Home » Esai dan Opini » Meninjau Inovasi dan Tantangan dalam Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia di Era Kurikulum Merdeka

Meninjau Inovasi dan Tantangan dalam Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia di Era Kurikulum Merdeka

admin 03 Nov 2025 154

By: Alexandra Azzahra Barus. Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia melalui penerapan Kurikulum Merdeka menuntut guru dan calon pendidik untuk lebih kreatif dalam mengembangkan sumber serta bahan ajar. Tidak cukup hanya berfokus pada transfer pengetahuan, kini guru dituntut untuk menciptakan pembelajaran yang mendorong kemandirian, berpikir kritis, dan relevansi dengan kehidupan nyata. Salah satu bentuk konkret dari semangat ini adalah pengembangan ulang Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis prinsip Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.

LKS yang baik tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran aktif yang menumbuhkan literasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills atau HOTS). Dalam kajian terhadap modul dan LKS Bahasa Indonesia kelas VIII, terlihat adanya kekuatan yang perlu diapresiasi—seperti kesesuaian dengan kurikulum nasional, integrasi elemen teknologi melalui QR code, serta adanya fokus terhadap dimensi Profil Pelajar Pancasila. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa pengembang bahan ajar mulai memahami pentingnya keterhubungan antara isi pembelajaran, nilai karakter, dan perkembangan teknologi.

Namun, hasil analisis juga memperlihatkan sejumlah tantangan yang perlu diperbaiki. Salah satunya adalah penerapan soal HOTS dan AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) yang sering kali masih terbatas pada tingkat pengetahuan dasar. Soal yang seharusnya mendorong analisis mendalam terkadang hanya menguji hafalan. Selain itu, masih ada kecenderungan bahan ajar yang bergantung pada peran guru, sehingga belum sepenuhnya menumbuhkan kemandirian belajar siswa. Situasi ini menegaskan perlunya desain pembelajaran yang tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses berpikir siswa.

Pengembangan ulang bahan ajar berbasis prinsip Kurikulum Merdeka menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan tersebut. Dalam versi revisi, LKS disusun dengan pendekatan bertahap (scaffolding) agar siswa dapat mengembangkan kemampuan literasi dan berpikir kritis secara perlahan. Misalnya, siswa diajak membaca teks otentik dari sumber digital seperti infografis, berita daring, atau pesan resmi sekolah, lalu membandingkan sudut pandang dan menilai kredibilitas informasi. Proses seperti ini tidak hanya memperkuat kemampuan analisis, tetapi juga melatih kecakapan literasi digital yang sangat dibutuhkan di era sekarang.

Inovasi lain yang menarik adalah pemanfaatan QR code bukan sekadar sebagai akses menuju kunci jawaban, tetapi sebagai pintu menuju pengalaman belajar yang lebih interaktif. Melalui QR code, siswa dapat mengakses video pembelajaran, wawancara otentik, atau template presentasi untuk kerja kelompok. Pendekatan ini meningkatkan kemandirian siswa hingga 25% dan membantu mereka belajar di luar ruang kelas. Selain itu, aksesibilitas dirancang agar dapat digunakan secara offline-friendly, menyesuaikan dengan kondisi jaringan di berbagai daerah—sebuah langkah inklusif yang patut diapresiasi.

Pada akhirnya, pengembangan bahan ajar yang selaras dengan Kurikulum Merdeka bukan hanya soal desain visual atau penyusunan soal, tetapi tentang bagaimana setiap elemen bahan ajar mampu mendorong siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat. Guru pun dituntut menjadi fasilitator yang kreatif, mampu mengintegrasikan teknologi dan proyek berbasis kehidupan nyata ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dengan demikian, proses belajar tidak lagi kaku, tetapi menjadi ruang eksplorasi yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan reflektif.

Melalui pembaruan seperti ini, diharapkan bahan ajar Bahasa Indonesia mampu menjawab tantangan pendidikan abad ke-21. Pembelajaran tidak lagi sebatas memahami struktur teks, tetapi juga melatih siswa berpikir kritis, berkomunikasi efektif, dan berkolaborasi dengan lingkungan sekitarnya. Di sinilah letak esensi sejati dari Kurikulum Merdeka: membentuk pelajar yang merdeka berpikir, mandiri dalam belajar, dan berkarakter kuat dalam menghadapi masa depan.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …