Beranda » Esai dan Opini » Pentingnya Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Di Sekolah Dasar Sebagai Fondasi Karakter Dan Kreativitas Bangsa

Pentingnya Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Di Sekolah Dasar Sebagai Fondasi Karakter Dan Kreativitas Bangsa

By: Nazwa Aulia

 

Bahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan identitas, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pelestarian budaya nasional (Kemendikbud, 2020). Akibatnya, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah sangat penting untuk menumbuhkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar, sikap positif terhadap bahasa, dan penghargaan terhadap karya sastra sebagai bagian dari ekspresi budaya bangsa.

Pembelajaran Bahasa dan Sastra di sekolah diakui memiliki peran penting dan fungsi yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan nasional secara utuh. Namun demikian, kenyataan yang kurang menggembirakan masih manjadi sorotan atas pendidikan sastra di sekolah. Sejumlah sorotan di antaranya dikaitkan dengan fenomena mutakhir yang menunjukkan gejala kemerosotan moral dan kenakalan remaja/siswa. Pembelajaran bahasa dan sastra merupakan dua hal yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam pembelajaran sastra tidak dapat dilepaskan dengan pembelajaran bahasa, karena bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan dan perasaan kepada orang lain baik secara tertulis maupun lisan.

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar (SD) bukan sekadar mengajarkan membaca, menulis, dan berbicara, melainkan membangun fondasi karakter bangsa yang kuat. Di era digital saat ini, di mana anak-anak lebih akrab dengan gadget daripada buku cerita, mata pelajaran ini menjadi benteng terakhir untuk menanamkan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, toleransi, dan kecintaan terhadap budaya sendiri. Contohnya: puisi sederhana atau pantun dapat mengubah siswa menjadi pemikir kritis yang peduli lingkungan. Sayangnya, realitas di lapangan masih jauh dari ideal. Kurikulum sering kali terlalu berfokus pada hafalan ejaan dan tata bahasa, sementara aspek sastra seperti mendongeng atau menulis cerpen diabaikan. Kurikulum terlalu normatif, guru kekurangan alat bantu inovatif, dan siswa merasa bosan karena materi yang abstrak. Akibatnya, siswa kehilangan minat dan kemampuan ekspresi diri. pendidikan ini krusial untuk melestarikan identitas bangsa.

Istilah pembelajaran sering terdengar dalam kajian pendidikan di sekolah saat ini. Istilah ini merupakan pengembangan istilah dari ―Proses Belajar Mengajar‖ (PBM). Dalam istilah PBM makna yang familiar bagi guru-guru saat ini adalah guru melakukan pengajaran dalam berbagai materi ajar kepada peserta didik. Sedangkan istilah pembelajaran saat ini menjadi aktual, dimaknai sebagai proses interaksi peserta didik dengan lingkungan belajarnya. Dalam proses ini anak menjadi objek sekaligus subjek belajar. Guru dan lingkungan belajar lainnya menjadi kondisi penting yang menyertai proses pembelajaran.

Dalam pembelajaran sastra tidak dapat dilepaskan dengan pembelajaran bahasa, karena bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan dan perasaan kepada orang lain baik secara tertulis maupun lisan. Bahasa berperan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik. Bahasa juga merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan dapat membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasannya dan perasaannya, dan berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia secara baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra Indonesia (Effendy, 2008: 316).

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SD adalah investasi jangka panjang. Siswa yang mahir berbahasa bukan hanya pintar akademik, tapi juga berempati dan kreatif—kualitas yang dibutuhkan Indonesia Emas 2045. Mari, para pendidik, ubah kelas menjadi panggung sastra hidup agar generasi muda tak hanya melek huruf, tapi juga melek hati.

Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan sumber daya manusia tersebut. Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Menurut Woolfork pembelajaran berlaku apabila sesuatu pengalaman secara relatifnya menghasilkan perubahan kekal dalam pengetahuan dan tingkah laku. Pembelajaran menurut Knowles adalah cara pengorganisasian peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Sastra bersifat indah dan bermanfaat. Dari aspek gubahan, sastra disusun dalam bentuk yang apik dan menarik sehingga orang senang membaca, mendengar, melihat, dan menikmatinya. Sementara itu, dari aspek isi ternyata karya sastra sangat bermanfaat. Didalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan moral yang berguna untuk menanamkan pendidikan karakter.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less