Home » Esai dan Opini » PERAN GURU DI ERA DIGITAL: MENJADI FASILITATOR ATAU HANYA PENGAWAS?

PERAN GURU DI ERA DIGITAL: MENJADI FASILITATOR ATAU HANYA PENGAWAS?

admin 01 Apr 2025 920

By: Arridha Silfani, Vira Aulia

Di era digital yang berkembang pesat, dunia pendidikan mengalami transformasi signifikan. Teknologi telah merambah ke berbagai aspek kehidupan, termasuk cara peserta didik memperoleh informasi dan memahami materi pembelajaran. Akses terhadap internet, perangkat pintar, serta platform pembelajaran daring telah mengubah pola belajar yang sebelumnya bergantung pada metode konvensional menjadi lebih fleksibel dan mandiri. Namun, kemajuan teknologi ini juga menghadirkan tantangan bagi tenaga pendidik. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu, karena peserta didik dapat dengan mudah mencari informasi melalui berbagai media digital. Perubahan ini menuntut adanya adaptasi dalam peran guru di kelas. Guru perlu menyesuaikan metode pengajaran agar tetap relevan di tengah era digital, di mana pembelajaran tidak hanya berlangsung secara tatap muka, tetapi juga melalui berbagai platform teknologi. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan yang cukup krusial: apakah guru di era digital akan berperan sebagai fasilitator pembelajaran atau sekadar menjadi pengawas di dalam kelas?

Tantangan Guru di Era Digital

Perkembangan teknologi telah menghadirkan berbagai tantangan bagi guru. Dari kemudahan akses informasi, perubahan metode pembelajaran, hingga peran teknologi dalam menggantikan beberapa fungsi tradisional guru. Selain itu, munculnya platform pembelajaran daring dan kecerdasan buatan semakin mengubah dinamika interaksi antara guru dan siswa. Oleh karena itu, guru perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, menguasai teknologi, serta terus meningkatkan kompetensi agar tetap relevan dalam mendidik generasi saat ini.

Guru Sebagai Fasilitator

Konsep guru sebagai fasilitator mengacu pada peran pendidik yang tidak hanya memberikan materi secara satu arah, tetapi juga membimbing peserta didik dalam mengeksplorasi pengetahuan secara mandiri. Di era digital, informasi dapat dengan mudah diakses melalui internet, sehingga tugas guru lebih diarahkan pada bagaimana mengarahkan siswa untuk berpikir kritis, memilah sumber informasi yang valid, serta mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan nyata.

Sebagai fasilitator, guru harus mampu memanfaatkan berbagai teknologi pembelajaran, seperti Learning Management System (LMS), video interaktif, dan platform diskusi daring, guna menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan bermakna. Selain itu, guru juga perlu mengintegrasikan teknologi tersebut dengan metode pembelajaran yang inovatif agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan dan gaya belajar peserta didik. Dengan demikian, peran guru bukan hanya sebagai penyampai informasi, melainkan juga sebagai pemandu yang menginspirasi dan memberdayakan peserta didik agar menjadi pembelajar mandiri sepanjang hayat serta mampu menghadapi tantangan di era digital.

 

Peran Teknologi dalam Mendukung Guru sebagai Fasilitator

Teknologi memiliki potensi besar untuk menjadi alat yang mendukung dan memperkuat peran guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dalam berbagai aspek, seperti:

  1. Pembelajaran berbasis daring, yang memberikan kemudahan bagi peserta didik dan guru untuk berinteraksi tanpa terbatas oleh ruang dan waktu, sehingga memungkinkan fleksibilitas yang lebih tinggi dalam proses belajar mengajar, baik melalui kelas virtual, diskusi daring, maupun penggunaan berbagai media interaktif.
  2. Platform edukasi digital, yang berfungsi sebagai sarana untuk membantu guru dalam menyajikan materi pelajaran dengan cara yang lebih menarik, inovatif, dan mudah dipahami oleh peserta didik, misalnya melalui video pembelajaran, simulasi interaktif, serta modul e-learning yang dapat diakses kapan saja sesuai dengan kebutuhan siswa.
  3. Aplikasi pembelajaran adaptif, yang dirancang untuk menyesuaikan materi ajar berdasarkan tingkat pemahaman, kemampuan, serta kebutuhan individu peserta didik, sehingga setiap siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih personal, terarah, dan efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran yang optimal.

Dengan adanya pemanfaatan teknologi yang tepat dalam dunia pendidikan, guru tidak hanya dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis, menarik, dan sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga dapat mendukung terciptanya pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.

 

Guru Sebagai Pengawas

Sebaliknya, jika guru hanya berperan sebagai pengawas, maka fungsi pendidik dalam dunia pendidikan menjadi lebih pasif. Guru yang hanya berperan sebagai pengawas cenderung berfokus pada kedisiplinan peserta didik, tanpa memberikan ruang bagi mereka untuk berkembang secara kreatif dan kritis. Hal ini dapat menyebabkan siswa menjadi pasif, kurang termotivasi, dan hanya bergantung pada instruksi yang diberikan tanpa memiliki kemampuan berpikir mandiri.

Di era digital, di mana siswa dapat belajar dari berbagai sumber selain guru, peran pengawasan yang berlebihan justru dapat menghambat perkembangan mereka. Pembelajaran seharusnya menjadi proses yang dinamis, di mana guru dan siswa berkolaborasi untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan relevan dengan kebutuhan zaman.

 

Dampak Pengawasan Berlebihan terhadap Peserta Didik

Jika guru lebih banyak bertindak sebagai pengawas daripada fasilitator, beberapa dampak negatif bisa terjadi, seperti:

  1. Menurunnya kreativitas siswa, Siswa menjadi terbiasa mengikuti instruksi tanpa kesempatan mengeksplorasi ide atau mencari solusi sendiri. Hal ini dapat menghambat kemampuan berpikir kritis dan inovatif.
  2. Kurangnya motivasi belajar, Pola pengajaran yang kaku membuat siswa merasa belajar adalah kewajiban semata, bukan proses yang menyenangkan. Akibatnya, mereka bisa kehilangan minat dan hanya belajar untuk memenuhi tuntutan akademik.
  3. Ketergantungan tinggi pada instruksi, Siswa cenderung menunggu arahan daripada berinisiatif mencari informasi atau menyelesaikan masalah sendiri. Ini dapat mengurangi kemandirian mereka dalam belajar.
  4. Kurangnya keterampilan sosial dan kolaborasi, Jika pembelajaran terlalu berpusat pada guru, siswa memiliki lebih sedikit kesempatan untuk berdiskusi dan bekerja sama dengan teman sekelas, yang dapat menghambat pengembangan keterampilan komunikasi dan teamwork.
  5. Stres akademik yang meningkat, Tekanan untuk selalu mengikuti aturan ketat tanpa fleksibilitas dalam belajar bisa membuat siswa merasa terbebani dan tidak nyaman dengan proses pembelajaran.

Agar pembelajaran lebih efektif, guru sebaiknya berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa, memberikan ruang eksplorasi, serta mendorong kemandirian dan kerja sama dalam belajar.

 

Menemukan Keseimbangan

Meskipun peran fasilitator lebih ideal dalam pendidikan modern, bukan berarti pengawasan tidak diperlukan sama sekali. Keseimbangan antara keduanya harus tetap dijaga dengan seksama dalam proses pembelajaran yang efektif. Guru harus mampu memberikan kebebasan bagi peserta didik untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan secara mandiri dan kreatif, tetapi tetap memberikan bimbingan yang jelas dan terstruktur agar mereka tidak tersesat dalam lautan informasi yang begitu luas dan kompleks di era digital ini. Tanpa adanya pengawasan yang tepat, peserta didik mungkin akan kesulitan membedakan antara informasi yang valid dan yang menyesatkan, atau bahkan kehilangan fokus pada tujuan pembelajaran yang sebenarnya.

Pendidikan di era digital menuntut guru untuk terus belajar dan berkembang secara berkelanjutan seiring dengan cepatnya perubahan teknologi dan informasi. Tidak cukup hanya memahami materi ajar secara mendalam, tetapi juga harus mampu menguasai berbagai teknologi pembelajaran terkini serta metode pembelajaran inovatif yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik generasi digital saat ini. Kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran menjadi keterampilan yang wajib dimiliki oleh para pendidik masa kini. Dengan demikian, guru tidak hanya menjadi pengawas yang pasif yang sekadar memantau aktivitas belajar, tetapi juga fasilitator yang aktif dan dinamis dalam membentuk generasi yang kritis, kreatif, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks dan tidak terprediksi. Peran ganda ini membutuhkan komitmen tinggi dari para guru untuk terus mengembangkan kompetensi pedagogis dan teknologis mereka demi menciptakan ekosistem pembelajaran yang bermakna dan relevan.

 

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …