Home » Esai dan Opini » ISU KEPUNAHAN DAN PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH

ISU KEPUNAHAN DAN PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH

admin 01 Apr 2025 322

By: Mutia Shifana

Isu Kepunahan

Bahasa daerah merupakan aset berharga suatu bangsa. Akan tetapi, paradigma masyarakat abad 21 menilai bahwa bahasa asing memiliki prestise lebih tinggi dibandingkan bahasa nasional dan bahasa daerah. Dengan kata lain, bahasa daerah berada di prioritas ketiga dalam penggunaannya setelah bahasa nasional dan bahasa asing. Masyarakat lebih memilih menggunakan bahasa nasional dan bahasa asing dalam berkomunikasi. Penutur bahasa asing juga dinilai lebih berpendidikan dan memiliki strata sosial lebih tinggi. Begitu pula sebaliknya, penutur bahasa daerah dinilai memiliki strata sosial di bawah penutur bahasa nasional dan bahasa asing. Bahasa yang mayoritas digunakan akan bertahan dan mempersempit ruang gerak bahasa-bahasa lain yang jarang digunakan oleh penuturnya. Beberapa bahasa daerah yang ada di Indonesia memiliki penutur yang banyak, namun jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Arief Rachman (2007) telah memetakan beberapa bahasa daerah yang terancam punah, diantaranya lebih 50 bahasa daerah di Kalimantan, satu diantaranya terancam punah. Di Sumatera, dari 13 bahasa daerah yang ada, dua diantaranya terancam punah dan satu sudah punah. Namun bahasa Jawa tidak terancam punah. Adapun di Sulawesi dari 110 bahasa yang ada, 36 bahasa terancam punah dan 1 sudah punah, di Maluku dari 80 bahasa yang ada 22 terancam punah dan 11 sudah punah, di daerah Timor, Flores, Bima dan Sumbawa dari 50 bahasa yang ada, 8 bahasa terancam punah. Di daerah Papua dan Halmahera dari 271 bahasa, 56 bahasa terancam punah.

Hal senada pernah diungkapkan oleh Gumperz (1982:101). Dalam suatu wilayah dimungkinkan hidup beberapa variasi bahasa secara berdampingan sehingga bentuk interaksinya cenderung bersifat alih kode dan campur kode. Hal tersebut terjadi akibat masyarakat tuturnya berbahasa secara multilingual. Aktivitas komunikasi dalam masyarakat multilingual tidak lagi hanya berkiblat pada budaya setempat. Akibatnya, peran bahasa daerah seperti bahasa Jawa, Sunda, Bugis, dan lainnya tidak menjadi prioritas utama dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa Jawa hanya hadir dalam komunikasi sosial terbatas, seperti keluarga dan masyarakat seetnis.

Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa bahasa yang hidup dalam masyarakat selalu digunakan dalam peran-peran sosial para penuturnya. Peran-peran sosial itu berkaitan dengan berbagai aspek sosial psikologis yang kemudian dirinci dalam bentuk komponen-komponen tutur (Poedjosoedarmo 1982:3). Di sisi lain, bahasa daerah merupakan kekayaan suatu masyarakat. Bahasa daerah dapat dikatakan sebagai citra suatu masyarakat yang berdikari dalam kehidupan. Bahasa daerah memuat kearifan suatu masyarakat pula. Ada nilai-nilai kebudayaan yang terkandung dalam bahasa daerah. Oleh sebab itu, bahasa daerah dapat dikatakan sebagai cerminan suatu masyarakat tuturnya. Bahasa daerah warisan yang luhur bagi masyarakat.

Pemertahanan Bahasa Daerah

Secara umum pemertahanan bahasa dedefinisikan sebagai keputusan untuk tetap melanjutkan pengunaan bahasa secara kolektif oleh sebuah komunitas yang telah menggunakan bahasa tersebut sebelumnya (Fasold 1984). Lebih lanjut, Fasold juga menyatakan bahwa pemertahanan bahasa ini merupakan kebalikan atau sisi yang berlainan dari pergeseran bahasa. Artinya, sebuah komunitas memutuskan untuk mengganti bahasa yang telah digunakannya atau memilih bahasa lain sebagai ganti bahasa yang telah digunakannya. Istilah pemertahanan bahasa selalu dikaitkan dengan pergeseran bahasa. Pemertahanan bahasa muncul akibat adanya pergeseran bahasa. Dua hal ini menjadi salah satu kajian dalam ilmu sosiolinguistik. Pemertahanan bahasa diartikan sebagai keputusan untuk tetap melanjutkan pengunaan bahasa secara kolektif atau guyub oleh sebuah komunitas yang telah menggunakan bahasa tersebut sebelumnya (Fasold 1984). Lebih lanjut, dinyatakan pula bahwa pemertahanan bahasa ini merupakan kebalikan atau sisi yang berlainan dari pergeseran bahasa. Sebuah komunitas memutuskan untuk mengganti bahasa yang telah digunakannya atau memilih bahasa lain sebagai ganti bahasa yang telah digunakannya.

