Sastra Di Sekolah Dasar Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Menjaga “Nafas” Jati Diri Bangksa
- account_circle admin
- calendar_month 19/04/2026
- visibility 179
- comment 0 komentar
- label Esai dan Opini
By: Arifin Saleh Harahap
Pernahkah kita sejenak merenung di tengah hiruk-pikuk kota Medan yang makin modern ini, ke mana perginya logat-logat kental dan antusiasme anak-anak saat mendengar cerita rakyat atau membaca puisi di kelas? Sebagai mahasiswa yang setiap hari bergelut dengan kurikulum dan dunia pendidikan, saya sering merasa ada yang “kering” dalam cara kita memperkenalkan keindahan bahasa kepada anak-anak SD. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sering kali hanya berakhir jadi tumpukan teks yang harus dihafal tokohnya, dicari amanatnya secara kaku, atau sekadar disalin kembali di buku tugas tanpa ada rasa di dalamnya.
Mungkin bagi sebagian orang, bahasa hanyalah alat untuk sekadar menyampaikan pesan. Namun, bagi sebuah bangsa, bahasa daerah dan sastra adalah “nyawa” yang membawa identitas, sejarah, dan etika yang tidak bisa digantikan oleh bahasa apa pun. Sayangnya, hari ini kita sedang menghadapi kenyataan yang pahit. Di Sumatera Utara, khususnya di wilayah yang mulai kehilangan penutur aslinya, anak muda seakan “alergi” menggunakan bahasa ibunya sendiri atau sekadar mengapresiasi karya sastra lokal. Ada sebuah stigma yang tumbuh subur di tengah masyarakat kita: bahwa berbicara bahasa daerah atau menyukai sastra lama itu identik dengan sifat “ndeso”, kurang terdidik, atau tidak modern.
Akibatnya, banyak orang tua yang lebih bangga jika anaknya fasih berbahasa asing dengan logat Jakarta, sementara kekayaan sastra kita dibiarkan terkubur di dalam ingatan kakek dan nenek saja. Padahal, ada satu hal yang hilang ketika sebuah bahasa dan sastra mati, yaitu nilai moral atau unggah-ungguh. Dalam bahasa daerah dan sastra, ada rasa hormat yang terpancar dari pemilihan kata saat berbicara dengan orang tua, serta ada kearifan lokal dalam peribahasa yang mengajarkan kita cara bersosialisasi. Ketika seorang anak kehilangan kemampuan ini, mereka sebenarnya sedang terputus dari akar budayanya sendiri. Mereka tahu mereka orang Sumatera, tapi mereka tidak bisa merasakan “ruh” dari identitas tersebut.
Bagi anak zaman sekarang yang tumbuh besar dengan gawai di tangan, metode pengajaran yang masih terjebak pada hafalan kosakata di buku teks sudah tidak mempan lagi dan hanya membuat siswa merasa bosan. Kita butuh terobosan baru. Bahasa dan sastra harus masuk ke dunia mereka, bukan memaksa mereka kembali ke masa lalu secara kaku. Misalnya, mengapa kita tidak memanfaatkan media digital atau permainan edukatif untuk memperkenalkan kembali kekayaan kita? Mengemas kearifan lokal ke dalam bentuk yang lebih interaktif dan visual bisa menjadi cara agar anak-anak tidak lagi memandang sastra sebagai beban pelajaran yang menyebalkan.
Menjaga “nyawa” bangsa melalui bahasa dan sastra bukan berarti kita menjadi eksklusif atau menolak kemajuan zaman. Justru, di era globalisasi ini, identitas yang kuatlah yang akan membuat kita menonjol. Menjadi modern bukan berarti harus menjadi “fotokopi” dari budaya luar. Kita bisa tetap menjadi bagian dari dunia internasional dengan tetap memegang teguh jati diri kita.
Ketakutan terbesar saya adalah jika suatu saat nanti, anak cucu kita harus pergi ke perpustakaan atau museum di luar negeri hanya untuk mendengar rekaman suara atau membaca karya sastra kakek buyutnya sendiri karena bahasa tersebut sudah tidak ada lagi penuturnya di tanah air. Jangan sampai kekayaan kita ini hanya menjadi sejarah yang bisu dalam buku-buku usang. Sudah saatnya kita bangga kembali menggunakan bahasa daerah dan mencintai sastra Indonesia, mulai dari lingkungan terkecil di rumah, hingga di bangku sekolah. Karena ketika bahasa dan sastra mati, maka sebagian dari identitas bangsa ini juga ikut pergi selamanya.

Saat ini belum ada komentar