Home » Esai dan Opini » FENOMENA OVERTHINKING DI KALANGAN REMAJA DI ERA DIGITAL

FENOMENA OVERTHINKING DI KALANGAN REMAJA DI ERA DIGITAL

admin 21 Dec 2025 75

By: Zafirah Azzah,Fenomena overthinking di kalangan remaja di era digital merupakan salah satu masalah psikologis yang semakin sering terjadi seiring berkembangnya teknologi dan media sosial. Kemajuan teknologi memang memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi remaja yang tumbuh dalam lingkungan serba digital. Mereka dapat berkomunikasi dengan cepat, memperoleh informasi tanpa batas, serta mengekspresikan diri melalui berbagai platform. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul dampak psikologis yang tidak bisa diabaikan. Salah satunya adalah kecenderungan untuk berpikir secara berlebihan atau yang dikenal dengan istilah overthinking. Overthinking membuat seseorang terus-menerus merenungkan hal-hal yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi, tanpa menemukan solusi yang jelas. Kondisi ini membuat pikiran remaja dipenuhi oleh rasa cemas, takut, dan khawatir yang berlebihan.

Remaja merupakan kelompok usia yang sedang berada pada tahap pencarian jati diri. Mereka berusaha memahami siapa diri mereka, apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka ingin dilihat oleh orang lain. Dalam proses ini, media sosial menjadi sarana utama untuk bereksperimen dengan identitas dan mendapatkan pengakuan sosial. Namun, paparan yang berlebihan terhadap kehidupan orang lain di media sosial sering kali menimbulkan efek negatif berupa perbandingan sosial yang tidak sehat. Remaja melihat unggahan teman atau figur publik yang menampilkan kesuksesan, kebahagiaan, dan kehidupan sempurna, lalu membandingkannya dengan realitas diri mereka sendiri. Akibatnya, muncul rasa tidak puas, rendah diri, dan perasaan gagal yang kemudian memicu pemikiran berlebihan. Mereka mulai mempertanyakan mengapa hidup mereka tidak seindah orang lain, apa yang salah dengan diri mereka, dan bagaimana cara agar bisa menjadi seperti orang lain. Pikiran-pikiran semacam itu terus berulang hingga akhirnya menjadi overthinking yang melelahkan.

Selain faktor perbandingan sosial, kebutuhan validasi juga menjadi penyebab kuat munculnya overthinking di era digital. Banyak remaja yang mengaitkan harga diri mereka dengan jumlah “like”, komentar, atau pengikut di media sosial. Ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan, muncul rasa cemas dan keraguan terhadap diri sendiri. Mereka mulai berpikir berlebihan tentang alasan kurangnya perhatian dari orang lain. Apakah karena penampilan mereka tidak menarik? Apakah karena tulisan mereka tidak cukup bagus? Proses berpikir yang terus-menerus tentang hal-hal kecil seperti ini dapat menimbulkan tekanan psikologis dan mengganggu keseimbangan emosional.

Overthinking pada remaja juga dipicu oleh melimpahnya informasi di era digital. Akses tanpa batas ke berbagai sumber informasi membuat remaja menerima begitu banyak rangsangan dalam waktu singkat. Mereka membaca berita, melihat opini publik, menonton video, dan mengikuti tren yang terus berubah. Informasi yang bertentangan atau tidak pasti sering membuat mereka bingung dan memicu analisis berlebihan. Mereka mencoba memikirkan semua kemungkinan, menimbang setiap keputusan, dan mencari jawaban yang sempurna, padahal tidak semua hal dapat dikendalikan atau dipastikan. Situasi ini dikenal sebagai information overload, di mana otak bekerja terlalu keras untuk memproses informasi yang berlebihan hingga akhirnya kelelahan dan tidak mampu fokus.

Dalam psikologi, fenomena overthinking dapat dijelaskan melalui beberapa teori ilmiah. Salah satunya adalah Teori Response Styles yang dikemukakan oleh Susan Nolen-Hoeksema (1991). Teori ini menjelaskan bahwa cara seseorang merespons perasaan negatif atau stres dapat memengaruhi kondisi emosional mereka. Salah satu bentuk respons yang paling berisiko adalah rumination, yaitu kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan penyebab dan konsekuensi dari perasaan negatif tanpa mencari solusi. Ketika seseorang mengalami perasaan sedih, cemas, atau kecewa, alih-alih melakukan tindakan yang dapat mengurangi perasaan tersebut, mereka justru terjebak dalam lingkaran pikiran yang berulang. Dalam konteks remaja di era digital, teori ini sangat relevan. Ketika remaja merasa tidak percaya diri karena membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, mereka cenderung merenung secara berlebihan. Mereka terus bertanya-tanya mengapa mereka tidak sebaik teman-temannya, mengapa mereka tidak mendapatkan pengakuan, atau apa yang salah dengan diri mereka. Pikiran semacam ini tidak hanya memperburuk suasana hati tetapi juga membuat mereka semakin sulit keluar dari lingkaran kecemasan.

