HILANGNYA KESADARAN MASYARAKAT TERHADAP KEBERSIHAN ALAM
- account_circle admin
- calendar_month 21/12/2025
- visibility 535
- comment 0 komentar
- label Esai dan Opini
By: Irma Noviana, Alam adalah rumah besar bagi seluruh makhluk hidup yang ada di bumi ini yang harus dijaga dan dilestarikan. Namun, kini rumah itu telah kotor dan rusak karena ulah manusia sendiri. banyak masyarakat yang kehilangan kesadar terhadap kebersihan alam, di berbagai sudut kota maupun desa, tumpukan sampah menjadi pemandangan yang sudah biasa dilihat. Sungai yang dulunya jernih kini berubah menjadi tempat pembuangan limbah, dan udara bersih perlahan digantikan oleh polusi. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan persoalan lingkungan, tetapi juga krisis kesadaran manusia terhadap tanggung jawab ekologisnya.
Menurut Gordon Allport kebersihan alam dapat dipahami melalui Teori Sikap (Attitude Theory) yang dimana teori ini adalah untuk mengetahui sikap seseorang terbentuk dari komponen kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), dan konatif (tindakan). Banyak masyarakat sebenarnya tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu salah,dan sebagian juga marasa tidak nyaman melihat lingkungan kotor, tetapi tidak semua melanjutkan kesadaran itu kedalam tindakan nyata. Artinya kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku menjadi akar dari kehilangan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, dan masyarakat sering sekali menganggap bahwasan nya membuang sampah dan membersihkan lingkungan hanya lah tanggung jawab petugas kebersihan dan pemerintah saja padahal, itu sudah menjadi tanggung jawab pribadi dan kesadaran diri. Anak-anak juga tumbuh tanpa di ajarkan pentingnya menjaga kebersihan alam, sehingga mereka terbiasa membuang sampah sembarangan atau menggunakan pelastik sekali pakai tanpa pikir Panjang.
Selain itu,Teori Perlaku Terencana (Theory of Planned Behavior) dari Ajzen tahun 1991 juga dapat menjelaskan kondisi ini. Teori ini menyatakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu, sikap terhadap perilaku, pengaruh lingkungan sosial, dan persepsi kontrol diri. Banyak masyarakat yang sebenarnya berniat menjaga kebersihan, tetapi lingkungan sekitar tidak mendukung. Ketika orang lain di sekitarnya terbiasa membuang sampah sembarangan, maka perilaku positif menjadi sulit dilakukan. Lemahnya kontrol sosial membuat niat baik untuk menjaga kebersihan tidak berkembang menjadi kebiasaan.
Gaya hidup modern yang serba instan ikut menyumbang kerusakan lingkungan. Penggunaan kemasan plastik,botol sekali pakai, dan barang-barang yang sulit terurai semakin marak karena dianggap praktis. Ironisnya, sebagian masyarakat tahu dampaknya tetapi memilih abai karena mengutamakan kenyamanan sesaat.Kesadaran lingkungan pun semakin terkikis oleh pola hidup konsumtif yang tak ramah bumi.
Padahal, menjaga kebersihan alam memiliki dampak besar bagi kelangsungan hidup manusia. Lingkungan yang bersih menciptakan udara segar, air yang sehat, dan tanah yang subur. Sebaliknya, lingkungan yang kotor menyebabkan bencana seperti banjir, longsor penyakit menular, hingga kerusakan ekosistem. Dengan kata lain, merusak alam berarti merusak kehidupan manusia itu sendiri.
Selain itu, pemerintah juga harus tegas dalam membuat aturan tentang kebersihan lingkungan. Perlu ada tempat sampah yang cukup di area publik, sistem pengangkutan sampah yang teratur, dan sanksi yang jelas untuk orang yang melanggar aturan kebersihan. Tapi yang paling penting, pemerintah juga harus aktif mengedukasi masyarakat tentang cara mengelola sampah dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Misalnya lewat kampanye “kurangi plastik”, program gotong royong bulanan, atau penyuluhan ke sekolah-sekolah.
Selain pemerintah, komunitas masyarakat juga punya peran besar. Di banyak daerah, sudah ada komunitas peduli lingkungan yang rutin melakukan aksi bersih sungai, tanam pohon, atau edukasi tentang daur ulang. Kegiatan seperti ini tidak hanya membuat lingkungan jadi lebih bersih, tapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Kalau setiap orang ikut berperan, sekecil apa pun, dampaknya akan sangat besar bagi kelestarian alam.
