REVITALISASI TRADISI LISAN, ROSMILAN PULUNGAN AJAK SISWA CINTAI BUDAYA MELALUI MEDIA KREATIF
- account_circle admin
- calendar_month 2/12/2022
- visibility 193
- comment 0 komentar
- label Berita
MEDAN – Budaya lokal kini mulai kembali bersinar di ruang kelas melalui sentuhan inovasi digital. Rosmilan Pulungan, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah sukses menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang berfokus pada pelestarian tradisi lisan sebagai sarana pembentukan karakter siswa pada Jumat, 2 Desember 2022.
Kegiatan yang berlangsung di salah satu lembaga pendidikan di Medan ini mengusung tajuk “Transformasi Tradisi Lisan Local Wisdom menjadi Bahan Ajar Interaktif.” Program ini melibatkan kolaborasi aktif antara dosen, guru, dan siswa di sekolah mitra sebagai upaya nyata dalam menghidupkan kembali nilai-nilai luhur daerah.
Inovasi di Tengah Arus Modernitas
Pelaksanaan pengabdian ini didasari oleh kekhawatiran terhadap lunturnya nilai-nilai kearifan lokal di kalangan generasi muda. Selain itu, tenaga pendidik saat ini dinilai memerlukan terobosan materi ajar sastra yang lebih menarik namun tetap sarat akan pesan moral.
Dalam pelaksanaannya, Rosmilan memberikan pelatihan intensif mengenai cara menggali potensi cerita rakyat dan tradisi lisan daerah. Peserta diajak untuk mengemas kembali narasi-narasi lama tersebut menggunakan media digital populer seperti blog dan aplikasi edukasi. Dengan pendekatan ini, kekayaan tradisi lisan menjadi lebih modern dan relevan bagi generasi milenial dan Gen Z.
Menanamkan Nilai Kesantunan Berbahasa
Dalam pemaparannya, Rosmilan menekankan bahwa tradisi lisan bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan sumber utama dalam mengajarkan kesantunan berbahasa. Melalui analisis tindak tutur dalam cerita rakyat, siswa dibimbing untuk memahami cara berkomunikasi yang santun sesuai dengan etika budaya Indonesia.
“Kita ingin siswa tidak hanya jago dalam penguasaan teknologi, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat. Bahasa Indonesia adalah alat utama untuk mentransfer nilai-nilai kesantunan tersebut ke kehidupan sehari-hari,” ungkap Rosmilan.
Sesi Praktik dan Harapan Masa Depan
Kegiatan ini diakhiri dengan sesi praktik yang penuh antusiasme. Para siswa mencoba menyusun kembali teks cerita rakyat menggunakan gaya bahasa mereka sendiri tanpa menghilangkan esensi moral yang terkandung di dalamnya. Produk digital yang dihasilkan menjadi bukti bahwa budaya lokal bisa beradaptasi dengan teknologi.
Program ini diharapkan dapat menjadi model bagi lembaga pendidikan lain dalam mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam kurikulum bahasa secara kreatif. Dengan demikian, pengajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak hanya mencerdaskan secara intelektual, tetapi juga menguatkan karakter berbasis budaya.

Saat ini belum ada komentar