Salah satu langkah dalam mempertahankan bahasa daerah dapat dilakukan melalui pendidikan. Pendidikan merupakan gerbang pertama dan utama dalam mempersiapkan generasi masa depan. Oleh sebab itu, pemertahanan bahasa daerah melalui pendidikan merupakan langkah strategis jangka panjang dalam upaya megonservasi atau melestarikan bahasa daerah sebagai aset budaya bangsa. Untuk mengantisipasi kepunahan bahasa daerah yang ada di Indonesia maka banyak beberapa sekolah memberikan materi bahasa daerah yang sesuai dengan konteks pemakaiannya dan tidak menyalahkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan disekolah, akan tetapi bahasa daerah juga patut kita lestarikan sebagai inventaris kebudayaan yang beragam dari beberapa daerah yang ada di Indonesia.

Faktor – Faktor Kepunahan Bahasa

Kepunahan bahasa-bahasa daerah merupakan fenomena yang harus disikapi secara arif. Berbagai upaya antisipatif dan serius perlu dilakukan. Untuk itu, barangkali perlu dilakukan identifikasi terlebih dahulu untuk mengetahui akar penyebab kepunahan itu sehingga dapat dilakukan cara yang tepat dalam penanganannya. Sebenarnya, ada banyak faktor yang dapat menyebabkan kepunahan bahasa. Berikut akan dipaparkan beberapa faktor penyebabnya yang teridentifikasi sejauh ini. Faktor pertama, yaitu pengaruh bahasa mayoritas di mana bahasa daerah tersebut digunakan. Sebuah bahasa daerah yang tidak dapat bersaing dengan bahasa lain dalam daerah yang sama bisa saja mengalami pergeseran dari bahasa yang berada pada ranah Tinggi (ranah agama, pendidikan, pekerjaan) ke bahasa yang berada pada ranah Rendah (ranah keluarga dan persahabatan). Jika bahasa tersebut terus terdesak, maka hal ini bisa saja menjadikannya sebagai bahasa yang sekarat dan pada akhirnya punah (Gunarwan 2006). Faktor kedua adalah kondisi masyarakat penuturnya yang bilingual atau bahkan multilingual. Artinya, kondisi di mana seorang penutur mampu menggunakan dua bahasa atau bahkan multi bahasa.

Ketiga, faktor globalisasi. Era globalisasi sekarang ini yang terjadi dalam berbagai dimensi kehidupan manusia seperti ekonomi, sosial, politik, dan budaya telah mendorong penutur sebuah bahasa untuk secara berhasil dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan penutur bahasa lain yang berasal dari negara lain terutama negara yang berbahasa Inggris. Era ini ditandai pula dengan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat berdampak pada orientasi pemakaian bahasa seorang penutur. Dalam situasi seperti itu penting adanya sebuah bahasa sebagai alat komunikasi secara internasional. Dengan kata lain, apa yang hendak dikatakan di sini ialah bahwa penggunaan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi yang telah diterima secara global turut berperan pula dalam proses kepunahan bahasa daerah. Keempat, yaitu faktor migrasi (migration). Migrasi penduduk keluar dari daerah asalnya baik karena pekerjaan, pendidikan, keluarga, maupun karena beberapa faktor lainnya turut pula menentukan kelangsungan hidup bahasanya. Faktor kelima ialah perkawinan antaretnik (intermarriage). Interaksi sosial antaretnik yang ada di Indonesia khususnya perkawinan antaretnik yang terjadi turut pula mendorong proses kepunahan bahasa daerah.

Faktor keenam, yaitu kurangnya penghargaan terhadap bahasa etnik sendiri. Hal ini dapat terjadi di mana saja dan cenderung terjadi pada generasi muda. Salah satu penyebabnya adalah pandangan mereka bahwa bahasa daerah kurang bergengsi atau kampungan. Faktor Ketujuh, kurangnya intensitas komunikasi berbahasa daerah dalam berbagai ranah khususnya dalam ranah rumah tangga. Orang tua jarang berkomunikasi menggunakan bahasa daerah dengan anak-anak. Padahal, intensitas dalam berkomunikasi dengan bahasa daerah terutama di rumah (antara orang tua dengan anak-anak) pasti sangat menentukan keberlangsungan bahasa daerah tersebut. Semakin sering bahasa itu digunakan oleh penuturnya akan memberikan dampak positif dalam upaya menghindari bahasa tersebut dari kepunahan.

Disini penulis berharap agar kedepannya isu ini dapat lebih di perhatikan dan kita semua bisa lebih mempertahankan bahasa daerah kita masing-masing agar tidak mengalami kepunahan. Penulis juga memberikan ruang kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun keberlangsungan dan kebebasan berpendapat agar dapat bermanfaat bagi khalayak umum.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …