
MENGAKHIRI BULLYING DENGAN SOSIALISASI: HARAPAN ATAU ILUSI?
By: Della Frice Br Manurung, Ana Theresia Br Sitepu, Dhea Ayuanda
Kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah masih menjadi permasalahan yang sulit diatasi hingga saat ini. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), angka kasus bullying terus meningkat setiap tahunnya. Meskipun berbagai upaya edukasi dan sosialisasi telah dilakukan, seperti kampanye anti-bullying di sejumlah sekolah, termasuk SMA 1, SMA 2, dan SD di Balikpapan, kenyataannya tindakan perundungan masih marak terjadi. Fakta ini membuktikan bahwa edukasi saja tidak cukup untuk menghentikan perilaku bullying di kalangan generasi muda. Lalu, apa yang sebenarnya menjadi akar masalah dari perundungan ini? Dan langkah apa yang harus diambil untuk benar-benar mengatasi permasalahan ini?
Sering kali, penyebab bullying hanya dikaitkan dengan kurangnya edukasi tentang dampaknya. Padahal, akar masalahnya lebih kompleks dan berhubungan dengan sistem nilai yang dianut oleh generasi saat ini.
Salah satu faktor yang berkontribusi adalah berkembangnya nilai-nilai sekuler yang menempatkan kebebasan individu sebagai asas utama dalam berpikir dan bertindak. Ketika kebebasan ini tidak diiringi dengan tanggung jawab sosial dan moral, maka dapat muncul perilaku yang merugikan orang lain, termasuk bullying.
Sekulerisme (paham yang memisahkan agama dalam kehidupan) yang menitikberatkan kebebasan tanpa batas terkadang membuat individu merasa berhak melakukan apa pun yang diinginkan, tanpa mempertimbangkan konsekuensinya terhadap orang lain. Nilai seperti empati, kepedulian, dan kebersamaan menjadi terpinggirkan, sementara individualisme semakin menguat. Dalam lingkungan seperti ini, bullying tidak lagi dianggap sebagai pelanggaran moral yang serius, tetapi sering kali dilihat sebagai sekadar ekspresi kebebasan pribadi.
Selain itu, orientasi sistem pendidikan yang lebih menitikberatkan pada prestasi akademik dibandingkan penguatan karakter turut berkontribusi pada munculnya perilaku bullying. Ketika siswa tidak dibekali dengan nilai-nilai moral, empati, dan rasa hormat terhadap sesama, mereka cenderung lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan yang membenarkan tindakan kekerasan dan merendahkan orang lain.
Tak hanya itu, peran keluarga juga menjadi faktor penting dalam membentuk perilaku anak. Namun, dalam banyak kasus, orang tua yang terlalu sibuk bekerja sering kali kurang memberikan perhatian penuh terhadap pendidikan moral dan karakter anak sejak dini. Akibatnya, anak tumbuh tanpa bimbingan yang cukup dalam memahami nilai-nilai benar dan salah. Kurangnya pengawasan dan keterlibatan orang tua membuat anak lebih rentan terpengaruh oleh Lingkungan yang negatif, kemudia diperparah dengan budaya sekuler yang mendominasi, semakin memperkuat perilaku bullying sebagai sesuatu yang biasa dan bahkan dianggap sebagai bentuk eksistensi diri.
Fakta lain yang mengkhawatirkan adalah bahwa upaya penanggulangan bullying masih terkendala oleh lemahnya perangkat hukum serta minimnya peran masyarakat dalam membangun lingkungan yang aman dan suportif. Regulasi yang ada sering kali belum mampu memberikan perlindungan maksimal bagi korban maupun efek jera bagi pelaku. Selain itu, kurangnya kesadaran sosial dan budaya permisif yang justru menormalisasi tindakan kekerasan semakin memperburuk situasi. Jika penegakan hukum tidak diperkuat dan kesadaran kolektif masyarakat tidak ditingkatkan, maka bullying akan terus menjadi masalah yang sulit diatasi di berbagai lingkungan, termasuk di luar sekolah.
Solusinnya
Dalam mengatasi masalah bullying, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan menyeluruh, baik dari aspek keluarga, hukum, maupun peran masyarakat.
Pertama, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak sejak dini. keluarga punya peran dalam memastikan lingkungan sosial yang sehat bagi generasi. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai akhlak sejak dini, membentuk karakter anak dengan pemahaman yang benar tentang adab dan interaksi sosial. Pendidikan berbasis nilai Islam harus menjadi pondasi utama dalam membangun kepribadian yang kuat, sehingga anak-anak tumbuh dengan kesadaran akan hak dan kewajiban mereka dalam bermasyarakat.
Kedua, sistem hukum yang tegas dan adil sangat diperlukan untuk memberikan efek jera bagi pelaku bullying. Regulasi yang jelas dan sanksi yang tegas akan membuat para pelaku berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Namun, hukuman yang diberikan juga harus bersifat mendidik, agar pelaku memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali berkontribusi positif di lingkungan sosial.
Selanjutnya, peran media dan institusi pendidikan juga tidak kalah penting. Media harus lebih banyak menyajikan konten-konten edukatif yang membangun kesadaran akan pentingnya menghormati sesama dan menolak kekerasan dalam bentuk apa pun. Di sisi lain, institusi pendidikan perlu menerapkan kurikulum yang tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai moral.
Selain itu, masyarakat juga harus berperan aktif dalam menciptakan budaya yang menolak segala bentuk kekerasan dan perundungan. Budaya saling peduli, saling menghormati, serta berani menegur ketika melihat tindakan yang salah harus ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, bullying bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi menjadi tanggung jawab kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Pendekatan ini sejalan dengan sistem yang telah diatur secara komprehensif dalam Islam. Dalam Islam, setiap aspek kehidupan telah diatur dengan sempurna, termasuk dalam upaya mencegah dan menanggulangi bullying. Islam menekankan pentingnya peran keluarga dalam menanamkan akhlak mulia, sistem hukum yang adil untuk memberikan efek jera, serta peran masyarakat dalam menjaga amar ma’ruf nahi munkar. Jika semua elemen ini dapat diterapkan secara konsisten, maka perilaku bullying dapat ditekan secara efektif.
Wallahu A’lam bisshowwab.
admin
25 Jan 2026
By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …
admin
16 Jan 2026
By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …
admin
16 Jan 2026
By: Alnia Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …
admin
16 Jan 2026
By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler) membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …
admin
16 Jan 2026
By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …
admin
16 Jan 2026
By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …
18 Dec 2024 2.512 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
03 Jan 2025 1.257 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
03 Jan 2025 1.190 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, bersama tim dosen dari Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu Patumbak. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah melalui pemanfaatan teknologi digital. Bertajuk “Sosialisasi Memanfaatkan Teknologi Digital untuk Mendukung Pembelajaran Berbasis Proyek dan …
Comments are not available at the moment.