Home » Esai dan Opini » KRITIK TERHADAP PATRIARKI DAN PENEGASAN HAK KESETARAAN DALAM TEORI SOSIOLOGI

KRITIK TERHADAP PATRIARKI DAN PENEGASAN HAK KESETARAAN DALAM TEORI SOSIOLOGI

admin 16 Jan 2026 76

By: Irma Nazwa Panjaitan, Ketimpangan gender telah lama menjadi permasalahan sentral dalam penelitian sosial karena sangat memengaruhi bentuk-bentuk ketidakadilan pada kehidupan masyarakat. Dalam konteks interaksi sosial antara perempuan dan laki-laki, mayoritas masyarakat tradisional didasarkan pada sistem patriarki. Berdasarkan sistem tersebut, laki-laki ditempatkan di posisi dominan yang menguasai berbagai aspek kehidupan, mulai dari keluarga, ekonomi, sosial, hingga politik. Sebaliknya, perempuan biasanya ditempatkan sebagai pihak subordinat dengan akses dan oportunitas yang terbatas dalam hampir setiap aspek kehidupan.

Feminisme, sebagai gerakan sosial dan kajian teori, memperjuangkan kritik atas ketidakadilan tersebut dan menegaskan pentingnya hak kesetaraan antargender. Sehubungan dengan itu, esai ini akan mengulas kritik feminisme terhadap patriarki dan bagaimana feminisme memperjuangkan hak-hak kesetaraan perempuan berdasarkan sejumlah teori sosiologi feminis utama yang telah berkembang hingga kini.

Istilah patriarki diturunkan dari kata Yunani yang berarti “kepemimpinan oleh ayah”. Namun secara sosiologis, patriarki merujuk pada sistem sosial dan struktur kekuasaan yang mementingkan dominasi laki-laki atas perempuan dan anak-anak dalam setiap aspek dan tingkat kehidupan sosial. Pada sistem patriarki, pria diberi hak-hak istimewa yang lebih besar terhadap sumber daya sosial, politik, ekonomi, dan budaya, sedangkan wanita dibatasi perannya, terutama di dalam ruang domestik dan reproduktif. Patriarki membentuk struktur sosial yang melembaga dan melanggengkan ketidaksetaraan gender melalui norma sosial, hukum, kebiasaan budaya, serta pengaturan sosial lainnya yang cenderung lebih menguntungkan pria. Patriarki tidak hanya berwujud kekuasaan pribadi laki-laki terhadap perempuan, melainkan sebuah sistem yang sistematis dan terstruktur.

Feminisme terwujud sebagai kritik tajam terhadap sistem patriarki yang menghasilkan ketidakadilan gender ini. Sebagai gerakan sosial dan penelitian teori, feminisme mulai berdiri pada abad ke-19 dan sampai sekarang menjadi sumber materi yang sangat relevan dalam penelitian sosial. Feminisme mengindikasikan bahwa ketidaksetaraan status dan perbedaan gender bukanlah suatu pemberian alami atau biologis yang tak dapat diubah, melainkan hasil konstruksi sosial yang diciptakan dan dipertahankan oleh norma budaya serta institusi sosial patriarki. Penekanan ini memberi ruang bagi perempuan untuk menuntut keadilan dan perubahan sosial yang bisa menghilangkan diskriminasi serta dominasi laki-laki secara struktural.

Dalam kritik feminisme, penindasan terhadap perempuan lebih dari sekadar tindakan atau sikap individu, melainkan suatu fenomena yang terstruktur dan sistemik. Feminisme Sosialis, misalnya, memberikan analisis yang mengaitkan ketidaksetaraan gender dengan sistem ekonomi kapitalis. Sistem kapitalis dianggap mengeksploitasi tenaga kerja perempuan, baik di ranah rumah tangga maupun di pasar tenaga kerja. Beban ganda yang dialami perempuan—yaitu pekerjaan domestik tanpa upah dan pekerjaan formal—menunjukkan ketidakadilan sistemik yang harus dilawan. Patriarki dan kapitalisme bekerja sama dalam menjaga posisi wanita agar tetap subordinat, yang pada akhirnya memengaruhi distribusi sumber daya dan harta yang timpang antar-gender.

Di sisi lain, Feminisme Radikal memiliki pendekatan yang lebih keras dengan menempatkan patriarki pada jaringan sistem kekerasan yang luas. Formasi kekerasan tersebut mencakup kekerasan domestik sehari-hari hingga kekerasan struktural dan simbolik dalam tingkat yang mendalam. Kekerasan itu diterapkan sebagai alat untuk menakut-nakuti perempuan dan mempertahankan dominasi laki-laki dalam semua aspek kehidupan. Oleh karena itu, feminisme radikal memandang perombakan sistem patriarki secara total sebagai syarat mutlak jika ingin mencapai kesetaraan gender dan kebebasan perempuan.

Perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak kesetaraan menjadi tujuan utama gerakan feminisme. Hak-hak kesetaraan ini mencakup beberapa aspek penting, seperti hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki, hak mendapatkan pekerjaan yang sama dengan upah yang adil, hingga hak untuk menjadi bagian dalam proses politik dan pembuatan keputusan sosial. Feminisme juga menuntut pengakuan dan penghargaan yang sama atas fungsi perempuan yang selama ini cenderung termarginalisasi, misalnya di bidang domestik.

Salah satu bagian paling utama dalam penegasan hak kesetaraan adalah memastikan akses perempuan terhadap pendidikan dan kesempatan kerja. Sejarah telah membuktikan bahwa perempuan sering dilarang atau dibatasi dari pendidikan formal dan hanya mengisi pekerjaan marjinal dengan upah rendah, atau bahkan tanpa upah sama sekali. Feminisme berusaha melawan halangan budaya dan norma sosial yang menyatakan bahwa perempuan tidak pantas mengambil peran penuh di lapangan pendidikan dan ekonomi. Kesempatan yang setara dalam bidang tersebut adalah fondasi penting bagi pemberdayaan perempuan.

Selain hak-hak formal, feminisme juga berjuang dalam redistribusi tanggung jawab domestik. Beban pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak yang selama ini lebih banyak ditanggung oleh perempuan tanpa kompensasi ekonomi menambah ketidakadilan struktural. Feminisme menekankan bahwa pembagian tugas rumah tangga haruslah adil dan seimbang antara perempuan dan laki-laki. Hal ini bukan hanya demi kesetaraan, melainkan juga demi kesehatan mental dan sosial perempuan, agar mereka memiliki peluang yang lebih baik untuk berkontribusi secara luas di ruang publik.

Dunia teori feminisme terdiri dari berbagai pendekatan utama yang memberikan solusi terhadap patriarki. Feminisme Liberal menekankan pentingnya perbaikan hukum dan kebijakan publik untuk memastikan hak sipil dan politik perempuan. Sementara itu, Feminisme Interseksionalitas menekankan perlunya memperhatikan perbedaan pengalaman di antara perempuan berdasarkan kelas sosial, ras, dan identitas lainnya yang saling tumpang tindih dan memengaruhi tingkat penindasan yang dialami.

Sebagai kesimpulan, kritik feminisme terhadap patriarki memperkaya perspektif tentang bagaimana ketidaksetaraan gender diproduksi dan dipertahankan melalui struktur sosial yang bias gender. Feminisme tidak hanya berusaha menghilangkan diskriminasi pada level hukum, tetapi juga mengganti norma dan budaya sosial yang menguntungkan dominasi laki-laki. Penegakan hak kesetaraan dan kebebasan perempuan adalah langkah yang sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang adil dan setara. Proses ini memerlukan perombakan holistik yang mencakup semua aspek kehidupan, yang menjadikan feminisme sebagai kekuatan penting dalam perubahan sosial yang progresif.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …