
GENERASI CEMAS: KETIKA MEDIA SOSIAL MEMBENTUK STANDAR HIDUP
By: Della Frice Br Manurung, Ana Theresia Br Sitepu, Dhea Ayuanda
Setiap hari, jutaan orang menggulir layar ponsel mereka, menyaksikan kehidupan yang tampak sempurna dalam unggahan di media sosial. Pose tanpa cela, pencapaian yang menginspirasi, serta gaya hidup mewah yang ditampilkan menciptakan ilusi bahwa kebahagiaan dan kesuksesan memiliki standar visual tertentu. Di balik gemerlapnya dunia digital, ada satu fenomena yang mengakar dalam kehidupan anak muda saat ini: kecemasan sosial akibat standar kepercayaan diri yang dibentuk oleh media sosial.
Menurut data yang dilansir oleh Detik.com, generasi muda saat ini cenderung mengalami kecemasan sosial akibat tekanan untuk selalu tampil sempurna dan mengikuti tren yang berkembang di media sosial. Mereka takut tertinggal dari teman sebaya, merasa perlu untuk terus berpartisipasi dalam kegiatan yang viral, dan khawatir akan penilaian orang lain terhadap kehidupan mereka.
Fenomena ini semakin diperkuat dengan hadirnya istilah FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Only Live Once), dan FOPO (Fear of People’s Opinion) yang kini menjadi tren di kalangan generasi muda. FOMO mencerminkan ketakutan untuk tertinggal dari tren atau informasi terbaru, yang mendorong individu terus terhubung dengan media sosial agar tetap “update”. Sementara itu, YOLO menanamkan semangat untuk menikmati hidup dan mengambil setiap kesempatan, meski sering kali tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Di sisi lain, FOPO menggambarkan kekhawatiran berlebihan terhadap penilaian orang lain, yang pada akhirnya dapat merusak kesehatan mental dan menurunkan rasa percaya diri.
Manipulasi Media Sosial: Obsesi Kesempurnaan dan Krisis Makna Hidup
Algoritma media sosial yang cerdas mampu mengkurasi konten sesuai preferensi pengguna. Namun, tanpa disadari, algoritma ini juga mendorong pengguna untuk terus membandingkan diri mereka dengan kehidupan yang tampak “sempurna” di layar media sosial. Akibatnya, banyak individu merasa tertinggal, tidak cukup baik, dan terus dihantui oleh opini orang lain. Ketergantungan ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup, tetapi juga memicu kecemasan sosial dan gangguan mental lainnya.
Budaya pop dan tren media sosial memperkuat standar kecantikan yang tidak realistis. Fenomena “glow up culture” dan penggunaan filter digital membuat banyak orang, khususnya remaja, terobsesi untuk mencapai kesempurnaan yang sebenarnya ilusi belaka. Demi pengakuan sosial, banyak dari mereka rela melakukan perubahan drastis pada penampilan fisik, yang pada akhirnya merusak kesehatan mental dan harga diri mereka sendiri.
Salah satu faktor utama yang memperburuk kecemasan sosial adalah hilangnya makna hidup yang sejati. Generasi muda yang mengalami Quarter Life Crisis (QLC) sering kali terjebak dalam standar hidup yang ditentukan oleh tren media sosial yang terus berubah. Ketika seseorang tidak memiliki fondasi spiritual yang kuat dan tidak memahami tujuan hidupnya sebagai makhluk Tuhan, ia mudah terombang-ambing oleh nilai-nilai yang dangkal dan tidak pasti.
Solusi Yang Dapat Diberikan
Untuk mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan oleh standar kecantikan yang tidak realistis, diperlukan kesadaran bahwa kecantikan sejati bukanlah semata-mata tentang tampilan fisik, melainkan tentang karakter, akhlak, dan pencapaian diri. Lebih dari itu, standar hidup yang benar adalah standar yang telah ditetapkan dalam Islam, yang memberikan panduan jelas tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan menjalani kehidupan tanpa harus tunduk pada ekspektasi sosial yang menyesatkan.
Dalam Islam, seseorang tidak akan memiliki pola pikir YOLO (You Only Live Once) yang cenderung hedonis dan bebas, karena Islam mengajarkan bahwa hidup di dunia ini bersifat sementara dan setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dengan memahami hakikat hidup dan tujuan keberadaan manusia sebagai hamba Allah, individu akan lebih bijak dalam menjalani kehidupan.
Oleh karena itu, peran pendidikan sangat penting dalam menanamkan akidah Islam yang kuat agar individu mampu membedakan antara standar yang benar dan yang hanya merupakan ilusi duniawi. Dengan pemahaman ini, generasi muda akan lebih percaya diri, mampu menghargai dirinya sendiri, serta tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial yang merusak kesehatan mental.
Negaralah yang punya andil besar dalam hal ini yang memegang peran penting dalam mengatur konten di media sosial serta memastikan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam dapat diterapkan dengan baik. Negara harus merumuskan kebijakan yang membatasi penyebaran konten merugikan di media sosial, mendorong platform digital untuk menghadirkan fitur yang edukatif dan mendukung kesehatan mental, serta memperkuat pendidikan akidah Islam yang mampu membentuk karakter generasi muda.
Oleh karena itu, dengan memperkuat pondasi akidah, membangun kesadaran akan nilai diri yang sejati, serta didukung oleh kebijakan yang bijak dari negara, generasi muda dapat terbebas dari belenggu standar semu media sosial dan menjalani hidup yang lebih bermakna.
admin
25 Jan 2026
Jakarta, 1 Desember 2025 — Beberapa sekolah sekarang mulai ngerasain manfaat dari program Makan Bergizi Gratis yang baru aja jalan minggu ini. Program ini dibuat supaya siswa bisa belajar lebih fokus karena kebutuhan makan mereka sudah terpenuhi. Banyak guru dan orang tua yang senang karena anak-anak jadi lebih siap mengikuti pelajaran. Di sekolah-sekolah yang ikut …
admin
21 Jan 2026
Aceh Tamiang — Tim dosen Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah Medan melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Nasional di Lembaga Bimbingan Belajar SANG JUARA, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (14/1/2026). Kegiatan ini menyasar anak-anak dan masyarakat yang terdampak banjir besar yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Mengusung tema “Pemulihan dan Penguatan Pendidikan …
admin
09 Dec 2025
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) kelompok 39 Anti Perundungan menyelenggarakan kegiatan edukasi bertema “Game Tanpa Bully” di SMP Dharma Pancasila Medan pada Sabtu, (1/11/2025). Kegiatan ini didampingi oleh Merry Alfrida Sitepu, S.H., M.Kn selaku dosen pembimbing dan Arbiahtul Insani Lubis selaku mentor. Kelompok 39 ‘anti perundungan yang terdiri dari 20 mahasiswa-mahasiswi dari berbagai fakultas dan …
admin
08 Dec 2025
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara Kelompok Perundungan 38 MKWK melaksanakan kegiatan sosialisasi mengenai bahaya perundungan (bullying) dan dampaknya terhadap kesehatan mental di MAN 1 Medan. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 25 Oktober 2025, yang diikuti oleh siswa-siswi kelas XII IPA dan XII IPS. Medan Tembung – Kelompok Perundungan 38 Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan kunjungan sosialisasi …
admin
29 Nov 2025
Medan, 29 November 2025, dari laporan trading economics yang dirilis pada tanggal 14 agustus 2025 mengatakan bahwa Indonesia masih menempati tingkat pengangguran tertinggi di ASEAN pada tahun ini. Tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 4,76% pada periode maret 2025. Angka tersebut setara dengan 7 juta penduduk yang tidak memiliki pekerjaan. Meski begitu,data tersebut menunjukan adanya penurunan …
admin
29 Nov 2025
Medan – Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Medan tampak dipadati warga sejak Sabtu pagi, 29 November 2025. Antrean panjang terjadi setelah beberapa SPBU melaporkan stok Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya Pertalite menurun signfikan seiring meningkatnya mobilitas warga sejak banjir mulai surut dan cuaca kembali membaik. Kondisi ini membuat pengendara motor maupun …
18 Dec 2024 2.511 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
03 Jan 2025 1.255 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
03 Jan 2025 1.188 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, bersama tim dosen dari Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu Patumbak. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah melalui pemanfaatan teknologi digital. Bertajuk “Sosialisasi Memanfaatkan Teknologi Digital untuk Mendukung Pembelajaran Berbasis Proyek dan …
Comments are not available at the moment.