Home » Esai dan Opini » PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP POLA INTERAKSI MASYARAKAT MODERN

PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP POLA INTERAKSI MASYARAKAT MODERN

admin 16 Jan 2026 36

By: Andin Mutia Wardana, Pada era digital sekarang, hampir semua sisi kehidupan manusia melibatkan media sosial baik untuk berkomunikasi, mencari hiburan, maupun bekerja. setiap orang memiliki akun media sosial, baik itu Instagram, TikTok, WhatsApp, YouTube, atau X (Twitter). Kalau dulu orang harus bertemu secara langsung untuk berbicara, sekarang cukup dengan ponsel dan jaringan internet, komunikasi bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Perkembangan teknologi ini perlahan mengubah cara masyarakat berinteraksi satu sama lain. Interaksi yang dulu hangat dan penuh tatap muka, kini lebih sering dilakukan lewat layar.

Perubahan dari interaksi langsung ke komunikasi melalui layar memberi dampak besar terhadap cara dan perilaku sosial masyarakat modren. Untuk memahami kedalaman dan kompleksitas perubahan ini, memiliki dua teori seperti : Teori Interaksionisme Simbolik dan Teori Fungsionalisme. Kedua perspektif ini memberikan lensa tajam untuk mengurai bagaimana dinamika media sosial memengaruhi perilaku individu, identitas diri, dan kohesi sosial dalam masyarakat modern, khususnya di Indonesia yang memiliki tingkat penetrasi digital yang sangat tinggi.

Awalnya, media sosial dibuat untuk membantu orang berkomunikasi meski terpisah oleh jarak. Namun, seiring perkembangan teknologi, fungsinya semakin luas. Sekarang, media sosial bukan hanya tempat berbicara, tetapi juga menjadi ruang untuk mengekspresikan diri, mencari pengetahuan, membangun bisnis, hingga mencari dukungan sosial.

Di Indonesia, fenomena ini sangat menonjol.Indonesia termasuk negara dengan pengguna media sosial yang sangat aktif, sehingga kehidupan masyarakat kini banyak bergantung pada dunia digital. Dari kalangan anak muda hingga dewasa, media sosial diakses hampir setiap saat untuk berbagai keperluan mulai dari mencari berita terbaru, mengunggah momen pribadi, menonton video hiburan, hingga sekadar mengamati aktivitas orang lain. Kenyataan ini membuktikan bahwa media sosial telah bertransisi dari opsional menjadi esensial dalam struktur kehidupan modern Indonesia.

Namun, sebagaimana fenomena sosial lainnya, media sosial juga membawa disfungsi. Salah satu dampak yang paling sering disoroti adalah pergeseran fokus dari lingkungan fisik ke dunia maya. Sekarang, pandanganan orang yang lebih fokus pada layar ponseknya dibanding berbicara langsung sudah menjadi hal yang umum. Hal ini sering kali dihubungkan dengan menurunnya kualitas dan kehangatan interaksi tatap muka, membuat banyak hubungan terasa lebih dangkal atau transaksional, meskipun jumlah koneksi daring (online connections) terus bertambah. Individu mungkin terhubung dengan ribuan orang, tetapi mengalami kesepian emosional.

Media sosial memberikan banyak manfaat bagi kehidupan sosial. Dengan media sosial, orang bisa tetap berhubungan meskipun terpisah jarak jauh. Misalnya, keluarga yang tinggal di kota berbeda tetap bisa saling bertukar kabar setiap hari. Selain untuk berbagai kabar, media sosial juga berperan sebagai sarana penyebaran informasi dan solidaritas, misalnya melalui penggalangan dana atau aksi sosial daring.

Namun, media sosial juga membawa dampak yang tidak selalu positif. Banyak orang menjadi lebih sibuk dengan dunia maya dibanding dengan orang di sekitarnya. Hal ini secara bertahap mengubah kebiasaan interaksi secara langsung dalam kehidupan sosial. Selain itu, muncul budaya pencitraan, di mana seseorang ingin terlihat sempurna di mata orang lain dengan menampilkan kehidupan yang indah di media sosial.

Transformasi interaksi sosial di era digital yaitu fenomena sosial yang kompleks dan berlapis. Analisi melalui kacamata sosiologi interaksionisme simbolik menunjukkan bahwa media sosial adalah arena pembentukan makna dan identitas yang dinamis. di mana individu terus-menerus menegosiasikan citra diri mereka melalui simbol-simbol digital. Di sisi lain, Teori Fungsionalisme memosisikan media sosial sebagai komponen sistem sosial yang memiliki fungsi vital untuk konektivitas dan informasi, tetapi juga memiliki potensi disfungsi yang mengancam stabilitas dan kualitas hubungan sosial.

Fenomena tersebut sering membuat orang lain merasa tidak puas dengan kehidupannya. Ada yang merasa minder, iri, atau bahkan kehilangan rasa percaya diri karena membandingkan diri dengan orang lain di dunia maya. Akibatnya, interaksi sosial berubah arah: bukan lagi soal kedekatan dan empati, tapi tentang penampilan dan pengakuan.

Teori Interaksionisme Simbolik menjelaskan bahwa manusia berkomunikasi melalui simbol yang dimaknai bersama oleh masyarakat. Simbol-simbol itu bisa berupa kata, gerakan, atau benda yang digunakan untuk berkomunikasi. Di dunia digital, simbol itu bisa berupa emoji, caption, foto, atau video.

Melalui media sosial, setiap orang dapat memberikan makna tersendiri terhadap simbol-simbol tersebut. Misalnya, emoji “❤️” bisa berarti cinta, dukungan, atau sekadar tanda suka. Foto seseorang yang berlibur bisa dianggap sebagai simbol kesuksesan atau kebahagiaan. Semua makna itu terbentuk melalui interaksi antar pengguna.

Dalam konteks ini, media sosial menjadi tempat di mana seseorang bisa membentuk identitas sosialnya. Di dunia maya, orang dapat memilih bagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain. Inilah yang disebut dengan “looking glass self” — seseorang menilai dirinya berdasarkan bagaimana ia membayangkan pandangan orang lain terhadapnya.

Namun, kebebasan membentuk identitas ini juga bisa membuat seseorang kehilangan jati diri aslinya. Banyak pengguna media sosial yang meniru gaya hidup orang lain atau mengikuti tren hanya untuk diterima oleh kelompoknya. Maka dari itu, teori interaksionisme simbolik membantu kita memahami bahwa media sosial tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tapi juga cara kita memandang diri sendiri dan orang lain. Sementara itu, teori Fungsionalisme melihat masyarakat sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling mendukung untuk menjaga keseimbangan sosial. Dari sudut padang teori ini, media sosial dipandang sebagai sarana yang memelihara keterhubungan antaranggota masyarakat.

Fungsi utama media sosial adalah sebagai alat komunikasi yang sangat efisien dan penghubung jaringan sosial yang luas. Ia secara fungsional mempercepat pertukaran informasi (sebagai prasyarat penting bagi masyarakat modern) dan memperluas jaringan individu melampaui batas geografis. Sebagai contoh, saat krisis besar seperti pandemi COVID-19, media sosial memenuhi fungsi vitalnya sebagai sarana utama bagi masyarakat untuk mempertahankan aktivitas esensial—belajar, bekerja, dan bersosialisasi—tanpa melanggar protokol kesehatan. Ia menjadi saluran integrasi sosial dalam kondisi keterbatasan fisik.

Namun, teori ini juga mengenal istilah disfungsi sosial, yaitu ketika suatu hal yang seharusnya membawa manfaat justru menimbulkan masalah. Jika digunakan secara berlebihan, media sosial dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti ketergantungan, hoaks, hingga renggangnya hubungan antaranggota keluarga. Banyak keluarga yang kini jarang berbicara secara langsung karena masing-masing sibuk dengan gawainya.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa media sosial memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia berfungsi memperkuat hubungan sosial, tapi di sisi lain bisa melemahkan nilai-nilai sosial jika digunakan secara berlebihan. Maka, penting bagi masyarakat untuk menggunakan media sosial secara seimbang agar tetap berfungsi dengan baik bagi kehidupan sosial.

​Intinya media sosial bukan hanya alat untuk berkomunikasi, melainkan juga mencerminkan serta membentuk cara berpikir dan bertindak manusia. Ia telah membawa dunia ke dalam genggaman, memperluas jaringan kita secara horizontal, namun ironisnya, sering kali memperjarak kita secara vertikal dari orang-orang terdekat. Tantangan bagi masyarakat modern, khususnya di Indonesia memanfaatkan fungsi media sosial untuk keuntungan kolektif (informasi, solidaritas, koneksi) sambil secara sadar memitigasi disfungsi yang ditimbulkannya (kecanduan, pencitraan, hoaks). Penggunaan yang seimbang dan penuh kesadaran diri adalah kunci agar media sosial tetap menjadi alat yang melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …