Home » Berita » GENERASI CEMAS: KETIKA MEDIA SOSIAL MEMBENTUK STANDAR    HIDUP

GENERASI CEMAS: KETIKA MEDIA SOSIAL MEMBENTUK STANDAR    HIDUP

admin 04 Apr 2025 461

By: Della Frice Br Manurung, Ana Theresia Br Sitepu, Dhea Ayuanda

Setiap hari, jutaan orang menggulir layar ponsel mereka, menyaksikan kehidupan yang tampak sempurna dalam unggahan di media sosial. Pose tanpa cela, pencapaian yang menginspirasi, serta gaya hidup mewah yang ditampilkan menciptakan ilusi bahwa kebahagiaan dan kesuksesan memiliki standar visual tertentu. Di balik gemerlapnya dunia digital, ada satu fenomena yang mengakar dalam kehidupan anak muda saat ini: kecemasan sosial akibat standar kepercayaan diri yang dibentuk oleh media sosial.

Menurut data yang dilansir oleh Detik.com, generasi muda saat ini cenderung mengalami kecemasan sosial akibat tekanan untuk selalu tampil sempurna dan mengikuti tren yang berkembang di media sosial. Mereka takut tertinggal dari teman sebaya, merasa perlu untuk terus berpartisipasi dalam kegiatan yang viral, dan khawatir akan penilaian orang lain terhadap kehidupan mereka.

Fenomena ini semakin diperkuat dengan hadirnya istilah FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Only Live Once), dan FOPO (Fear of People’s Opinion) yang kini menjadi tren di kalangan generasi muda. FOMO mencerminkan ketakutan untuk tertinggal dari tren atau informasi terbaru, yang mendorong individu terus terhubung dengan media sosial agar tetap “update”. Sementara itu, YOLO menanamkan semangat untuk menikmati hidup dan mengambil setiap kesempatan, meski sering kali tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Di sisi lain, FOPO menggambarkan kekhawatiran berlebihan terhadap penilaian orang lain, yang pada akhirnya dapat merusak kesehatan mental dan menurunkan rasa percaya diri.

Manipulasi Media Sosial: Obsesi Kesempurnaan dan Krisis Makna Hidup

Algoritma media sosial yang cerdas mampu mengkurasi konten sesuai preferensi pengguna. Namun, tanpa disadari, algoritma ini juga mendorong pengguna untuk terus membandingkan diri mereka dengan kehidupan yang tampak “sempurna” di layar media sosial. Akibatnya, banyak individu merasa tertinggal, tidak cukup baik, dan terus dihantui oleh opini orang lain. Ketergantungan ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup, tetapi juga memicu kecemasan sosial dan gangguan mental lainnya.

Budaya pop dan tren media sosial memperkuat standar kecantikan yang tidak realistis. Fenomena “glow up culture” dan penggunaan filter digital membuat banyak orang, khususnya remaja, terobsesi untuk mencapai kesempurnaan yang sebenarnya ilusi belaka. Demi pengakuan sosial, banyak dari mereka rela melakukan perubahan drastis pada penampilan fisik, yang pada akhirnya merusak kesehatan mental dan harga diri mereka sendiri.

Salah satu faktor utama yang memperburuk kecemasan sosial adalah hilangnya makna hidup yang sejati. Generasi muda yang mengalami Quarter Life Crisis (QLC) sering kali terjebak dalam standar hidup yang ditentukan oleh tren media sosial yang terus berubah. Ketika seseorang tidak memiliki fondasi spiritual yang kuat dan tidak memahami tujuan hidupnya sebagai makhluk Tuhan, ia mudah terombang-ambing oleh nilai-nilai yang dangkal dan tidak pasti.

Solusi Yang Dapat Diberikan

Untuk mengatasi dampak negatif yang ditimbulkan oleh standar kecantikan yang tidak realistis, diperlukan kesadaran bahwa kecantikan sejati bukanlah semata-mata tentang tampilan fisik, melainkan tentang karakter, akhlak, dan pencapaian diri. Lebih dari itu, standar hidup yang benar adalah standar yang telah ditetapkan dalam Islam, yang memberikan panduan jelas tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan menjalani kehidupan tanpa harus tunduk pada ekspektasi sosial yang menyesatkan.

Dalam Islam, seseorang tidak akan memiliki pola pikir YOLO (You Only Live Once) yang cenderung hedonis dan bebas, karena Islam mengajarkan bahwa hidup di dunia ini bersifat sementara dan setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dengan memahami hakikat hidup dan tujuan keberadaan manusia sebagai hamba Allah, individu akan lebih bijak dalam menjalani kehidupan.

Oleh karena itu, peran pendidikan sangat penting dalam menanamkan akidah Islam yang kuat agar individu mampu membedakan antara standar yang benar dan yang hanya merupakan ilusi duniawi. Dengan pemahaman ini, generasi muda akan lebih percaya diri, mampu menghargai dirinya sendiri, serta tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial yang merusak kesehatan mental.

Negaralah yang punya andil besar dalam hal ini yang memegang peran penting dalam mengatur konten di media sosial serta memastikan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam dapat diterapkan dengan baik. Negara harus merumuskan kebijakan yang membatasi penyebaran konten merugikan di media sosial, mendorong platform digital untuk menghadirkan fitur yang edukatif dan mendukung kesehatan mental, serta memperkuat pendidikan akidah Islam yang mampu membentuk karakter generasi muda.

Oleh karena itu, dengan memperkuat pondasi akidah, membangun kesadaran akan nilai diri yang sejati, serta didukung oleh kebijakan yang bijak dari negara, generasi muda dapat terbebas dari belenggu standar semu media sosial dan menjalani hidup yang lebih bermakna.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pengembangan Membaca Permulaan Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

admin

30 May 2026

By: Khairunnisa Sihotang, Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang paling fundamental dalam kehidupan manusia modern. Kemampuan membaca tidak lahir secara alamiah, melainkan harus dipelajari dan dibimbing secara sistematis sejak usia dini. Dalam konteks pendidikan formal di Indonesia, pengajaran membaca dimulai dari tahap yang paling awal yang dikenal dengan istilah membaca permulaan (beginning reading). Membaca permulaan …

Pengembangan Menyimak / Storytelling

admin

30 May 2026

By: Nikita Karin, Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia memiliki empat keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Di antara keempat keterampilan tersebut, menyimak merupakan keterampilan pertama yang dikuasai manusia sejak lahir, namun ironisnya justru paling sering diabaikan dalam proses pembelajaran di sekolah. Salah satu metode yang dianggap efektif …

DOSEN UMN AL-WASHLIYAH GELAR PELATIHAN INTEGRASI NILAI TATA KRAMA DALAM PEMBELAJARAN DI MTS USWATUN HASANAH BINJAI

admin

08 Feb 2026

Binjai — Dosen Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah, M. Faisal Husna, S.Sos., S.Pd., M.H., melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Pelatihan Guru dalam Integrasi Nilai Tata Krama ke dalam Pembelajaran di MTs Uswatun Hasanah Binjai, Sabtu (13/12/2025). Kegiatan ini diikuti oleh para guru MTs Uswatun Hasanah Binjai dan berlangsung dengan antusias. Kegiatan pengabdian tersebut …

DOSEN UMN AL-WASHLIYAH LAKSANAKAN PENGABDIAN MASYARAKAT DI SMAS UNGGULAN UMMU RAHMAH PATUMBAK

admin

06 Feb 2026

Patumbak — Tim dosen Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SMAS Unggulan Ummu Rahmah Patumbak, Desa Patumbak Kampung, Kecamatan Patumbak, pada Selasa, 3 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 12 orang guru SMAS dan disambut langsung oleh Kepala Sekolah, Nazra Indrawati, S.E., M.Pd. Pengabdian masyarakat ini mengusung penguatan kapasitas guru …

PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS BIKIN BELAJAR SISWA MAKIN FOKUS

admin

25 Jan 2026

Jakarta, 1 Desember 2025 — Beberapa sekolah sekarang mulai ngerasain manfaat dari program Makan Bergizi Gratis yang baru aja jalan minggu ini. Program ini dibuat supaya siswa bisa belajar lebih fokus karena kebutuhan makan mereka sudah terpenuhi. Banyak guru dan orang tua yang senang karena anak-anak jadi lebih siap mengikuti pelajaran. Di sekolah-sekolah yang ikut …

PULIHKAN SEMANGAT BELAJAR ANAK PASCABANJIR, UMN AL-WASHLIYAH GELAR PENGABDIAN NASIONAL DI ACEH TAMIANG

admin

21 Jan 2026

Aceh Tamiang — Tim dosen Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah Medan melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Nasional di Lembaga Bimbingan Belajar SANG JUARA, Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (14/1/2026). Kegiatan ini menyasar anak-anak dan masyarakat yang terdampak banjir besar yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Mengusung tema “Pemulihan dan Penguatan Pendidikan …