Home » Esai dan Opini » Analisis dan Revisi Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Berdasarkan Prinsip Pengembangan Bahan Ajar Kurikulum Merdeka

Analisis dan Revisi Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Berdasarkan Prinsip Pengembangan Bahan Ajar Kurikulum Merdeka

admin 03 Nov 2025 202

By: Kartika Sari Devi. Pendidikan modern tidak lagi berorientasi pada hafalan, melainkan pada kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Perubahan paradigma ini menuntut guru dan calon pendidik untuk mampu merancang bahan ajar yang tidak hanya informatif, tetapi juga inspiratif. Dalam konteks inilah, Kurikulum Merdeka hadir sebagai inovasi pendidikan yang menekankan fleksibilitas, pembelajaran kontekstual, serta penguatan karakter peserta didik melalui Profil Pelajar Pancasila. Kajian terhadap bahan ajar Bahasa Indonesia menjadi penting untuk melihat sejauh mana prinsip-prinsip kurikulum tersebut diterapkan, baik dalam isi, struktur, maupun tujuan pembelajaran.

Buku kerja Bahasa Indonesia dengan topik “Mengungkap Fakta Alam Secara Objektif” merupakan contoh bahan ajar yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami dan menulis teks laporan hasil observasi (LHO). Materi ini bertujuan agar siswa mampu mengenali struktur teks, menemukan informasi faktual, menulis laporan observasi dengan bahasa yang objektif, serta mempresentasikannya secara ilmiah. Buku ini juga dilengkapi dengan soal HOTS (Higher Order Thinking Skills), latihan literasi dan numerasi, serta muatan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Dengan demikian, secara konseptual, bahan ajar ini sudah selaras dengan arah kebijakan Kurikulum Merdeka yang menekankan penguatan kompetensi dan karakter.

Namun, hasil analisis menunjukkan bahwa bahan ajar tersebut masih memiliki beberapa keterbatasan. Dari segi kelayakan isi, materi sudah sesuai dengan kompetensi dasar yaitu memahami dan menulis teks laporan hasil observasi, tetapi penyajiannya masih bersifat deskriptif dan informatif. Belum terdapat contoh teks laporan utuh yang dapat membantu siswa menganalisis struktur dan kaidah kebahasaan secara konkret. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis siswa belum terasah secara optimal. Dari sisi kelayakan bahasa, gaya penulisan cenderung terlalu ilmiah dan kurang komunikatif bagi siswa SMP. Hal ini membuat bahan ajar berpotensi terasa kaku dan sulit dipahami.

Keterkaitan antara materi dengan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) sebenarnya sudah cukup baik. Materi tentang teks laporan hasil observasi telah mengacu pada KI-3 (pengetahuan) dan KI-4 (keterampilan) yang menekankan pemahaman dan penerapan bahasa secara faktual dan prosedural. Namun, kegiatan belajar dalam LKS belum sepenuhnya menuntun siswa untuk mencapai KD 4.1, yaitu menyusun teks laporan hasil observasi berdasarkan kegiatan nyata. Tanpa aktivitas eksploratif seperti observasi lingkungan atau praktik menulis laporan berbasis pengalaman langsung, siswa hanya akan berhenti pada tahap memahami teori tanpa menguasai keterampilan aplikatif.

Oleh karena itu, revisi bahan ajar menjadi langkah penting agar proses pembelajaran lebih terukur dan bermakna. Lembar Kerja Siswa (LKS) perlu dilengkapi dengan rumusan capaian pembelajaran dan tujuan pembelajaran yang eksplisit. Capaian pembelajaran menjadi tolok ukur utama agar guru dan siswa memahami arah kompetensi yang ingin dicapai. Selain itu, LKS sebaiknya memuat contoh teks laporan observasi yang lengkap, kegiatan analisis struktur teks, serta panduan menulis yang sistematis—mulai dari menentukan objek, mengumpulkan data, hingga menyusun laporan akhir. Penambahan komponen refleksi di akhir kegiatan juga dapat membantu siswa menilai pemahamannya sendiri, sehingga pembelajaran menjadi lebih personal dan bermakna.

Revisi lain yang tak kalah penting adalah penguatan aspek kontekstual dan karakter. Kegiatan observasi dapat diarahkan pada isu-isu lingkungan sekitar, seperti kebersihan sekolah, pelestarian alam, atau budaya lokal. Dengan begitu, pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya mengasah keterampilan berbahasa, tetapi juga menumbuhkan empati sosial, kepedulian lingkungan, dan rasa cinta tanah air. Integrasi nilai Profil Pelajar Pancasila—gotong royong, bernalar kritis, kreatif, dan berakhlak mulia—dapat dimasukkan ke dalam setiap kegiatan belajar agar tujuan pembelajaran selaras dengan pembentukan karakter.

Secara keseluruhan, hasil revisi menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar Bahasa Indonesia harus berlandaskan prinsip keseimbangan antara isi, tujuan, capaian, dan konteks kehidupan siswa. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi perancang pengalaman belajar yang menantang dan bermakna. Bahan ajar yang baik adalah bahan ajar yang hidup—menginspirasi siswa untuk berpikir, bereksperimen, dan berkreasi. Dengan penerapan prinsip-prinsip pengembangan bahan ajar dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran Bahasa Indonesia diharapkan mampu melahirkan generasi pembelajar yang kritis, komunikatif, dan berkarakter kuat sebagai cerminan pelajar Pancasila.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …