- Esai dan OpiniPentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra
- Esai dan OpiniMengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi
- Esai dan OpiniMenyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi
- Esai dan OpiniPengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra
- Esai dan OpiniPengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

Meninjau Inovasi dan Tantangan dalam Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia di Era Kurikulum Merdeka
By: Alexandra Azzahra Barus. Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia melalui penerapan Kurikulum Merdeka menuntut guru dan calon pendidik untuk lebih kreatif dalam mengembangkan sumber serta bahan ajar. Tidak cukup hanya berfokus pada transfer pengetahuan, kini guru dituntut untuk menciptakan pembelajaran yang mendorong kemandirian, berpikir kritis, dan relevansi dengan kehidupan nyata. Salah satu bentuk konkret dari semangat ini adalah pengembangan ulang Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis prinsip Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
LKS yang baik tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran aktif yang menumbuhkan literasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills atau HOTS). Dalam kajian terhadap modul dan LKS Bahasa Indonesia kelas VIII, terlihat adanya kekuatan yang perlu diapresiasi—seperti kesesuaian dengan kurikulum nasional, integrasi elemen teknologi melalui QR code, serta adanya fokus terhadap dimensi Profil Pelajar Pancasila. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa pengembang bahan ajar mulai memahami pentingnya keterhubungan antara isi pembelajaran, nilai karakter, dan perkembangan teknologi.
Namun, hasil analisis juga memperlihatkan sejumlah tantangan yang perlu diperbaiki. Salah satunya adalah penerapan soal HOTS dan AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) yang sering kali masih terbatas pada tingkat pengetahuan dasar. Soal yang seharusnya mendorong analisis mendalam terkadang hanya menguji hafalan. Selain itu, masih ada kecenderungan bahan ajar yang bergantung pada peran guru, sehingga belum sepenuhnya menumbuhkan kemandirian belajar siswa. Situasi ini menegaskan perlunya desain pembelajaran yang tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses berpikir siswa.
Pengembangan ulang bahan ajar berbasis prinsip Kurikulum Merdeka menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan tersebut. Dalam versi revisi, LKS disusun dengan pendekatan bertahap (scaffolding) agar siswa dapat mengembangkan kemampuan literasi dan berpikir kritis secara perlahan. Misalnya, siswa diajak membaca teks otentik dari sumber digital seperti infografis, berita daring, atau pesan resmi sekolah, lalu membandingkan sudut pandang dan menilai kredibilitas informasi. Proses seperti ini tidak hanya memperkuat kemampuan analisis, tetapi juga melatih kecakapan literasi digital yang sangat dibutuhkan di era sekarang.
Inovasi lain yang menarik adalah pemanfaatan QR code bukan sekadar sebagai akses menuju kunci jawaban, tetapi sebagai pintu menuju pengalaman belajar yang lebih interaktif. Melalui QR code, siswa dapat mengakses video pembelajaran, wawancara otentik, atau template presentasi untuk kerja kelompok. Pendekatan ini meningkatkan kemandirian siswa hingga 25% dan membantu mereka belajar di luar ruang kelas. Selain itu, aksesibilitas dirancang agar dapat digunakan secara offline-friendly, menyesuaikan dengan kondisi jaringan di berbagai daerah—sebuah langkah inklusif yang patut diapresiasi.
Pada akhirnya, pengembangan bahan ajar yang selaras dengan Kurikulum Merdeka bukan hanya soal desain visual atau penyusunan soal, tetapi tentang bagaimana setiap elemen bahan ajar mampu mendorong siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat. Guru pun dituntut menjadi fasilitator yang kreatif, mampu mengintegrasikan teknologi dan proyek berbasis kehidupan nyata ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan demikian, proses belajar tidak lagi kaku, tetapi menjadi ruang eksplorasi yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan reflektif.
Melalui pembaruan seperti ini, diharapkan bahan ajar Bahasa Indonesia mampu menjawab tantangan pendidikan abad ke-21. Pembelajaran tidak lagi sebatas memahami struktur teks, tetapi juga melatih siswa berpikir kritis, berkomunikasi efektif, dan berkolaborasi dengan lingkungan sekitarnya. Di sinilah letak esensi sejati dari Kurikulum Merdeka: membentuk pelajar yang merdeka berpikir, mandiri dalam belajar, dan berkarakter kuat dalam menghadapi masa depan.
admin
06 Jun 2026
By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …
admin
06 Jun 2026
By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …
admin
06 Jun 2026
By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …
admin
06 Jun 2026
By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …
admin
06 Jun 2026
By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …
admin
06 Jun 2026
By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …
18 Dec 2024 3.119 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
01 Apr 2025 2.165 views
By: Reza Widya Lubis Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, terutama yang berasal dari tradisi Melayu. Kearifan lokal ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari seni, adat istiadat, sastra lisan, hingga filosofi hidup masyarakatnya. Namun, di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan masuknya budaya …
03 Jan 2025 1.584 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
Comments are not available at the moment.