Home » Esai dan Opini » Pembelajaran Sastra Dan Bahasa Di Sekolah Dasar: Perspektif Para Ahli Pendidikan

Pembelajaran Sastra Dan Bahasa Di Sekolah Dasar: Perspektif Para Ahli Pendidikan

admin 26 Apr 2026 323

By: Nurul Fadila Putri

HAKIKAT DAN TUJUAN PEMBELAJRAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR

            Pembelajaran sastra di sd memiliki hakikat yang berbeda dengan pembelajaran sastra di jenjang yang lebih tinggi. Menurut Saxby dalam Nurgiyanto (2013), sastra anak adalah karya sastra yang secara emosional dan psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak-anak yang bersumber dari pengalaman emosional dan pengalaman imajinatif. Definisi ini menekankan pentingnya kesesuian karya sastra dengan dunia anak, baik dari segi tema, bahasa, maupun penyajiannya.

            Huck, Hepler, dan Hickman (1987) dalam penelitian mereka menyebutkan bahwa sastra anak yang berkualitas harus memenuhi beberapa kriteria: memiliki alur cerita yang menarik, tokoh yang dapat diidentifikasi anak, tema yang relevan dengan kehidupan anak, bahasa yang komunikatif serta ilustrasi yang mendukung pemahaman. Kriteria-kriteria ini menjadi acuan penting dalam pemilihan bahan ajar sastra di sd.

  1. Tujuan pembelajaran sastra di sd menurut Rahmanto (2008) mencakup tiga aspek utama. Pertama, kognitif yaitu mengembangkan kemampuan memahami dan mengapresiasi karya sastra. Kedua, aspek afektif yaitu menumbuhkan sikap positif terhadap sastra serta nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Ketiga, aspek psikomotorik yaitu mengembangkan keterampilan mengekspresikan diri melalui kegiatan bersastra seperti membaca puisi, mendongeng, atau menulis cerita sederhana.
  1. Sumardi (2012) menambahkan bahwa pembelajaran sastra di sd juga bertujuan untuk mengembangkan literasi budaya anak. Melalui sastra, anak dapat mengenal berbagai nilai budaya lokal maupun universal, memahami keragaman, dan mengembangkan jati diri sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang multikultural. Dengan demikian, pembelajaran sastra tidak hanya berkaitan dengan aspek linguistik semata, tetapi juga dengan pembentukan karakter dan identitas budaya anak.
  1. Aminuddin (2013) menekankan pentingnya pembelajaran sastra anak dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif anak. Ketika anak membaca karya sastra, mereka tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga melakukan interpretasi, evaluasi, dan konstruksi Proses ini melatih anak untuk berpikir lebih dalam, mengajukan pertanyaan, dan mencari jawaban melalui pemahaman terhadap teks sastra.

Menurut saya, pembelajaran sastra dan bahasa di sd memiliki peran yang sangat penting dan strategi dalam pengembangan kompetensi literasi serta pembentukan karakter. Pembelajaran sastra di sd bukan hanya tentang mengajarkan pengetahuan tentang karya sastra, tetapi lebih jauh adalah tentang memberikan pengalaman apresiasi estetika, mengembangkan kemampuan berpikir dan kreatif, serta menginternalisasi nilai-nilai moral dan budaya melalui karya sastra.

PENDEKATAN DAN METODE PEMBELAJARAN SASTRA DI SD

            Dalam pembelajaran sastra di sd, pemilihan pendekatan dan metode yang tepat sangat menentukan  efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran. Menurut  Iskandarwassid dan Sunendar (2011), terdapat beberapa pendekatan struktural, pendekatan semiotik, pendekatan pragmatik, dan pendekatan respons pembaca. Namun, untuk tingkat sd, pendekatan respons pembaca dinilai paling sesuai karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk memberikan tanggapan personal terhadap karya sastra yang dibacakannya.

            Rosenblatt (1978) dalam teorinya tentang transaksional reading menyatakan bahwa pembacaan sastra merupakan transaksi antara pembaca dan teks. Setiap pembaca akan menghasilkan pemahaman, pengetahuan, dan emosi yang dimilikinya. Dalam konteks pembelajaran di sd, guru perlu memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan respons mereka terhadap karya sastra tanpa terlalu dibatasi oleh interpretasi yang baku.

            Moody (1983) mengidentifikasi beberapa metode yang efektif untuk pembelajaran sastra, yaitu metode langsung (direct method), metode diskusi, metode kreatif-produktif, dan metode proyek. Metode langsung cocok diterapkan untuk memperkenalkan karya sastra kepada siswa melalui kegiatan membaca dan menyimak. Metode diskusi memungkinkan siswa untuk berbagi pemahaman dan interpretasi mereka terhadap karya sastra dalam kelompok kecil atau diskusi kelas.

            Gani (2014) menekankan pentingnya metode kreatif-produktif dalam pembelajaran sastra di sd. Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk tidak hanya mengapresiasi karya sastra, tetapi juga menciptakan  karya sastra sederhana mereka sendiri. Kegiatan seperti menulis puisi sederhana, membuat cerita bergambar, atau memetakan drama pendek dapat mengembangkan kreativitas dan kepercayaan diri siswa dalam berekspresi melalui bahasa.

            Dalam era digital saat ini, Affandi (2016) mengusulkan pengintegrasian teknologi dalam pembelajaran sastra. Penggunaan media digital seperti e-book, audio book, video animasi cerita, dan aplikasi pembelajaran interaktif dapat meningkatkan motivasi dan minat siswa terhadap sastra. Namun, guru harus memastikan bahwa teknologi digunakan sebagai alat bantu yang memperkaya pengalaman belajar, bukan mengganti peran guru dan interaksi langsung dengan teks sastra.

            Zulela  (2013) menyoroti pentingnya pembelajaran sastra yang kontekstual dan bermakna. Pembelajaran harus dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa sehingga mereka dapat melihat relevansi sastra dengan pengalaman sehari-hari. Misalnya, ketika membaca fabel, guru dapat mengaitkan pesan moral dalam cerita dengan situasi konkret yang dihadapkan kepada siswa di sekolah atau di rumah. Pendekatan kontekstual ini membuat pembelajaran sastra lebih hidup dan bermakna bagi siswa.

INTEGRASI PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA

            Pembelajaran bahasa dan sastra di sd tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Menurut Chaera (2009), sastra merupakan medium yang sangat efektif untuk pembelajaran bahasa karena menyediakan konteks penggunaan bahasa yang autentik, kaya, dan bervariasi. Melalui karya sastra, siswa dapat mempelajari berbagai aspek kebahasaan seperti kosakata, struktur kalimat, gaya bahasa, dan ragam bahasa dalam konteks yang bermakna.

            Tompkins (2010) dalam bukunya tentang literacy development menyatakan bahwa sastra anak berkualitas tinggi dapat menjadi model yang excellent untuk pengembangan keterampilan berbahasa siswa. Ketika siswa membaca cerita yang ditulis dengan baik, mereka secara tidak langsung mempelajari bagaimana bahasa digunakan untuk menceritakan, menggambarkan, menjelaskan, dan menyakinkan. Paparan terhadap bahasa yang baik dalam karya sastra akan memengaruhi kemampuan berbahasa siswa, baik lisan maupun tulisan.

            Santosa (2011) mengidentifikasikan beberapa manfaat integrasi pembelajaran bahasa dan sastra di sd. Pertama, meningkatkan kemampuan reseptif (menyimak dan membaca) karena siswa terpapar dengan berbagai jenis teks sastra. Kedua, mengembangkan kemampuan produktif (berbicara dan menulis) melalui kegiatan merespons dan menciptakan karya sastra.

            Stewig (2008) menekankan bahwa pembelajaran sastra dapat meningkatkan oral language development anak. Kegiatan seperti mendongeng, bermain peran, membaca nyaring, dan berdiskusi tentang cerita memberikan kesempatan yang kaya bagi anak untuk mengembangkan kemampuan berbicara dan menyimak. Interaksi verbal yang terjadi dalam kegiatan-kegiatan tersebut sangatlah penting untuk mengembangkan bahasa anak usia sd.

            Djuanda (2014) mengingatkan bahwa dalam mengintegrasikan pembelajaran bahasa dan sastra, guru harus berhati-hati agar pembelajaran sastra tidak hanya dijadikan sebagai alat untuk mengajar tata bahasa semata. Pelajaran sastra  memiliki tujuan yang lebih luas, yaitu mengembangkan apresiasi estetika dan pemahaman nilai-nilai kehidupan. Aspek kebahasaan dapat dipelajari dalam konteks apresiasi sastra, bukan dengan menjadikan karya sebagai bahan latihan soal tata bahasa yang dapat menghilangkan esensi keindahan dan makna bahasa itu sendiri.an p

            Menurut saya, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada respons siswa, metode yang variatif dan menyenangkan, serta integrasi yang tepat antara pembelajaran bahasa dan sastra merupakan kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Guru perlu memiliki kompetensi yang bermakna dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif  untuk mengembangkan minat dan apresiasi siswa terhadap sastra.

TANTANGAN DAN SOLUSI DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SD

            Meskipun pentingnya pembelajaran sastra di sd telah diakui, dalam praktiknya masih terdapat berbagai  tantangan. Menurut penelitian Mulyati (2015), salah satu tantangan utama adalah terbatasnya kompetensi guru dalam mengajar sastra. Banyak guru sd yang memiliki latar belakang pendidikan umum dan tidak memiliki bekal yang memadai dalam bidang sastra. Akibatnya, pembelajaran sastra cenderung dilakukan secara konvensional, hanya membaca teks kemudian menjawab pertanyaan, tanpa memberikan pengalaman apresiasi yang mendalam kepada siswa.

            Tantangan menurut Sarumpaet (2010) adalah ketersediaan bahan ajar sastra anak yang berkualitas. Meskipun telah banyak buku cerita yang diterbitkan, tidak semua memenuhi kriteria sastra anak yang baik dari segi kualitas bahasa, tema, dan nilai-nilai yang disampaikan. Guru sering kesulitan memilih karya sastra yang tepat untuk siswa mereka karena kurangnya panduan dan referensi yang memadai.

            Kurniawan (2013) mengidentifikasikan rendahnya minat baca siswa sebagai tantangan signifikan dalam pembelajaran sastra. Di era digital ini, anak-anak lebih tertarik dengan gadget dan permainan digital dibandingkan dengan buku cerita. Kondisi ini mempersulit upaya guru untuk menumbuhkan apresiasi sastra terhadap diri siswa. Lingkungan keluarga yang kurang mendukung kebiasaan membaca juga memperparah situasi ini.

            Untuk mengatasi tantangan kompetensi guru, Widyhening (2016) menyarankan perlunya program pelatihan dan pendamping berkelanjutan bagi guru sd dalam pembelajaran sastra. Pelatihan tidak hanya berisi teori tentang sastra anak, tetapi juga praktik langsung tentang bagaimana mengajar sastra dengan metode yang menarik dan efektif. Guru juga dibekali dengan kemampuan memilih dan mengevaluasi bahan ajar sastra yang sesuai dengan karakteristik siswa.

            Berkaitan dengan kesediaan bahan ajar, Dewi (2017) mengusulkan pentingnya kolaborasi antarpenulis sastra anak, penerbit, dan praktisi pendidikan untuk menghasilkan karya sastra anak berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran sekolah. Sekolah juga perlu menyediakan perpustakaan dengan koleksi sastra anak yang memadai dan bervariasi, baik dari segi genre maupun tingkat kesulitan, sehingga dapat mengakomodasi keragaman minat dan kemampuan siswa.

            Menurut saya, meskipun terdapat berbagai tantangan dalam mengimplementasikan pembelajaran sastra di sd, seperti keterbatasan kompetensi guru, kesediaan bahan ajar, dan rendahnya minat baca siswa, tantangan tersebut dapat diatasi melalui upaya-upaya sistematis dan berkelanjutan. Peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan , penyediaan bahan ajar berkualitas, penciptaan budaya literasi di sekolah, dan keterlibatan orang tua merupakan langkah-langkah konkret yang perlu dilakukan.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra

admin

06 Jun 2026

By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …

Mengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi

admin

06 Jun 2026

By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …

Menyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi

admin

06 Jun 2026

By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …

Pengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra

admin

06 Jun 2026

By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …

Pengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

admin

06 Jun 2026

By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …

Pengembangan Kemampuan Berbicara sebagai Dasar Komunikasi Efektif

admin

06 Jun 2026

By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …