Home » Esai dan Opini » APRESIASI SASTRA DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR DI KOTA MEDAN

APRESIASI SASTRA DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR DI KOTA MEDAN

admin 25 Jun 2025 462

By: Erika Ramadhani Siregar
            Di tengah kemajuan teknologi serta arus globalisasi yang begitu pesat, dunia anak-anak mengalami perubahan yang sangat cepat, termasuk dalam hal perihal pembentukan karakter. Kini, banyak dari mereka lebih akrab dengan hiburan konten digital dibandingkan dengan novel cerita. Dunia mereka dipenuhi oleh tayangan Youtube yang bergerak cepat, video Tiktok yang singkat namun memikat dan game online yang interaktif dan kompetitif. Hal ini tentu mengkhawatirkan karena masa anak-anak adalah masa emas dalam menanamkan nilai-nilai moral dan sosial, khususnya di jenjang sekolah dasar.

             Pada jenjang sekolah dasar, mereka tidak hanya sekadar datang untuk belajar membaca dan berhitung, tetapi untuk mengenal diri sendiri, memahami orang lain, dan menanakan benih-benih karakter nilai kehidupan. Lewat puisi sederhana, anak belajar menyuarakan isi hatinya, melalui drama anak memahami peran orang lain dan melalui cerita pendek anak memaknai baik buruknya karakter orang lain. Disitulah letak kekuatan apresiasi sastra baik secara reseptif maupun produktif. Inilah mengapa apresiasi terhadap sastra anak menjadi penting, bukan hanya sebagai metode literasi biasa, tetapi juga sebagai jalan membentuk manusia kecil yang mampu berpikir, memiliki empati dan bertindak secara bijaksana.

            Kota Medan sebagai kota multikultural di Sumatera Utara memilki budaya dan ragam narasi lokal, yang sepatutnya bisa menjadi modal untuk sumber daya pendidikan karakter yang luar biasa. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem pembelajaran di sekolah dasar. Oleh karena itu, perlu upaya serius untuk menghidupkan kembali apresiasi sastra di lingkungan pendidikan dasar sebagai media strategis dalam menanamkan karakter pada anak sejak dini. Dengan mengangkat karya sastra lokal dalam pembelajaran, tidak hanya nilai karakter yang akan terbentuk, tetapi juga identitas budaya anak yang semakin kokoh. Seperti, Sitorus dan Sembiring (2023), peserta didik yang rutin dikenalkan dengan sastra lokal cenderung memiliki tingkat empati yang lebih tinggi karena mereka diajak memahami berbagai konflik dan sudut pandang tokoh dalam cerita. Di sinilah apresiasi sastra bukan hanya sebagai aktivitas membaca atau mendengarkan cerita saja, tetapi juga menjadi proses penanaman nilai-nilai karakter yang mendalam namun dengan cara yang menarik. Selain itu, sastra juga membantu anak mengembangkan imajinasi, memperkaya kosa kata, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif kompetensi yang sangat dibutuhkan di era kurikulum merdeka saat ini yang mengintegrasikan ke dalam nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Kurikulum Merdeka sesungguhnya membuka ruang luas bagi penguatan karakter melalui literasi sastra. Melalui proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), pendekatan tematik, dan kemerdekaan dalam memilih sumber ajar, guru diberi peluang untuk menghadirkan karya sastra anak yang kontekstual dan transformatif. Namun peluang itu tampaknya belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal sastra memberikan kontribusi besar dalam pembentukan karakter siswa yang beriman, berakhlak mulia, mandiri, gotong royong, bernalar kritis, dan berkebinekaan global. Sastra lokal sebagai sumber belajar sangat cocok untuk menumbuhkan enam dimensi tersebut secara kontekstual dan menyenangkan. Melalui karya sastra, anak belajar menjadi manusia yang peka terhadap sesama, bijaksana dalam mengambil keputusan, dan bangga akan budayanya. Tetapi, banyaknya karya lokal tersebut belum menjadi bagian dari bahan ajar atau bacaan wajib di sekolah dasar. Padahal, berdasarkan hasil penelitian oleh Nababan (2024), integrasi karya sastra lokal dalam pembelajaran mampu meningkatkan pemahaman nilai karakter hingga 35% dibandingkan metode konvensional. Cerita rakyat, legenda daerah, atau bahkan pantun Melayu yang sederhana dapat menjadi jembatan efektif dalam memperkenalkan nilai seperti kejujuran, kerja sama, dan tanggung jawab.

              Strategi implementasi apresiasi sastra dalam pengembangan karakter siswa SD juga perlu dirancang dengan pendekatan yang kreatif dan kontekstual. Guru harus berperan aktif dalam memilih karya sastra yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif anak dan sesuai dengan nilai-nilai karakter yang ingin ditanamkan. Selain itu, proses pembelajaran harus dilengkapi dengan aktivitas menarik dan aktif pada anak.  Namun tantangannya adalah minimnya pelatihan bagi guru tentang integrasi sastra dalam pendidikan karakter serta kurangnya ketersediaan bahan ajar sastra lokal yang sistematis serta dukungan dari pihak sekolah untuk memberikan ruang ekspresi kreatif. Untuk itu, dukungan dari Dinas Pendidikan Kota Medan juga sangat diperlukan dalam bentuk pelatihan guru dalam literasi sastra anak dan penyusunan modul pembelajaran berbasis sastra lokal yang sesuai dengan capaian Kurikulum Merdeka serta disesuaikan dengan fase perkembangan anak.

Apresiasi sastra anak di pendidikan dasar bukan sekadar hanya tren dan pengayaan semata, tetapi kebutuhan mendesak dalam membentuk karakter generasi bangsa yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga kaya rasa, berkarakter, dan berbudaya. akan cinta budayanya. Baik itu puisi, prosa, maupun drama adalah media yang tepat menyampaikan dan menanamkan nilai-nilai karakter bangsa tersebut. Kota Medan memiliki kekayaan budaya dan cerita, namun tanpa strategi apresiasi yang sistematis dan tepat, peluang itu akan menjadi ruang kosong belaka. Kurikulum Merdeka yang membuka jalannya, tetapi semua pihak harus berjalan bersama: pendidik, pemerintah, dan masyarakat. Saatnya Kota Medan menempatkan sastra sebagai pilar pendidikan karakter yang utama, bukan sebagai hanya pelengkap, maka mari kita pastikan bahwa mereka mendengar cerita yang tepat, dari tanah yang mereka pijak dan dalam bahasa yang menyentuh hati mereka

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pembelajaran Literasi Di Sekolah Dasar Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Karakter Siswa

admin

26 Apr 2026

By: Rachel Fairus Mumtaz Sebagai calon guru Sekolah Dasar, saya menyadari bahwa proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir serta pembentukan karakter peserta didik. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa untuk aktif, kreatif, dan reflektif. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang secara …

Pembelajaran Sastra Dan Bahasa Di Sekolah Dasar: Perspektif Para Ahli Pendidikan

admin

26 Apr 2026

By: Nurul Fadila Putri HAKIKAT DAN TUJUAN PEMBELAJRAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR             Pembelajaran sastra di sd memiliki hakikat yang berbeda dengan pembelajaran sastra di jenjang yang lebih tinggi. Menurut Saxby dalam Nurgiyanto (2013), sastra anak adalah karya sastra yang secara emosional dan psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak-anak yang bersumber dari pengalaman emosional …

Menurunnya Kemampuan Menulis Siswa di Era Digital

admin

26 Apr 2026

By: Gledy Sintya Situmorang Perkembangan teknologi digital menyebabkan perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Kemudahan akses informasi melalui internet, media sosial, dan berbagai aplikasi komunikasi memberikan dampak positif sekaligus negatif. Salah satu dampak negatif yang terlihat adalah menurunnya kemampuan menulis siswa, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal …

Strategi Cerdas Menggunakan Presentation Script untuk Mengasah Kemampuan Menyimak Siswa di Era Modern

admin

26 Apr 2026

By: Nurhanisa Lubis   Dalam pembelajaran bahasa, keterampilan menyimak merupakan fondasi utama yang mendukung kemampuan berbicara, membaca, dan menulis. Namun, pada praktiknya, banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang disampaikan secara lisan. Hal ini sering disebabkan oleh kurangnya fokus, metode pembelajaran yang monoton, serta penyampaian materi yang tidak terstruktur. Kondisi tersebut menuntut adanya inovasi …

Bahasa di Ujung Jari: Cara Cerdas Belajar di Era Digital

admin

26 Apr 2026

By: Endah Nur Hafizah   Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa. Saat ini, belajar bahasa tidak lagi terbatas pada buku dan ruang kelas. Dengan adanya internet dan berbagai aplikasi digital, siapa pun dapat belajar bahasa kapan saja dan di mana saja. Namun, kemudahan ini sering kali tidak …

Krisis Minat Baca dan Dampaknya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra di Indonesia

admin

26 Apr 2026

By: Delfi Nanda Azmita Minat baca adalah salah satu bagian penting dalam keberhasilan suatu pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Namun yang terjadi di Indonesia, minat baca masyarakat tergolong sangat rendah. Kondisi ini menjadi perhatian yang cukup serius karena kemampuan membaca sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam memahami informasi, berpikir kritis, dan juga  mengembangkan …