
DAMPAK MEDIA TERHADAP REMAJA TANPA PENGAWASAN
By. Ibnu Dzakwan, Perkembangan teknologi yang sangat cepat pada abad ke-21 telah menghasilkan transformasi signifikan dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Salah satu pengaruh paling terlihat dari kemajuan ini adalah kemudahan dalam mendapatkan akses ke berbagai jenis media, baik media tradisional seperti televisi dan radio, maupun media digital seperti internet, media sosial, serta platform streaming. Bagi generasi muda, media kini menjadi elemen penting dalam kehidupan sehari-hari mereka. Melalui media, mereka mampu mendapatkan informasi, hiburan, dan melakukan interaksi dengan dunia luar dengan cepat dan secara luas. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, media juga menyimpan risiko yang cukup besar, terutama jika penggunaannya tidak dipantau atau dikendalikan dengan baik.
Media yang tidak terkelola dapat berpengaruh signifikan terhadap cara berpikir, tindakan, bahkan etika kaum muda. Pada masa remaja, individu berada dalam tahap eksplorasi identitas dan sangat rentan terhadap pengaruh dari sekitar, termasuk media. Ketika tidak ada arahan dari orang tua atau guru, generasi muda dapat dengan mudah menyerap nilai-nilai negatif dari konten yang mereka lihat. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menyadari bagaimana media bisa membawa dampak merugikan jika tidak digunakan dengan hati-hati dan terencana.
Media memainkan peranan penting dalam membentuk perspektif generasi muda tentang dunia. Di satu sisi, media bisa menjadi sumber informasi dan alat pembelajaran yang berguna. Melalui platform sosial media atau internet, anak muda dapat mengakses berbagai informasi, memperluas pengetahuan, bahkan meningkatkan kreativitas mereka. Misalnya, banyak remaja yang belajar berbagai keterampilan baru melalui platform seperti YouTube, TikTok, atau Instagram.
Namun, di sisi lain, media juga dapat berfungsi sebagai alat berbahaya jika digunakan dengan cara yang salah. Menurut Teori Interaksionisme Simbolik (George Herbert Mead & Herbert Blumer), remaja yang terlalu terpengaruh oleh media tanpa adanya pengawasan akan menilai diri mereka berdasarkan simbol-simbol sosial yang ada di dunia maya. Misalnya, jumlah “like” atau “followers” dijadikan ukuran harga diri. Hal ini dapat menyebabkan perubahan perilaku, tekanan sosial, bahkan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan perasaan rendah diri. Contoh yang terlihat adalah remaja yang sering melihat postingan teman-temannya tentang gaya hidup mewah mungkin merasa minder dan berusaha untuk meniru, meskipun tidak sesuai dengan kenyataan.
Selain itu, media juga kerap kali digunakan sebagai alat untuk menyebarkan informasi yang tidak tepat. Banyak generasi muda yang cepat terpengaruh oleh berita yang tidak benar (hoaks) tanpa melakukan verifikasi kebenaran. Situasi ini dapat menyebabkan salah paham, rasa kebencian, bahkan perselisihan sosial.
Terdapat beberapa dampak negatif bagi generasi muda jika tidak diawasi, antara lain:
- Menurunnya Moral dan Nilai Sosial
Tanpa pengawasan, remaja dapat dengan cepat terpapar materi-materi yang tidak layak seperti kekerasan, pornografi, atau perilaku yang menyimpang. Eksplorasi yang terus-menerus terhadap jenis konten ini bisa menyebabkan mereka melihatnya sebagai hal yang biasa. Hal ini berakibat pada menurunnya nilai-nilai moral dan etika yang seharusnya dilindungi. Mereka mungkin kehilangan penghormatan terhadap orang lain, menjadi lebih kasar, atau menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap norma-norma sosial yang ada.
- Kecanduan Digital
Salah satu masalah paling mendesak yang muncul dari pemakaian media tanpa pengawasan adalah kecanduan digital. Banyak remaja yang mengalokasikan sebagian besar waktunya untuk bersosialisasi di media sosial, menonton konten video, atau bermain game online. Mereka merasa kesulitan untuk terpisah dari perangkat, bahkan merasakan kecemasan bila tidak terhubung dengan jaringan internet. Kecanduan ini dapat mempengaruhi efisiensi, hasil belajar, dan kesehatan fisik.
- Menurunnya Interaksi Sosial Nyata
Pemanfaatan media yang berlebihan membuat generasi muda lebih sering berinteraksi secara online ketimbang secara langsung. Sebagai dampaknya, keterampilan komunikasi secara langsung semakin menurun. Mereka menjadi tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain di kehidupan nyata, cenderung memilih untuk menyendiri, dan kehilangan rasa empati terhadap orang-orang di sekitarnya.
- Gangguan Kesehatan Mental
Banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tidak terkontrol berkaitan dengan meningkatnya tingkat kecemasan, stres, dan depresi pada remaja. Perbandingan sosial yang berlebihan, tekanan untuk mendapatkan pengakuan (melalui “like” atau “followers”), serta eksplorasi berita negatif secara terus-menerus dapat membuat anak muda merasa tidak berharga dan kehilangan kepercayaan diri.
- Penyebaran Budaya Asing dan Hilangnya Identitas Diri
Media global membawa berbagai budaya dari seluruh dunia yang dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja. Tanpa kemampuan berpikir kritis, anak muda dapat meniru budaya luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan agama mereka. Hal ini bisa mengakibatkan hilangnya rasa nasionalisme, hancurnya karakter bangsa, dan melemahnya identitas diri generasi muda.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya kontrol terhadap penggunaan media di kalangan anak muda.
- Peran orang tua yang minim : Banyak orang tua yang sibuk bekerja dan tidak memperhatikan aktivitas digital anak-anak mereka. Mereka cenderung membiarkan anak menggunakan gawai tanpa batas waktu, tanpa memantau konten yang diakses.
- Kurangnya literasi digital di kalangan remaja : Banyak anak muda yang tidak memiliki kemampuan untuk memilah informasi dan membedakan antara fakta dan opini. Mereka sering kali hanya menjadi konsumen pasif yang menerima semua informasi tanpa analisis.
- Lingkungan sosial yang permisif : Banyak teman sebaya yang justru mendorong perilaku konsumtif terhadap media. Misalnya, tren mengikuti tantangan viral yang berbahaya di TikTok atau membagikan konten pribadi secara berlebihan demi mendapatkan perhatian.
- Kurangnya regulasi dan pengawasan pemerintah terhadap konten digital : Meskipun ada lembaga yang berwenang, masih banyak konten negatif (judol, porno, dll) yang lolos dari pengawasan dan dapat dengan mudah diakses oleh anak di bawah umur.
Untuk mengurangi bahaya pengaruh media terhadap anak muda, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak: keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah.
- Peran Orang Tua
Orang tua memiliki peran utama dalam mengawasi dan membimbing anak dalam menggunakan media. Mereka perlu memberikan batasan waktu penggunaan teknologi, memilihkan tontonan yang sesuai usia, serta mengajarkan nilai-nilai moral yang kuat. Selain itu, komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak penting agar anak merasa nyaman bercerita tentang aktivitas digitalnya.
2. Pendidikan Literasi Digital di Sekolah
Sekolah harus berperan aktif dalam memberikan pendidikan literasi digital. Siswa perlu diajarkan cara menggunakan media dengan bijak, memverifikasi informasi, serta memahami dampak psikologis dari media sosial. Literasi digital tidak hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga tentang tanggung jawab etika dan sosial dalam dunia maya.
3. Peran Masyarakat dan Lingkungan
Lingkungan sosial juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak muda. Kegiatan positif di lingkungan masyarakat, seperti kegiatan sosial, olahraga, dan seni, dapat menjadi alternatif agar anak muda tidak terlalu bergantung pada media.
4. Regulasi dan Pengawasan Pemerintah
Pemerintah harus memperketat pengawasan terhadap konten digital yang beredar di internet, terutama yang dapat diakses oleh anak-anak. Selain itu, kampanye edukasi publik tentang bahaya media tanpa kontrol perlu digencarkan agar masyarakat lebih sadar terhadap isu ini.
Media memiliki pengaruh yang signifikan dalam membentuk cara berpikir dan perilaku kaum muda. Jika dimanfaatkan dengan tepat, media bisa menjadi alat yang bermanfaat untuk belajar dan pengembangan pribadi. Namun, tanpa pengawasan yang tepat, media bisa menimbulkan risiko besar terhadap moralitas, kesehatan mental, dan masa depan generasi muda.
Berdasarkan Teori Fungsionalisme Struktural (Emile Durkheim & Talcott Parsons), setiap elemen di dalam masyarakat menjalankan fungsi tertentu demi menjaga stabilitas sosial. Media seharusnya berperan sebagai sumber informasi, pendidikan, dan integrasi sosial. Akan tetapi, ketika media disalahgunakan atau tidak dikendalikan, perannya dapat beralih menjadi disfungsi yang merugikan struktur sosial. Oleh karena itu, pengawasan dan pendidikan terkait pemakaian media harus menjadi tanggung jawab bersama. Generasi muda perlu dilengkapi dengan keterampilan literasi digital dan kesadaran moral yang kokoh agar mampu memilah informasi dengan bijak. Orang tua, pendidik, dan pemerintah harus terlibat secara aktif dalam membangun ekosistem digital yang aman dan sehat.
Dengan pengawasan yang tepat, media tidak akan menjadi masalah, melainkan akan berfungsi sebagai jembatan untuk menghasilkan generasi muda yang cerdas, etis, dan memiliki daya saing tinggi di era global.
admin
25 Jan 2026
By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …
admin
16 Jan 2026
By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …
admin
16 Jan 2026
By: Alnia Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …
admin
16 Jan 2026
By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler) membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …
admin
16 Jan 2026
By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …
admin
16 Jan 2026
By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …
18 Dec 2024 2.510 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
03 Jan 2025 1.255 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
03 Jan 2025 1.188 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, bersama tim dosen dari Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu Patumbak. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah melalui pemanfaatan teknologi digital. Bertajuk “Sosialisasi Memanfaatkan Teknologi Digital untuk Mendukung Pembelajaran Berbasis Proyek dan …
Comments are not available at the moment.