Di era digital seperti sekarang, teknologi juga bisa dimanfaatkan untuk menjaga kebersihan. Misalnya dengan membuat aplikasi pelaporan sampah, kampanye digital tentang kebersihan, atau konten edukatif di media sosialseperti salah satu contoh ada 5 pemuda yang membuat satu tim untuk membersihkan sampah di sungai di beberapa provinsi. Setiap kegiatan mereka saat membersihkan sampah selalu di vidio lalu diupload di media sosial dari salah satu Aplikasi yaitu TikTok, 5 pamuda itu memiliki nama tim yaitu Pandawara. Dari kegiatan meraka dapat memberi contoh kepada seluruh masyarakat indonesia cara menjaga kebersihan lingkungan. Dengan begitu, kesadaran lingkungan bisa tersebar lebih luas dan mudah diterima masyarakat.
Namun, semua usaha ini tidak akan berhasil tanpa adanya kesadaran dari dalam diri setiap orang. Kita harus mulai menanamkan dalam pikiran bahwa bumi ini bukan milik kita sendiri, tapi juga milik generasi mendatang. Kalau kita terus merusak dan mengotori lingkungan, anak cucu kita yang akan menanggung akibatnya. Maka dari itu, penting untuk memulai perubahan dari hal-hal kecil di sekitar kita.
Misalnya, membuang sampah pada tempatnya, membawa botol minum sendiri biar tidak beli air kemasan, menggunakan tas belanja kain, atau menanam tanaman di pekarangan rumah. Hal sederhana seperti ini kalau dilakukan bersama-sama bisa membawa perubahan besar. Jangan tunggu orang lain duluan, karena perubahan lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Banyak orang menganggap masalah kebersihan itu hal sepele, padahal dari hal kecil seperti sampah bisa muncul masalah besar. Sampah yang dibuang sembarangan bisa menyumbat saluran air dan menyebabkan banjir. Sampah plastik yang terbawa ke laut bisa membunuh hewan-hewan laut. Kalau sudah begitu, bukan hanya alam yang dirugikan, tapi juga manusia. Jadi, menjaga kebersihan bukan cuma tentang keindahan, tapi juga tentang kelangsungan hidup.
Selain itu, kita juga harus menumbuhkan rasa peduli dan empati terhadap lingkungan. Ketika kita peduli, kita tidak akan tega melihat sungai penuh sampah atau tanah yang kering karena polusi. Rasa peduli inilah yang akan membuat kita mau berubah dan berbuat sesuatu. Sekolah, kampus, dan masyarakat bisa membuat kegiatan bersama yang menumbuhkan kepedulian ini, seperti gotong royong, bakti sosial, atau lomba lingkungan bersih.
Kita juga bisa belajar dari kearifan lokal di banyak daerah di Indonesia. Dulu, masyarakat tradisional sangat menghormati alam. Mereka percaya bahwa alam harus dijaga karena manusia hidup bergantung padanya. Nilai-nilai seperti ini seharusnya tidak hilang meskipun zaman sudah modern. Justru, nilai itu bisa digabung dengan teknologi agar tercipta keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian. Menjaga alam bukan berarti kembali hidup sederhana tanpa teknologi, tapi menggunakan teknologi dengan bijak. Misalnya memanfaatkan energi matahari, daur ulang sampah, atau membuat produk ramah lingkungan. Kalau setiap inovasi dibuat dengan memperhatikan dampak terhadap alam, maka kita bisa tetap maju tanpa harus merusak bumi.
Pada akhirnya, semua kembali kepada kesadaran masing-masing. Alam sudah memberi kita banyak hal udara segar, air bersih, makanan, dan tempat. tinggal. Tapi sering kali, manusia lupa untuk berterima kasih dan malah merusaknya. Padahal, kalau alam rusak, manusia juga yang akan menderita. Oleh karena itu, sudah saatnya kita berhenti menunggu orang lain dan mulai bertindak dari diri sendiri. Menjaga kebersihan alam bukan tugas besar yang harus dilakukan dengan biaya mahal. Cukup dengan hal kecil tapi dilakukan terus-menerus, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan mengurangi penggunaan plastik, itu sudah langkah besar untuk menyelamatkan bumi.
Dengan begitu, kesadaran masyarakat terhadap kebersihan alam bisa tumbuh kembali. Lingkungan yang bersih akan menciptakan kehidupan yang lebih sehat dan nyaman. Kita semua punya peran dalam menjaga bumi, karena bumi bukan warisan dari nenek moyang, tetapi titipan untuk anak cucu kita nanti. Maka dari itu, menjaga kebersihan alam berarti menjaga masa depan manusia itu sendiri.

Saat ini belum ada komentar