Teori kedua yang dapat digunakan untuk memahami overthinking adalah Teori Metakognisi yang dikembangkan oleh Adrian Wells dan Matthews. Teori ini berfokus pada keyakinan individu terhadap pikiran mereka sendiri, atau disebut metacognitive beliefs. Menurut teori ini, bukan hanya isi pikiran negatif yang menjadi masalah, tetapi juga bagaimana seseorang menilai dan menanggapi pikirannya. Sebagian orang memiliki keyakinan positif terhadap kebiasaan berpikir berlebihan, misalnya mereka percaya bahwa terus memikirkan suatu masalah akan membantu menemukan solusi terbaik atau mencegah kesalahan di masa depan. Padahal, keyakinan semacam itu justru menjadi penyebab utama seseorang terjebak dalam siklus overthinking. Dalam era digital, keyakinan ini diperkuat oleh budaya yang menuntut kesempurnaan. Remaja merasa bahwa mereka harus selalu tampil sempurna di dunia maya, tidak boleh salah, dan harus selalu mengikuti tren terkini. Akibatnya, mereka berpikir berlebihan sebelum melakukan sesuatu, khawatir tentang apa yang akan dipikirkan orang lain, dan takut menghadapi penilaian sosial. Pikiran yang seharusnya membantu malah menjadi sumber stres yang tak berujung.

Kedua teori tersebut saling melengkapi dalam menjelaskan bagaimana overthinking muncul dan bertahan dalam kehidupan remaja. Teori Response Styles menggambarkan bagaimana remaja bereaksi terhadap perasaan negatif dengan cara ruminasi, sedangkan Teori Metakognisi menjelaskan mengapa mereka sulit menghentikan pikiran tersebut karena memiliki keyakinan bahwa berpikir terus-menerus itu bermanfaat. Dalam konteks era digital, keduanya menjadi semakin relevan karena lingkungan online menyediakan stimulus konstan yang memperkuat siklus pikiran berlebihan. Ketika remaja melihat unggahan baru, komentar, atau pesan, mereka langsung terpicu untuk berpikir dan menganalisis, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.

Dampak dari overthinking pada remaja sangat nyata dan luas. Secara emosional, remaja menjadi lebih mudah cemas, stres, dan tidak tenang. Pikiran yang terus aktif menguras energi mental dan membuat mereka sulit beristirahat. Banyak remaja yang mengeluhkan sulit tidur karena otak mereka tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu, baik tentang masa lalu maupun masa depan. Secara kognitif, overthinking menurunkan kemampuan fokus dan konsentrasi, sehingga mengganggu proses belajar dan kinerja akademik. Mereka menjadi kurang produktif, lebih mudah lelah, dan sulit membuat keputusan. Secara sosial, overthinking dapat membuat remaja menarik diri karena takut salah bicara atau takut dihakimi oleh orang lain. Mereka lebih memilih diam daripada berinteraksi, yang pada akhirnya membuat mereka merasa kesepian. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berkembang menjadi depresi atau gangguan kecemasan yang serius jika tidak ditangani dengan baik.

Untuk mengurangi kecenderungan overthinking, diperlukan upaya dari berbagai pihak. Remaja perlu dibekali dengan keterampilan regulasi emosi dan pengelolaan pikiran yang sehat, seperti latihan mindfulness, cognitive reappraisal, dan manajemen stres. Pendidikan literasi digital juga penting agar mereka dapat memahami bahwa apa yang ditampilkan di media sosial sering kali tidak sepenuhnya nyata, melainkan hasil penyuntingan dan pencitraan. Selain itu, penting bagi lingkungan sekitar, terutama keluarga dan sekolah, untuk menciptakan ruang komunikasi yang terbuka. Remaja perlu merasa bahwa mereka dapat berbicara tentang apa yang mereka rasakan tanpa takut dihakimi. Dukungan sosial yang kuat dapat membantu mereka keluar dari pikiran yang berlebihan dan memandang hidup dengan lebih realistis.

Fenomena overthinking pada remaja di era digital bukan sekadar masalah individu, melainkan juga cerminan dari perubahan sosial dan budaya yang dibawa oleh teknologi. Era digital menawarkan konektivitas yang luas, namun juga menuntut kemampuan mental yang kuat untuk mengelola informasi, emosi, dan ekspektasi. Tanpa kemampuan tersebut, remaja akan mudah terjebak dalam arus pikiran yang tidak pernah berhenti. Oleh karena itu, memahami overthinking melalui teori-teori psikologis dan mengajarkan strategi pengendalian diri menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental remaja di tengah derasnya arus digitalisasi.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …