Home » Esai dan Opini » DIMANA PERAN PENDIDIKAN DALAM MENCIPTAKAN GENERASI TANGGUH?

DIMANA PERAN PENDIDIKAN DALAM MENCIPTAKAN GENERASI TANGGUH?

admin 01 Apr 2025 209

By: Nurul Widya Yolanda Nst,  Nur Aisyah Putri

Pendidikan selalu menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban manusia. Ia diyakini sebagai kunci untuk membuka pintu kemajuan suatu bangsa. Namun, di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, muncul pertanyaan besar: apakah pendidikan kita sudah benar-benar menciptakan generasi yang tangguh, atau hanya menghasilkan lulusan yang sekadar menghafal teori dan berburu nilai?

Faktanya, banyak lulusan sekolah maupun perguruan tinggi yang terlihat bingung ketika memasuki dunia nyata. Mereka mungkin lulus dengan predikat cum laude, namun mudah menyerah saat menghadapi tekanan pekerjaan, ketatnya persaingan, dan ketidakpastian masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan akademik saja tidak cukup. Dunia hari ini, bahkan masa depan, membutuhkan manusia yang memiliki ketangguhan mental, keterampilan hidup, serta kemampuan untuk terus beradaptasi (Santrock, 2011).

Sayangnya, sistem pendidikan kita masih terlalu fokus pada pencapaian akademis semata. Pendidikan seringkali diartikan sebagai proses transfer ilmu pengetahuan yang hanya berorientasi pada nilai ujian atau gelar, bukan pembentukan karakter (Kemendikbud, 2017). Akibatnya, siswa dan mahasiswa lebih banyak menghafal materi ketimbang belajar menyelesaikan masalah nyata yang kelak mereka hadapi dalam hidup.

Perluasan Peran Pendidikan

Di sinilah peran pendidikan seharusnya lebih diperluas. Sekolah dan perguruan tinggi tidak lagi cukup menjadi tempat belajar teori. Pendidikan harus menjadi ruang aman untuk menempa karakter, membangun ketangguhan, dan melatih keterampilan hidup (life skills).

Negara-negara maju seperti Finlandia telah lama menerapkan sistem pendidikan berbasis pengalaman. Mahasiswa di sana dilatih untuk menghadapi kegagalan, memimpin proyek nyata, dan membuat keputusan penting. Proses belajar tidak hanya terjadi di kelas, melainkan di dunia nyata yang sesungguhnya jauh lebih menantang (Sahlberg, 2015).

Sebaliknya, di Indonesia, pendekatan seperti ini masih belum maksimal. Kurikulum lebih banyak mengejar capaian kognitif daripada membentuk manusia yang resilien dan adaptif. Padahal, pengalaman gagal, bangkit kembali, dan belajar dari kesalahan adalah proses penting dalam membangun karakter tangguh (Sugihartono, dkk., 2010).

Lihatlah bagaimana negara seperti Jepang, misalnya, yang sejak dini mengajarkan anak-anaknya untuk disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab atas tindakan mereka. Pendidikan karakter dan sikap mental menjadi bagian dari sistem pendidikan mereka, sehingga menghasilkan individu yang tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan (Japan Foundation, 2013).

Saran

  1. Revisi Kurikulum Pendidikan

Pemerintah bersama lembaga pendidikan perlu merancang kurikulum yang menyeimbangkan antara pembelajaran akademik dan penguatan karakter (Kemendikbud, 2017). Materi tentang keterampilan hidup, pengembangan emosi, dan manajemen diri harus dimasukkan ke dalam sistem pembelajaran formal.

  1. Memberi Ruang untuk Pengalaman Nyata

Sekolah dan kampus harus memberi ruang lebih luas untuk program magang, proyek sosial, kewirausahaan, serta kegiatan berbasis komunitas. Pengalaman-pengalaman tersebut akan membiasakan peserta didik menghadapi masalah riil, bukan hanya menjawab soal-soal ujian (UNESCO, 2015).

  1. Membiasakan Budaya Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil

Pendidikan harus mendorong siswa dan mahasiswa untuk berani mencoba dan menghadapi kegagalan tanpa takut disalahkan. Proses pembelajaran harus mengutamakan nilai dari pengalaman dan perjalanan, bukan hanya nilai angka di atas kertas (Nasution, 2021).

  1. Peran Guru dan Dosen sebagai Mentor

Pendidik bukan hanya pengajar, tetapi pembimbing (mentor). Mereka berperan penting membentuk karakter, mendampingi proses tumbuh kembang peserta didik, serta menciptakan suasana belajar yang aman dan inklusif (Lickona, 2012).

Kesimpulan

Generasi tangguh tidak lahir dari sistem pendidikan yang hanya mengejar nilai akademik. Mereka tumbuh dari lingkungan belajar yang memberi ruang untuk gagal, berkembang, dan menemukan kekuatan diri. Dunia semakin penuh tantangan dan ketidakpastian. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu menghasilkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara mental, emosional, dan sosial.

Pendidikan masa depan bukan sekadar mencetak sarjana, melainkan membentuk pribadi yang siap menghadapi kerasnya realitas kehidupan. Sudah saatnya semua elemen pendidikan, mulai dari pemerintah, sekolah, hingga orang tua, bersama-sama melakukan transformasi pendidikan. Harapan kita adalah menciptakan generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga tangguh, berdaya saing global, dan mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …