Home » Esai dan Opini » Sastra Di Sekolah Dasar Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Menjaga “Nafas” Jati Diri Bangksa

Sastra Di Sekolah Dasar Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Menjaga “Nafas” Jati Diri Bangksa

admin 19 Apr 2026 14

By: Arifin Saleh Harahap 

Pernahkah kita sejenak merenung di tengah hiruk-pikuk kota Medan yang makin modern ini, ke mana perginya logat-logat kental dan antusiasme anak-anak saat mendengar cerita rakyat atau membaca puisi di kelas? Sebagai mahasiswa yang setiap hari bergelut dengan kurikulum dan dunia pendidikan, saya sering merasa ada yang “kering” dalam cara kita memperkenalkan keindahan bahasa kepada anak-anak SD. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sering kali hanya berakhir jadi tumpukan teks yang harus dihafal tokohnya, dicari amanatnya secara kaku, atau sekadar disalin kembali di buku tugas tanpa ada rasa di dalamnya.

Mungkin bagi sebagian orang, bahasa hanyalah alat untuk sekadar menyampaikan pesan. Namun, bagi sebuah bangsa, bahasa daerah dan sastra adalah “nyawa” yang membawa identitas, sejarah, dan etika yang tidak bisa digantikan oleh bahasa apa pun. Sayangnya, hari ini kita sedang menghadapi kenyataan yang pahit. Di Sumatera Utara, khususnya di wilayah yang mulai kehilangan penutur aslinya, anak muda seakan “alergi” menggunakan bahasa ibunya sendiri atau sekadar mengapresiasi karya sastra lokal. Ada sebuah stigma yang tumbuh subur di tengah masyarakat kita: bahwa berbicara bahasa daerah atau menyukai sastra lama itu identik dengan sifat “ndeso”, kurang terdidik, atau tidak modern.

Akibatnya, banyak orang tua yang lebih bangga jika anaknya fasih berbahasa asing dengan logat Jakarta, sementara kekayaan sastra kita dibiarkan terkubur di dalam ingatan kakek dan nenek saja. Padahal, ada satu hal yang hilang ketika sebuah bahasa dan sastra mati, yaitu nilai moral atau unggah-ungguh. Dalam bahasa daerah dan sastra, ada rasa hormat yang terpancar dari pemilihan kata saat berbicara dengan orang tua, serta ada kearifan lokal dalam peribahasa yang mengajarkan kita cara bersosialisasi. Ketika seorang anak kehilangan kemampuan ini, mereka sebenarnya sedang terputus dari akar budayanya sendiri. Mereka tahu mereka orang Sumatera, tapi mereka tidak bisa merasakan “ruh” dari identitas tersebut.

Bagi anak zaman sekarang yang tumbuh besar dengan gawai di tangan, metode pengajaran yang masih terjebak pada hafalan kosakata di buku teks sudah tidak mempan lagi dan hanya membuat siswa merasa bosan. Kita butuh terobosan baru. Bahasa dan sastra harus masuk ke dunia mereka, bukan memaksa mereka kembali ke masa lalu secara kaku. Misalnya, mengapa kita tidak memanfaatkan media digital atau permainan edukatif untuk memperkenalkan kembali kekayaan kita? Mengemas kearifan lokal ke dalam bentuk yang lebih interaktif dan visual bisa menjadi cara agar anak-anak tidak lagi memandang sastra sebagai beban pelajaran yang menyebalkan.

Menjaga “nyawa” bangsa melalui bahasa dan sastra bukan berarti kita menjadi eksklusif atau menolak kemajuan zaman. Justru, di era globalisasi ini, identitas yang kuatlah yang akan membuat kita menonjol. Menjadi modern bukan berarti harus menjadi “fotokopi” dari budaya luar. Kita bisa tetap menjadi bagian dari dunia internasional dengan tetap memegang teguh jati diri kita.

Ketakutan terbesar saya adalah jika suatu saat nanti, anak cucu kita harus pergi ke perpustakaan atau museum di luar negeri hanya untuk mendengar rekaman suara atau membaca karya sastra kakek buyutnya sendiri karena bahasa tersebut sudah tidak ada lagi penuturnya di tanah air. Jangan sampai kekayaan kita ini hanya menjadi sejarah yang bisu dalam buku-buku usang. Sudah saatnya kita bangga kembali menggunakan bahasa daerah dan mencintai sastra Indonesia, mulai dari lingkungan terkecil di rumah, hingga di bangku sekolah. Karena ketika bahasa dan sastra mati, maka sebagian dari identitas bangsa ini juga ikut pergi selamanya.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pengaruh Dongeng terhadap Pembentukan Sikap dan Perilaku Siswa Sekolah Dasar

admin

19 Apr 2026

By: Livia Salsabila Siregar Dongeng punya peran yang cukup besar dalam membentuk sikap dan perilaku siswa sekolah dasar, apalagi di usia ini anak masih berada pada tahap perkembangan moral dan imajinasi yang terbuka. Mereka cenderung menerima begitu saja apa yang didengar, tanpa banyak mempertanyakan. Tokoh-tokoh dalam dongeng sering dijadikan contoh karena biasanya digambarkan dengan jelas …

Belajar Bahasa Dan Sastra Di SD Merupakan Merupakan Pondasi Untuk Komunikasi Dan Kreativitas

admin

19 Apr 2026

By: Melati Sapriza Khairani   Bahasa dan sastra bukan hanya mata pelajaran di sekolah dasar, melainkan jendela bagi anak-anak untuk mengenal dunia, menyampaikan pikiran dan mengembangkan imajinasi mereka. di usia di mana otak sedang berkembang dengan cepat pembelajaran yang tepat dapat membentuk kemampuan berkomunikasi yang kuat dan cinta akan budaya serta sastra sejak dini. Pembelajaran …

Pendidikan di Sekolah Dasar Fondasi yang Sering Dianggap Sederhana

admin

19 Apr 2026

By: Mayangsari Ramadhani Pendidikan di sekolah dasar (SD) sering dianggap sebagai tahap yang paling mudah dalam dunia pendidikan. Banyak orang berpikir bahwa pada jenjang ini, siswa hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Padahal, jika dilihat lebih dalam, pendidikan di SD justru menjadi fondasi utama yang menentukan keberhasilan anak di masa depan. Cara guru mengajar, suasana …

Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai Pilar Pendidikan dan Pembentukan Karakter Siswa

admin

19 Apr 2026

By: Risky Widya Resti Ritonga Menurut saya, bahasa adalah alat utama yang digunakan manusia untuk berpikir dan berkomunikasi. Bahasa bukan hanya sekadar rangkaian kata-kata, tetapi juga merupakan sarana untuk menyusun gagasan, menyampaikan perasaan, serta memahami lingkungan sekitar. Dalam kehidupan sehari-hari, hampir semua aktivitas manusia melibatkan bahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Oleh karena itu, kemampuan …

Keterampilan Menyimak Sebagai Sarana Meningkatkan Fokus Dan Pemahaman Siswa SD

admin

19 Apr 2026

By: Maya Ardila Gaurifa Menurut saya, keterampilan menyimak merupakan salah satu kemampuan dasar yang sangat penting dalam proses pembelajaran di Sekolah Dasar, tetapi sering kali kurang mendapatkan perhatian yang serius. Banyak guru lebih menekankan pada kemampuan membaca dan menulis karena dianggap lebih terlihat hasilnya. Padahal, tanpa kemampuan menyimak yang baik, siswa akan kesulitan memahami apa …

Meningkatkan Minat Membaca Siswa Melalui Pembelajaran Sastra

admin

19 Apr 2026

By: Rezeki Melati            Membaca merupakan salah satu keterampilan dasar yang sangat penting bagi siswa di sekolah, terutama di tingkat Sekolah Dasar (SD). Melalui kegiatan membaca, siswa dapat memperoleh berbagai informasi, pengetahuan, dan pengalaman baru. Selain itu, membaca juga dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah. Oleh karena itu, kemampuan …