
KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.
By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok di kalangan Generasi Z (mereka yang lahir antara 1997-2012), yang dominan menggunakan platform ini untuk berkomunikasi. Arus digital telah mengubah tatanan komunikasi secara fundamental, menggeser fokus dari formalitas ke instanitas dan efisiensi. Dalam lanskap media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X, Bahasa Indonesia menjadi medan pertempuran antara kebutuhan ekspresi cepat dan kaidah resmi yang diatur dalam Ejaan yang Disempurnakan (EYD) atau kini Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Kebiasaan mengabaikan aturan baku, yang awalnya dianggap sebagai kreativitas digital, kini memunculkan persoalan serius. Paparan yang terusmenerus terhadap ketidakbakuan ini berpotensi mengancam kompetensi literasi formal serta identitas kebahasaan Generasi Z.
Kesalahan berbahasa di ruang digital memiliki spektrum yang luas, melampaui sekadar salah ketik. Secara fonologis, sering ditemukan penyingkatan masif, seperti “yg,” “bgt,” atau bahkan menghilangkan vokal untuk menghemat waktu pengetikan. Secara morfologis, banyak pengguna mengacaukan penulisan preposisi “di-” yang seharusnya dipisah (misalnya, di sana) dengan prefiks “di-” yang harus digabung (misalnya, ditulis). Selain itu, aturan sintaksis sering diabaikan, ditandai dengan minimalnya penggunaan huruf kapital di awal kalimat, abainya tanda baca, serta maraknya campur kode (code-mixing) bahasa Indonesia dengan bahasa asing, terutama Inggris. Fenomena ini didorong oleh tuntutan kecepatan, sifat santai (casual) media sosial, dan dorongan untuk menyesuaikan diri dengan “gaya” komunikasi daring yang populer.
Dampak yang paling mengkhawatirkan dari normalisasi kesalahan ini adalah habitualisasi (pembiasaan). Ketika otak secara konsisten memproses input yang salah sebagai norma, kemampuan Generasi Z untuk membedakan antara ragam bahasa formal dan informal menjadi kabur. Kesulitan beralih dari satu register ke register lain (code-switching) terlihat jelas dalam konteks akademik, seperti penulisan esai, laporan ilmiah, atau surat lamaran kerja profesional. Jika mereka gagal menguasai ragam bahasa formal, yang merupakan medium utama untuk bernalar, berargumentasi, dan menyampaikan gagasan kompleks secara terstruktur, maka kualitas diskursus publik dan ilmu pengetahuan di masa depan pun akan terdampak. Literasi bukan hanya soal membaca, melainkan kemampuan memproduksi teks yang koheren dan sesuai konteks.
Tentu, kreativitas berbahasa di media sosial tidak dapat dimatikan, namun ia harus ditempatkan pada konteksnya yang tepat. Untuk mengatasi dampak negatif ini, dibutuhkan upaya kolaboratif. Pendidik dan institusi bahasa harus gencar mempromosikan literasi digital yang tidak hanya mengajarkan penggunaan teknologi, tetapi juga kesadaran register; yaitu pemahaman kapan harus menggunakan bahasa baku dan kapan bahasa santai diperbolehkan. Selain itu, pemerintah dan Badan Bahasa perlu memposisikan Bahasa Indonesia secara strategis sebagai bahasa ilmu dan profesionalitas, bahkan di platform digital, agar martabat bahasa nasional tetap terjaga di tengah arus globalisasi dan informalitas.
Kesimpulannya, era digital memang telah melahirkan inovasi dan kosakata baru, tetapi juga membawa risiko terabaikannya kaidah dasar. Mengabaikan EYD di media sosial adalah isu yang kompleks, bukan semata kesalahan teknis, melainkan cerminan pergeseran budaya berbahasa. Tanggung jawab kini ada di tangan Generasi Z dan para pemangku kepentingan untuk menyeimbangkan antara ekspresi diri yang cepat dan kebutuhan untuk melestarikan kompetensi bahasa formal. Kegagalan dalam upaya ini akan berarti hilangnya presisi berpikir dan merosotnya kualitas literasi formal bangsa.
admin
25 Jan 2026
By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …
admin
16 Jan 2026
By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …
admin
16 Jan 2026
By: Alnia Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …
admin
16 Jan 2026
By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler) membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …
admin
16 Jan 2026
By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …
admin
16 Jan 2026
By: Irma Nazwa Panjaitan, Ketimpangan gender telah lama menjadi permasalahan sentral dalam penelitian sosial karena sangat memengaruhi bentuk-bentuk ketidakadilan pada kehidupan masyarakat. Dalam konteks interaksi sosial antara perempuan dan laki-laki, mayoritas masyarakat tradisional didasarkan pada sistem patriarki. Berdasarkan sistem tersebut, laki-laki ditempatkan di posisi dominan yang menguasai berbagai aspek kehidupan, mulai dari keluarga, ekonomi, sosial, hingga …
18 Dec 2024 2.508 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
03 Jan 2025 1.253 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
03 Jan 2025 1.186 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, bersama tim dosen dari Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu Patumbak. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah melalui pemanfaatan teknologi digital. Bertajuk “Sosialisasi Memanfaatkan Teknologi Digital untuk Mendukung Pembelajaran Berbasis Proyek dan …
Comments are not available at the moment.