Home » Esai dan Opini » Fenomena Budaya Flexing di Media Sosial Sebagai Bentuk Perubahan Budaya dan Pengaruh Sosial di Masyarakat Modern

Fenomena Budaya Flexing di Media Sosial Sebagai Bentuk Perubahan Budaya dan Pengaruh Sosial di Masyarakat Modern

admin 04 Nov 2025 267

By: Rafaza Pramudito. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia maya dipenuhi dengan berbagai unggahan yang menampilkan kemewahan: mobil mewah, liburan ke luar negeri, pakaian bermerek, hingga makan di restoran mahal. Fenomena ini dikenal luas dengan istilah “flexing”, yaitu perilaku memamerkan kekayaan atau pencapaian di media sosial. Meski sekilas tampak seperti ekspresi kebanggaan pribadi, fenomena ini sesungguhnya mencerminkan perubahan budaya dan pengaruh sosial yang signifikan di masyarakat modern. Media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga panggung identitas, tempat di mana status sosial dan eksistensi diri ditampilkan serta diukur melalui “likes” dan “views”.

Perubahan Budaya di Era Digital Budaya

Masyarakat Indonesia dahulu sangat menjunjung tinggi nilai kesederhanaan dan kebersamaan. Namun, arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar. Media sosial menjadi ruang baru yang menggeser cara individu berinteraksi dan membangun identitas. Nilai kesederhanaan kini bersaing dengan budaya pencitraan, di mana yang tampak di layar seringkali dianggap lebih penting daripada kenyataan. Orang tidak hanya ingin hidup nyaman, tetapi ingin terlihat hidup nyaman. Perubahan ini menunjukkan bagaimana budaya materialistik dan individualistik mulai tumbuh di tengah masyarakat yang dulunya lebih kolektif. Fenomena flexing menjadi simbol dari pergeseran nilai tersebut dari orientasi pada kesederhanaan menuju pencapaian status sosial melalui kepemilikan barang dan gaya hidup. Hal ini juga memperlihatkan pengaruh kuat media sosial sebagai agen sosialisasi baru yang membentuk perilaku dan pandangan masyarakat, terutama generasi muda.

Teori Interaksionisme Simbolik: Makna di Balik “Pamer”

Untuk memahami fenomena ini, teori interaksionisme simbolik yang dikembangkan oleh Herbert Blumer sangat relevan. Teori ini berangkat dari gagasan bahwa makna sosial terbentuk melalui interaksi antara individu dan simbol. Dalam konteks flexing, foto-foto kemewahan, video unboxing barang mewah, atau unggahan liburan ke tempat eksklusif menjadi simbol status dan keberhasilan.

Makna dari simbol tersebut tidak muncul begitu saja, tetapi dihasilkan dari proses interaksi sosial di dunia maya. Ketika seseorang melihat unggahan flexing, mereka menafsirkan makna tertentu misalnya, “orang ini sukses”, “hidupnya bahagia”, atau bahkan “aku ingin seperti dia”. Dalam proses itu, muncul perilaku imitasi atau keinginan untuk meniru demi mendapatkan pengakuan sosial yang sama. Di sinilah terlihat bagaimana media sosial menjadi arena pembentukan makna dan identitas. Orang tidak hanya berbagi momen hidup, tetapi juga “menjual” citra diri mereka kepada publik. Teori Konsumsi Masyarakat (Jean Baudrillard): Gaya Hidup Sebagai Simbol Selain itu, fenomena flexing juga bisa dijelaskan melalui teori konsumsi masyarakat dari Jean Baudrillard. Menurutnya, masyarakat modern tidak lagi mengonsumsi barang hanya karena fungsinya, tetapi karena makna simbolik yang melekat pada barang tersebut. Barang mewah, misalnya, bukan sekadar alat, melainkan simbol gengsi, prestise, dan status sosial.

Dalam konteks media sosial, konsumsi menjadi bagian dari pertunjukan identitas. Ketika seseorang membeli tas bermerek atau mengunggah video di kafe mahal, tujuan utamanya bukan hanya menikmati produk, melainkan menunjukkan identitas sosial tertentu kepada publik. Flexing, dengan demikian, menjadi bentuk komunikasi sosial: individu menyampaikan pesan tentang siapa dirinya, seberapa “bernilai” dia di mata orang lain, dan kelompok sosial mana yang ingin dia masuki.

Baudrillard menyebut fenomena ini sebagai “simulacra”, yaitu realitas semu di mana tanda dan simbol lebih penting daripada realitas itu sendiri. Kehidupan di media sosial menjadi semacam “panggung sandiwara” tempat individu memainkan peran sosial melalui simbol-simbol konsumsi. Dalam dunia seperti ini, yang penting bukan lagi siapa kita sebenarnya, melainkan bagaimana kita tampil dan diakui. Dampak Sosial dan Psikologis. Fenomena flexing membawa dampak yang kompleks bagi masyarakat. Di satu sisi, ia dapat memotivasi sebagian orang untuk bekerja lebih keras, mengejar prestasi, dan memperbaiki taraf hidup. Namun, di sisi lain, ia juga menimbulkan tekanan sosial yang besar. Banyak orang merasa rendah diri atau tidak cukup berhasil karena membandingkan diri dengan citra ideal yang ditampilkan orang lain. Padahal, apa yang tampak di media sosial seringkali hanya potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan realitas utuh.

Selain itu, budaya flexing dapat memperkuat ketimpangan sosial. Orang yang tidak mampu meniru gaya hidup “mewah” bisa merasa terpinggirkan atau minder. Bahkan, ada yang nekat berhutang, memalsukan gaya hidup, atau melakukan hal-hal ekstrem demi menjaga citra di dunia maya. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana pengaruh sosial dapat mengubah perilaku individu secara drastis, bahkan melampaui batas rasionalitas. Refleksi dan Tantangan Budaya.

Budaya flexing menunjukkan bahwa perubahan budaya tidak selalu bersifat negatif, tetapi harus dipahami secara kritis. Di satu sisi, media sosial memberi ruang bagi kreativitas dan ekspresi diri; di sisi lain, ia juga menumbuhkan budaya kompetisi sosial yang dangkal. Tantangannya adalah bagaimana masyarakat, terutama generasi muda, bisa memaknai ulang nilai kesuksesan bukan dari seberapa banyak barang yang bisa ditunjukkan, tetapi dari kontribusi dan dampak positif yang bisa diberikan kepada orang lain. Pendidikan karakter dan literasi digital menjadi penting untuk membangun kesadaran kritis terhadap budaya digital. Masyarakat perlu belajar memilah antara realitas dan citra, antara pencapaian sejati dan pencitraan. Dengan begitu, media sosial bias kembali menjadi ruang berbagi inspirasi, bukan ajang kompetisi status.

Fenomena flexing di media sosial mencerminkan perubahan budaya besar yang sedang terjadi di masyarakat modern. Ia menunjukkan bagaimana interaksi sosial kini bergeser dari dunia nyata ke dunia maya, dan bagaimana simbol-simbol konsumsi menjadi alat komunikasi baru dalam membangun identitas diri. Melalui teori interaksionisme simbolik dan teori konsumsi Baudrillard, kita memahami bahwa perilaku flexing bukan sekadar soal pamer harta, tetapi cermin dari struktur sosial dan nilai-nilai budaya yang sedang berubah. Pada akhirnya, fenomena ini mengingatkan kita bahwa di balik layar gawai dan gemerlap media sosial, terdapat kebutuhan manusia yang paling mendasar: diakui, dihargai, dan diterima. Pertanyaannya adalah, sampai kapan kita akan terus mengukur kebahagiaan dari apa yang tampak, bukan dari apa yang benar-benar kita rasakan?

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …