Beranda » Esai dan Opini » Pengaruh Dongeng terhadap Pembentukan Sikap dan Perilaku Siswa Sekolah Dasar

Pengaruh Dongeng terhadap Pembentukan Sikap dan Perilaku Siswa Sekolah Dasar

By: Livia Salsabila Siregar

Dongeng punya peran yang cukup besar dalam membentuk sikap dan perilaku siswa sekolah dasar, apalagi di usia ini anak masih berada pada tahap perkembangan moral dan imajinasi yang terbuka. Mereka cenderung menerima begitu saja apa yang didengar, tanpa banyak mempertanyakan. Tokoh-tokoh dalam dongeng sering dijadikan contoh karena biasanya digambarkan dengan jelas mana yang baik dan mana yang buruk. Dari situ, anak mulai mengenal konsep benar dan salah dengan cara yang sederhana, tapi cukup melekat.

Kalau dilihat dari cara penyampaiannya, dongeng itu menarik karena tidak terasa seperti nasihat langsung. Anak merasa sedang mendengarkan cerita, bukan diajari. Di dalam cerita itu, sebenarnya banyak nilai yang ikut tersampaikan, seperti kejujuran, keberanian, kerja keras, dan juga rasa peduli. Nilai-nilai ini tidak langsung terlihat, tapi perlahan masuk ke pemahaman anak. Apalagi kalau ceritanya sering diulang, biasanya anak jadi lebih ingat dan mulai mencoba menirunya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam banyak dongeng, tokoh yang baik biasanya diceritakan mendapat akhir yang bahagia, sementara yang jahat justru menerima akibat dari perbuatannya. Pola seperti ini memang sederhana, tapi cukup membantu anak memahami bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya. Dari situ, anak mulai belajar, walaupun masih sederhana, untuk mempertimbangkan apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang sebaiknya dihindari.

Selain soal nilai, dongeng juga berpengaruh pada perkembangan emosi anak. Saat mendengarkan cerita, anak sering ikut terbawa suasana. Mereka bisa merasa sedih, senang, atau bahkan takut tergantung alur cerita. Pengalaman seperti ini sebenarnya penting, karena bisa melatih kepekaan mereka terhadap perasaan orang lain. Jadi, anak tidak hanya memahami cerita, tapi juga mulai belajar merasakan.

Kalau diperhatikan dalam keseharian, pengaruh dongeng ini memang tidak langsung terlihat, tapi ada. Misalnya, anak yang sering mendengar cerita tentang tolong-menolong biasanya jadi lebih peka terhadap teman. Begitu juga dengan cerita tentang kejujuran, sedikit banyak bisa mendorong anak untuk berkata jujur. Perubahannya tidak instan, tapi muncul pelan-pelan dari kebiasaan.

Di bagian ini, peran guru dan orang tua penting sekali. Cara bercerita yang santai, tidak kaku, dan melibatkan anak biasanya lebih efektif. Anak jadi lebih tertarik dan tidak cepat bosan. Setelah cerita selesai, akan lebih baik kalau ada obrolan ringan tentang isi cerita, supaya anak benar-benar paham, bukan sekadar mendengar. Dengan begitu, dongeng tidak hanya jadi hiburan, tapi juga bagian dari proses belajar.

Tapi tetap perlu diperhatikan juga soal pemilihan ceritanya. Tidak semua dongeng cocok untuk anak. Cerita yang terlalu rumit atau mengandung hal yang kurang sesuai bisa membuat anak bingung atau bahkan salah paham. Jadi, sebaiknya pilih cerita yang sederhana, jelas, dan punya pesan yang positif. Ini penting supaya nilai yang ingin disampaikan benar-benar sampai.

Di sekolah, dongeng sebenarnya bisa dimanfaatkan lebih dari sekadar selingan. Guru bisa mengaitkan cerita dengan pelajaran atau pengalaman sehari-hari siswa. Cara seperti ini biasanya membuat pembelajaran terasa lebih dekat dan tidak membosankan. Suasana kelas juga jadi lebih hidup karena siswa ikut terlibat, bukan hanya mendengar penjelasan.

Secara keseluruhan, dongeng memang punya pengaruh dalam membentuk sikap dan perilaku siswa sekolah dasar. Nilai-nilai yang ada di dalam cerita bekerja secara perlahan, tapi cukup kuat. Kalau digunakan dengan cara yang tepat, dongeng bisa jadi salah satu cara yang cukup efektif untuk membantu pembentukan karakter anak, baik di sekolah maupun di rumah.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less