Home » Esai dan Opini » APRESIASI SASTRA DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR DI KOTA MEDAN

APRESIASI SASTRA DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR DI KOTA MEDAN

admin 25 Jun 2025 380

By: Erika Ramadhani Siregar
            Di tengah kemajuan teknologi serta arus globalisasi yang begitu pesat, dunia anak-anak mengalami perubahan yang sangat cepat, termasuk dalam hal perihal pembentukan karakter. Kini, banyak dari mereka lebih akrab dengan hiburan konten digital dibandingkan dengan novel cerita. Dunia mereka dipenuhi oleh tayangan Youtube yang bergerak cepat, video Tiktok yang singkat namun memikat dan game online yang interaktif dan kompetitif. Hal ini tentu mengkhawatirkan karena masa anak-anak adalah masa emas dalam menanamkan nilai-nilai moral dan sosial, khususnya di jenjang sekolah dasar.

             Pada jenjang sekolah dasar, mereka tidak hanya sekadar datang untuk belajar membaca dan berhitung, tetapi untuk mengenal diri sendiri, memahami orang lain, dan menanakan benih-benih karakter nilai kehidupan. Lewat puisi sederhana, anak belajar menyuarakan isi hatinya, melalui drama anak memahami peran orang lain dan melalui cerita pendek anak memaknai baik buruknya karakter orang lain. Disitulah letak kekuatan apresiasi sastra baik secara reseptif maupun produktif. Inilah mengapa apresiasi terhadap sastra anak menjadi penting, bukan hanya sebagai metode literasi biasa, tetapi juga sebagai jalan membentuk manusia kecil yang mampu berpikir, memiliki empati dan bertindak secara bijaksana.

            Kota Medan sebagai kota multikultural di Sumatera Utara memilki budaya dan ragam narasi lokal, yang sepatutnya bisa menjadi modal untuk sumber daya pendidikan karakter yang luar biasa. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem pembelajaran di sekolah dasar. Oleh karena itu, perlu upaya serius untuk menghidupkan kembali apresiasi sastra di lingkungan pendidikan dasar sebagai media strategis dalam menanamkan karakter pada anak sejak dini. Dengan mengangkat karya sastra lokal dalam pembelajaran, tidak hanya nilai karakter yang akan terbentuk, tetapi juga identitas budaya anak yang semakin kokoh. Seperti, Sitorus dan Sembiring (2023), peserta didik yang rutin dikenalkan dengan sastra lokal cenderung memiliki tingkat empati yang lebih tinggi karena mereka diajak memahami berbagai konflik dan sudut pandang tokoh dalam cerita. Di sinilah apresiasi sastra bukan hanya sebagai aktivitas membaca atau mendengarkan cerita saja, tetapi juga menjadi proses penanaman nilai-nilai karakter yang mendalam namun dengan cara yang menarik. Selain itu, sastra juga membantu anak mengembangkan imajinasi, memperkaya kosa kata, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif kompetensi yang sangat dibutuhkan di era kurikulum merdeka saat ini yang mengintegrasikan ke dalam nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Kurikulum Merdeka sesungguhnya membuka ruang luas bagi penguatan karakter melalui literasi sastra. Melalui proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), pendekatan tematik, dan kemerdekaan dalam memilih sumber ajar, guru diberi peluang untuk menghadirkan karya sastra anak yang kontekstual dan transformatif. Namun peluang itu tampaknya belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal sastra memberikan kontribusi besar dalam pembentukan karakter siswa yang beriman, berakhlak mulia, mandiri, gotong royong, bernalar kritis, dan berkebinekaan global. Sastra lokal sebagai sumber belajar sangat cocok untuk menumbuhkan enam dimensi tersebut secara kontekstual dan menyenangkan. Melalui karya sastra, anak belajar menjadi manusia yang peka terhadap sesama, bijaksana dalam mengambil keputusan, dan bangga akan budayanya. Tetapi, banyaknya karya lokal tersebut belum menjadi bagian dari bahan ajar atau bacaan wajib di sekolah dasar. Padahal, berdasarkan hasil penelitian oleh Nababan (2024), integrasi karya sastra lokal dalam pembelajaran mampu meningkatkan pemahaman nilai karakter hingga 35% dibandingkan metode konvensional. Cerita rakyat, legenda daerah, atau bahkan pantun Melayu yang sederhana dapat menjadi jembatan efektif dalam memperkenalkan nilai seperti kejujuran, kerja sama, dan tanggung jawab.

              Strategi implementasi apresiasi sastra dalam pengembangan karakter siswa SD juga perlu dirancang dengan pendekatan yang kreatif dan kontekstual. Guru harus berperan aktif dalam memilih karya sastra yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif anak dan sesuai dengan nilai-nilai karakter yang ingin ditanamkan. Selain itu, proses pembelajaran harus dilengkapi dengan aktivitas menarik dan aktif pada anak.  Namun tantangannya adalah minimnya pelatihan bagi guru tentang integrasi sastra dalam pendidikan karakter serta kurangnya ketersediaan bahan ajar sastra lokal yang sistematis serta dukungan dari pihak sekolah untuk memberikan ruang ekspresi kreatif. Untuk itu, dukungan dari Dinas Pendidikan Kota Medan juga sangat diperlukan dalam bentuk pelatihan guru dalam literasi sastra anak dan penyusunan modul pembelajaran berbasis sastra lokal yang sesuai dengan capaian Kurikulum Merdeka serta disesuaikan dengan fase perkembangan anak.

Apresiasi sastra anak di pendidikan dasar bukan sekadar hanya tren dan pengayaan semata, tetapi kebutuhan mendesak dalam membentuk karakter generasi bangsa yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga kaya rasa, berkarakter, dan berbudaya. akan cinta budayanya. Baik itu puisi, prosa, maupun drama adalah media yang tepat menyampaikan dan menanamkan nilai-nilai karakter bangsa tersebut. Kota Medan memiliki kekayaan budaya dan cerita, namun tanpa strategi apresiasi yang sistematis dan tepat, peluang itu akan menjadi ruang kosong belaka. Kurikulum Merdeka yang membuka jalannya, tetapi semua pihak harus berjalan bersama: pendidik, pemerintah, dan masyarakat. Saatnya Kota Medan menempatkan sastra sebagai pilar pendidikan karakter yang utama, bukan sebagai hanya pelengkap, maka mari kita pastikan bahwa mereka mendengar cerita yang tepat, dari tanah yang mereka pijak dan dalam bahasa yang menyentuh hati mereka

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …