- Esai dan OpiniPentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra
- Esai dan OpiniMengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi
- Esai dan OpiniMenyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi
- Esai dan OpiniPengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra
- Esai dan OpiniPengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

Sastra Di Sekolah Dasar Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Menjaga “Nafas” Jati Diri Bangksa
By: Arifin Saleh Harahap
Pernahkah kita sejenak merenung di tengah hiruk-pikuk kota Medan yang makin modern ini, ke mana perginya logat-logat kental dan antusiasme anak-anak saat mendengar cerita rakyat atau membaca puisi di kelas? Sebagai mahasiswa yang setiap hari bergelut dengan kurikulum dan dunia pendidikan, saya sering merasa ada yang “kering” dalam cara kita memperkenalkan keindahan bahasa kepada anak-anak SD. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sering kali hanya berakhir jadi tumpukan teks yang harus dihafal tokohnya, dicari amanatnya secara kaku, atau sekadar disalin kembali di buku tugas tanpa ada rasa di dalamnya.
Mungkin bagi sebagian orang, bahasa hanyalah alat untuk sekadar menyampaikan pesan. Namun, bagi sebuah bangsa, bahasa daerah dan sastra adalah “nyawa” yang membawa identitas, sejarah, dan etika yang tidak bisa digantikan oleh bahasa apa pun. Sayangnya, hari ini kita sedang menghadapi kenyataan yang pahit. Di Sumatera Utara, khususnya di wilayah yang mulai kehilangan penutur aslinya, anak muda seakan “alergi” menggunakan bahasa ibunya sendiri atau sekadar mengapresiasi karya sastra lokal. Ada sebuah stigma yang tumbuh subur di tengah masyarakat kita: bahwa berbicara bahasa daerah atau menyukai sastra lama itu identik dengan sifat “ndeso”, kurang terdidik, atau tidak modern.
Akibatnya, banyak orang tua yang lebih bangga jika anaknya fasih berbahasa asing dengan logat Jakarta, sementara kekayaan sastra kita dibiarkan terkubur di dalam ingatan kakek dan nenek saja. Padahal, ada satu hal yang hilang ketika sebuah bahasa dan sastra mati, yaitu nilai moral atau unggah-ungguh. Dalam bahasa daerah dan sastra, ada rasa hormat yang terpancar dari pemilihan kata saat berbicara dengan orang tua, serta ada kearifan lokal dalam peribahasa yang mengajarkan kita cara bersosialisasi. Ketika seorang anak kehilangan kemampuan ini, mereka sebenarnya sedang terputus dari akar budayanya sendiri. Mereka tahu mereka orang Sumatera, tapi mereka tidak bisa merasakan “ruh” dari identitas tersebut.
Bagi anak zaman sekarang yang tumbuh besar dengan gawai di tangan, metode pengajaran yang masih terjebak pada hafalan kosakata di buku teks sudah tidak mempan lagi dan hanya membuat siswa merasa bosan. Kita butuh terobosan baru. Bahasa dan sastra harus masuk ke dunia mereka, bukan memaksa mereka kembali ke masa lalu secara kaku. Misalnya, mengapa kita tidak memanfaatkan media digital atau permainan edukatif untuk memperkenalkan kembali kekayaan kita? Mengemas kearifan lokal ke dalam bentuk yang lebih interaktif dan visual bisa menjadi cara agar anak-anak tidak lagi memandang sastra sebagai beban pelajaran yang menyebalkan.
Menjaga “nyawa” bangsa melalui bahasa dan sastra bukan berarti kita menjadi eksklusif atau menolak kemajuan zaman. Justru, di era globalisasi ini, identitas yang kuatlah yang akan membuat kita menonjol. Menjadi modern bukan berarti harus menjadi “fotokopi” dari budaya luar. Kita bisa tetap menjadi bagian dari dunia internasional dengan tetap memegang teguh jati diri kita.
Ketakutan terbesar saya adalah jika suatu saat nanti, anak cucu kita harus pergi ke perpustakaan atau museum di luar negeri hanya untuk mendengar rekaman suara atau membaca karya sastra kakek buyutnya sendiri karena bahasa tersebut sudah tidak ada lagi penuturnya di tanah air. Jangan sampai kekayaan kita ini hanya menjadi sejarah yang bisu dalam buku-buku usang. Sudah saatnya kita bangga kembali menggunakan bahasa daerah dan mencintai sastra Indonesia, mulai dari lingkungan terkecil di rumah, hingga di bangku sekolah. Karena ketika bahasa dan sastra mati, maka sebagian dari identitas bangsa ini juga ikut pergi selamanya.
admin
06 Jun 2026
By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …
admin
06 Jun 2026
By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …
admin
06 Jun 2026
By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …
admin
06 Jun 2026
By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …
admin
06 Jun 2026
By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …
admin
06 Jun 2026
By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …
18 Dec 2024 3.117 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
01 Apr 2025 2.165 views
By: Reza Widya Lubis Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, terutama yang berasal dari tradisi Melayu. Kearifan lokal ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari seni, adat istiadat, sastra lisan, hingga filosofi hidup masyarakatnya. Namun, di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan masuknya budaya …
03 Jan 2025 1.584 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
Comments are not available at the moment.