintah perlu memperkuat kurikulum yang mendukung pembelajaran bahasa daerah sejak usia dini agar generasi muda dapat memahami dan menggunakannya dengan baik.
2 Pengembangan konten digital, seperti video, aplikasi, dan pembaruan di media sosial dalam bahasa daerah, berpotensi untuk menarik perhatian generasi muda. Dengan cara ini, bahasa daerah pun dapat lebih relevan dan sejalan dengan perkembangan zaman.
3 Mendorong Penggunaan Bahasa Daerah dalam Keluarga, Diharapkan orang tua dapat menjadikan penggunaan bahasa daerah sebagai kebiasaan dalam komunikasi sehari-hari dengan anak-anak mereka. Dengan demikian, keterampilan berbahasa daerah dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
4 Menyelenggarakan Festival dan Lomba Bahasa Daerah, Acara-acara seperti lomba pidato, puisi, dan pertunjukan dalam bahasa daerah akan meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap bahasa mereka. Di samping itu, acara ini juga dapat memperkuat rasa bangga mereka terhadap identitas budaya yang dimiliki.
5 Dukungan antara Pemerintah dan Masyarakat sangat penting. Pemerintah daerah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk menyusun kebijakan serta program yang mendukung penggunaan dan pengajaran bahasa daerah secara lebih luas. Dengan demikian, keberadaan bahasa daerah dapat tetap terjaga dan lestari.

Kesimpulan

Pengabaian bahasa daerah oleh generasi muda merupakan tantangan yang signifikan dalam pelestarian budaya Indonesia. Banyak faktor yang berperan dalam hal ini, seperti globalisasi, pengaruh teknologi, dan kebijakan pendidikan, yang semuanya turut menyebabkan menurunnya penggunaan bahasa daerah. Oleh karena itu,diperlukan beragam upaya untuk menjaga keberadaan bahasa daerah, seperti peningkatan kualitas pendidikan, pemanfaatan teknologi secara bijak dan dukungan yang kuat dari keluarga. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan Bahasa daerah dapat tetap lestari dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas bangsa Indonesia.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pembelajaran Literasi Di Sekolah Dasar Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Karakter Siswa

admin

26 Apr 2026

By: Rachel Fairus Mumtaz Sebagai calon guru Sekolah Dasar, saya menyadari bahwa proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir serta pembentukan karakter peserta didik. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa untuk aktif, kreatif, dan reflektif. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang secara …

Pembelajaran Sastra Dan Bahasa Di Sekolah Dasar: Perspektif Para Ahli Pendidikan

admin

26 Apr 2026

By: Nurul Fadila Putri HAKIKAT DAN TUJUAN PEMBELAJRAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR             Pembelajaran sastra di sd memiliki hakikat yang berbeda dengan pembelajaran sastra di jenjang yang lebih tinggi. Menurut Saxby dalam Nurgiyanto (2013), sastra anak adalah karya sastra yang secara emosional dan psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak-anak yang bersumber dari pengalaman emosional …

Menurunnya Kemampuan Menulis Siswa di Era Digital

admin

26 Apr 2026

By: Gledy Sintya Situmorang Perkembangan teknologi digital menyebabkan perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Kemudahan akses informasi melalui internet, media sosial, dan berbagai aplikasi komunikasi memberikan dampak positif sekaligus negatif. Salah satu dampak negatif yang terlihat adalah menurunnya kemampuan menulis siswa, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal …

Strategi Cerdas Menggunakan Presentation Script untuk Mengasah Kemampuan Menyimak Siswa di Era Modern

admin

26 Apr 2026

By: Nurhanisa Lubis   Dalam pembelajaran bahasa, keterampilan menyimak merupakan fondasi utama yang mendukung kemampuan berbicara, membaca, dan menulis. Namun, pada praktiknya, banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang disampaikan secara lisan. Hal ini sering disebabkan oleh kurangnya fokus, metode pembelajaran yang monoton, serta penyampaian materi yang tidak terstruktur. Kondisi tersebut menuntut adanya inovasi …

Bahasa di Ujung Jari: Cara Cerdas Belajar di Era Digital

admin

26 Apr 2026

By: Endah Nur Hafizah   Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa. Saat ini, belajar bahasa tidak lagi terbatas pada buku dan ruang kelas. Dengan adanya internet dan berbagai aplikasi digital, siapa pun dapat belajar bahasa kapan saja dan di mana saja. Namun, kemudahan ini sering kali tidak …

Krisis Minat Baca dan Dampaknya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Indonesia

admin

26 Apr 2026

By: Delfi Nanda Azmita Minat baca adalah salah satu bagian penting dalam keberhasilan suatu pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Namun yang terjadi di Indonesia, minat baca masyarakat tergolong sangat rendah. Kondisi ini menjadi perhatian yang cukup serius karena kemampuan membaca sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam memahami informasi, berpikir kritis, dan juga  mengembangkan …