Home » Esai dan Opini » KRISIS KESEHATAN MENTAL REMAJA DI ERA DIGITAL SERTA TANTANGAN DAN SOLUSINYA

KRISIS KESEHATAN MENTAL REMAJA DI ERA DIGITAL SERTA TANTANGAN DAN SOLUSINYA

admin 04 Apr 2025 829

By: Vira Aulia, Aridha Silfani

Kesehatan mental di kalangan remaja perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pihak pemerintah. Contoh nyata adalah kasus menyedihkan seorang mahasiswa UGM yang mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 11 sebuah hotel di Yogyakarta, yang menunjukkan bahwa ada keadaan darurat kesehatan mental di antara remaja di Indonesia. Bunuh diri merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di negara ini, di mana ratarata satu orang meninggal setiap jam akibat tindakan tersebut, khususnya di kalangan usia 15 hingga 29 tahun. Kelompok mahasiswa memiliki risiko tinggi untuk mengalami pemikiran atau percobaan bunuh diri. Banyak kasus bunuh diri di antara mahasiswa muncul karena masalah akademis. Salah satu contohnya adalah kesulitan dalam menyelesaikan tugas akhir yang menyebabkan stres dan meningkatkan kemungkinan munculnya pikiran bunuh diri.

Lebih jauh lagi, masalah kesehatan mental remaja dapat membuat mereka terjebak dalam pergaulan yang tidak sehat, seperti hubungan seksual di usia dini, merokok, mengonsumsi alkohol, berkelahi, dan penyalahgunaan narkoba untuk menghindari masalah yang mereka hadapi. Salah satu penyebab gangguan kesehatan mental ini ialah perceraian orang tua serta kurangnya perhatian dan kasih sayang dari lingkungan mereka. Ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental remaja di Indonesia masih sangat rendah. Setiap tahun, masalah gangguan kesehatan mental semakin bertambah.

 

Di Indonesia, angka gangguan jiwa masih cukup tinggi, dengan satu dari lima orang atau sekitar 20% populasi berisiko mengalaminya. Berdasarkan data dari Riskesdas 2018, sekitar 6,2% remaja yang berusia 15 hingga 24 tahun menghadapi masalah depresi. Angka tersebut meningkat menjadi 8,9% seiring bertambahnya usia (InfodatinKemenkes RI, 2019). Berbagai gangguan kesehatan mental yang cukup umum di Indonesia meliputi kecemasan, stres, depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, hingga trauma. Banyak orang mengalami trauma akibat kekerasan atau pelecehan seksual. Sayangnya, penanganan bagi mereka yang menderita gangguan kesehatan mental masih sangat terbatas. Banyak keluarga yang masih menganggap masalah ini sebagai aib, membuat kesehatan mental jadi isu tabu. Kurangnya pemahaman publik mengenai kesehatan mental mengakibatkan terjadinya diskriminasi, pengucilan, perlakuan tampak buruk, bahkan pengekangan terhadap pasien.

Remaja enggan mengungkapkan masalah yang mereka hadapi karena banyak masyarakat masih menganggap kesehatan mental sebagai hal yang tidak penting. Semakin lama masalah tersebut dibiarkan, semakin besar kemungkinan munculnya masalah lain yang lebih sulit untuk diselesaikan, yang dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik remaja.  Menurut teori, keberadaan psikiater dan psikolog seharusnya membantu menjaga kesehatan mental remaja. Namun, banyak orang masih menganggap psikolog sebagai makhluk paranormal, bahkan beberapa menyamakan mereka dengan dukun, karena mereka percaya bahwa psikolog memiliki kemampuan untuk membaca sifat dan karakter seseorang.  Sangat sulit bagi pemerintah untuk memberi tahu masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mental remaja dan menghapus stigma paranormal terhadap psikolog.

Sila kedua Pancasila itu sendiri telah dirusak oleh sikap masyarakat terhadap orang-orang yang menderita gangguan mental.  Menurut sila kedua, negara harus menghormati dan menjaga martabat dan harkat setiap manusia (Kaelan dan Zubaidi, 2007: 32).  Sila kedua Pancasila mencerminkan kesadaran moral dan perilaku manusia yang berbasis kebudayaan dan norma, baik terhadap diri sendiri, sesama, maupun lingkungan.  Nilai kemanusiaan adalah inti darinya.  Kemanusiaan yang dimaksud mencakup sikap adil dan beradab, yang menekankan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan dan nilai-nilai keadilan.  Ini diwujudkan dalam rasa saling menghargai dan toleransi, yang tercermin dalam perilaku sehari-hari yang didasarkan pada nilai moral yang kuat dan kepentingan bersama.Dengan menerapkan sila kedua ini, diharapkan masalah yang dihadapi bangsa saat ini, seperti kurangnya toleransi, konflik antar golongan, dan masalah sosial, dapat diselesaikan.

Faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan mental remaja termasuk kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mental mereka dan efek negatif dari era globalisasi.  Salah satu dampak dari kurang tidur yang berkelanjutan, yang dapat meningkatkan risiko depresi.  Selama bertahun-tahun, kebutuhan untuk tetap terhubung di media sosial telah dikaitkan dengan penurunan kepercayaan diri dan peningkatan risiko depresi dan gangguan kecemasan.  Selain itu, telah terbukti bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan, terutama di kalangan anak-anak dan remaja, meningkatkan tingkat stres psikologis.

Semua faktor ini dapat saling berhubungan dan meningkatkan depresi remaja.  Media sosial sering menjadi tempat untuk mengekspresikan diri atau memamerkan aktivitas sehari-hari, yang justru dapat memicu rasa iri pada orang lain, yang dapat menyebabkan depresi dan gangguan mental lainnya.  Selain itu, media sosial sering menjadi tempat bullying, yang dapat menyebabkan tertekan dan bahkan memicu bunuh diri.  Mementingkan diri sendiri, mengabaikan lingkungan sosial, tidak sopan, mudah marah, dan tidak stabil emosi adalah beberapa gejala. Karena remaja adalah motor penggerak kemajuan dan pembangunan negara, banyak kasus gangguan mental pada remaja dapat merusak masa depan negara.  Kesehatan mental remaja dapat menurunkan kualitas generasi muda Indonesia jika pemerintah tidak segera menangani masalah ini.  Tanpa peran remaja yang aktif, negara akan kesulitan untuk maju, berubah, dan berkembang, dan identitasnya bisa hilang.  Kualitas bangsa tercermin dari keberhasilannya, dan generasi muda, yang sering disebut sebagai agen perubahan, memainkan peran penting dalam perubahan sosial di lingkungan mereka.  Sebagai agen perubahan, pemuda yang kritis dan jujur dapat mempengaruhi dan menyadarkan orang lain untuk melakukan perubahan sosial, misalnya dengan mendukung aspirasi masyarakat yang seringkali bertentangan dengan kebijakan pemerintah.

Pemuda adalah harapan bangsa, dan generasi berikutnya akan menjadi generasi penerus perubahan negara di masa depan.  Pemuda Indonesia harus berjuang untuk kemajuan negara mereka. Sebagai penerus bangsa, mereka harus menyadari pentingnya pendidikan karena pendidikan adalah kunci kemajuan negara. Dengan pendidikan mereka, mereka memiliki kemampuan untuk menghasilkan ide-ide kreatif dan semangat perjuangan untuk kemajuan negara. Namun, generasi muda bangsa tidak akan dapat diandalkan untuk kemajuan jika kesehatan mental remaja tidak dijaga. Jika bukan generasi muda, siapa yang akan menjaga kedaulatan negara? Pemerintah harus menyadari betapa pentingnya kesehatan mental remaja untuk masa depan negara ini. Kesehatan mental adalah masalah terbesar yang dihadapi negara ini, dan jika masalah ini tidak ditangani segera, negara akan hancur.

Akibatnya, pemerintah harus memberikan perhatian khusus pada kesehatan mental remaja. Pemerintah seharusnya bekerja sama dengan lembaga kesehatan untuk menangani kasus gangguan mental pada remaja dan memberi tahu orang agar tidak menganggap gangguan mental sebagai aib.  Upaya ini dapat membantu mengurangi angka bunuh diri remaja dan mengurangi stigma sosial yang menyebabkan dikucilkan.  Karena sila kedua Pancasila mengandung nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, keadilan, saling menghargai, dan mengutamakan adab, pemerintah dapat menggunakannya sebagai pedoman dalam menangani masalah kesehatan mental remaja. Nilai-nilai ini dapat digunakan untuk mencegah diskriminasi, pengucilan, perlakuan kasar, atau bahkan pemasungan terhadap orang yang mengalami gangguan jiwa.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …