PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DI KALANGAN REMAJA
- account_circle admin
- calendar_month 21/12/2025
- visibility 771
- comment 0 komentar
- label Esai dan Opini
By: Mawardah, Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada abad ke-21 telah membawa perubahan penting terhadap cara manusia berinteraksi dan berbahasa. Salah satu bentuk perubahan tersebut tampak jelas melalui kehadiran media sosial yang kini menjadi bagian integral dalam kehidupan remaja. Media sosial seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, X (Twitter), dan lain sebagainya tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai medium utama komunikasi dan pembentukan identitas sosial. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, media sosial turut memengaruhi penggunaan Bahasa Indonesia, baik dari aspek kosakata, struktur kalimat, maupun sikap berbahasa remaja.
Salah satu pengaruh yang paling menonjol ialah munculnya ragam bahasa baru yang berkembang pesat di dunia maya. Ragam bahasa ini ditandai oleh penggunaan bahasa gaul, singkatan, serta campuran antara Bahasa Indonesia dan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Contohnya adalah penggunaan istilah seperti vibes, random, cringe, btw, atau bentuk-bentuk ekspresi khas seperti wkwk, gw, dan lo. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi ruang terbuka bagi kreativitas linguistik remaja. Meskipun demikian, penggunaan bentuk-bentuk bahasa tersebut secara berlebihan berpotensi menurunkan kepekaan remaja terhadap penggunaan Bahasa Indonesia yang baku dan sesuai kaidah.
Selain aspek kosakata, media sosial juga memengaruhi struktur dan gaya penulisan remaja. Pola komunikasi yang cepat dan ringkas di media sosial mendorong terbentuknya kebiasaan menulis tanpa memperhatikan ejaan, tanda baca, serta struktur kalimat yang benar. Misalnya, kalimat seperti “aq gk ngerti knp dia gt” sering ditemukan dalam interaksi daring. Kebiasaan tersebut, apabila terus berlangsung, dapat berdampak negatif terhadap kemampuan berbahasa formal remaja, terutama dalam konteks akademik. Akibatnya, terjadi pergeseran dari bahasa tulis formal menuju bentuk komunikasi yang lebih praktis dan tepat, namun tidak sesuai dengan kaidah bahasa.
Meskipun demikian, tidak semua pengaruh media sosial terhadap Bahasa Indonesia bersifat negatif. Media sosial juga dapat menjadi sarana efektif dalam memperkenalkan dan mempromosikan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Banyak konten kreator, lembaga pendidikan, maupun komunitas literasi yang memanfaatkan media sosial untuk menyebarluaskan pengetahuan kebahasaan. Akun-akun edukatif yang membahas ejaan, diksi, dan struktur kalimat telah membantu meningkatkan kesadaran berbahasa di kalangan-kalangan pengguna atau anak muda. Dengan demikian, media sosial memiliki potensi besar sebagai ruang pembelajaran bahasa apabila dimanfaatkan secara baik dan bijak.
Oleh karena itu, diperlukan sikap kritis dan tanggung jawab pembentukan kata dari para remaja dalam menggunakan media sosial. Mereka perlu menyadari bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga simbol identitas nasional yang mencerminkan budaya dan kepribadian bangsa. Pemanfaatan Bahasa Indonesia secara tepat dan kontekstual dapat menjaga keberlanjutan dan martabat bahasa tersebut di tengah derasnya pengaruh era globalisasi.
Sebagai kesimpulan, media sosial memberikan dampak pengaruh yang kompleks terhadap penggunaan kata Bahasa Indonesia di kalangan remaja. Di satu sisi, media sosial membuka ruang inovasi dan kreativitas berbahasa; namun di sisi lain, ia juga dapat menimbulkan penurunan kualitas berbahasa jika tidak diimbangi dengan kesadaran pembentukan kata. Oleh sebab itu, pendidikan bahasa dan literasi digital perlu berjalan beriringan untuk menumbuhkan generasi muda yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri kebahasaan sebagai penutur Bahasa Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa media sosial membuat bahasa jadi lebih dinamis dan kreatif, tapi di sisi lain juga bisa menurunkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena itu, penting bagi remaja untuk lebih sadar dalam memilih kata saat berkomunikasi, terutama dalam situasi formal atau akademis. Kita tetap bisa mengikuti trend di media sosial tanpa harus meninggalkan identitas bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Dengan keseimbangan itu, penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja bisa tetap hidup, berkembang, dan relevan dengan zamannya.

Saat ini belum ada komentar