Home » Esai dan Opini » Solidaritas Sosial Di Tengah Bencana Alam

Solidaritas Sosial Di Tengah Bencana Alam

admin 04 Nov 2025 178

By: Nur Azizah Br. Marbun. Seperti yang kita ketahui bahwa bencana alam merupakan fenomena yang tentunya memberikan luka pada banyak orang, karena bukan hanya berdampak pada infrastruktur fisik suatu wilayah, tetapi juga bagi struktur sosial dan psikologis masyarakatnya. Ketika gempa bumi meruntuhkan bangunan, banjir meluluhlantakan harta benda, atau letusan gunung berapi yang mampu mengungsikan ribuan jiwa, yang tersisa bukanlah kekosongan, melainkan sebuah respons mendasar yang mempersatukan: solidaritas sosial. Fenomena ini adalah cara masyarakat untuk membela diri secara bersama-sama. Artinya orang-orang yang hanya menjadi korban kini berubah menjadi pihak yang aktif membantu dan memiliki daya tahan.

Wujud dari solidaritas di masa krisis ini sangat beragam, bisa berupa bantuan kecil yang gampang dilakukan, sampai organisasi besar yang terstruktur. Beberapa contohnya adalah, para tetangga yang saling membantu mengamankan diri, relawan datang membawa kebutuhan logistik, serta beberapa warga yang bergerak menciptakan dapur umum. Semua tindakan ini berakar pada kesadaran kolektif bahwa penderitaan yang di alami adalah penderitaan bersama. Solidaritas ini membuat semua orang menyadari kalau mereka sama-sama lemah di hadapan bencana. Kesadaran inilah yang memunculkan semangat gotong royong, dimana semua orang saling membantu tanpa melihat perbedaan suku, agama, atau status sosial mereka.

Secara teori, solidaritas ini dapat dijelaskan melalui kerangka sosiolog klasik Emile Durkheim (1893) dengan buku “De la division du travail social”. Durkheim membedakan dua jenis solidaritas, yaitu organik dan mekanik. Solidaritas organik adalah ikatan yang ada di masyarakat modern dimana setiap orang punya pekerjaan atau peran berbeda-beda sehingga mereka sangat bergantung satu sama lain. Sedangkan, solidaritas mekanik adalah ikatan yang mencul dalam masyarakat sederhana, didasarkan pada kesamaan perasaan, nilai, dan keyakinan. Dalam konteks bencana alam, meskipun masyarakat modern didominasi oleh solidaritas organik, peristiwa krisis sering kali membuat masyarakat kembali ke solidaritas mekanik. Penderitaan yang dialami bersama menciptakan kedaran kolektif bahwa musibah tersebut adalah penderitaan bersama. Kesadaran dan kelemahan yang sama di hadapan bencana ini menumbuhkan semangat gotong royong, Dimana semua orang saling membantu tanpa memandang perbedaan.

Selain Durkheim, fenomena ketahanan dan pemulihan masyarakat pascabencana juga dapat di analisis menggunakan kerangka fungsionalisme structural dari Talcott Parsons (1951) dengan buku ”The Social System”. Parsons melihat masyarakat sebagai sebuah sistem yang terdiri dari berbagai subsistem yang saling terkait dan harus memenuhi empat fungsi dasar agar sistem sosial dapat bertahan dan berjalan stabil. Keempat fungsi ini dikenal sebagai skema AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latency atau Pattern Maintenance). Dalam konteks bencana alam, keempat fungsi AGIL ini bekerja secara intensif untuk mengembalikan keseimbangan (equilibrium) sosial. Masyarakat merespons cepat untuk mengamankan sumber daya yang diperlukan, seperti pembentukan posko darurat dan distribusi logistik yang mencerminkan fungsi Adaptasi. Selanjutnya, melalui koordinasi antarlembaga, tujuan utama untuk survival dan pemulihan dapat dicapai yang mencerminkan fungsi Pencapaian Tujuan. Inti dari solidaritas sosial yang berada pada fungsi integrasi, dimana ikatan emosional dan moral muncul untuk menyatukan masyarakat dan meminimalisir konflik. Terakhir, fungsi pemeliharaan pola memastikan nilai-nilai dan norma-norma dasar seperti rasa kemanusiaan dan semangat persatuan tetap dipertahankan dan diperkuat di tengah kekacauan, menjadikannya jangkar moral yang mencegah disintegrasi total. Dalam skema AGIL ini, Parsons menjelaskan bahwa respons kolektif terhadap bencana bukanlah sekedar tindakan spontan, melainkan sebuah mekanisme sosial terorganisir yang bertujuan memelihara sistem sosial agar mampu berfungsi kembali setelah guncangan hebat.

Solidaritas sosial tidak hanya berperan dalam pemenuhan kebutuhan fisik (logistik, tempat tinggal), tetapi juga dalam penanganan dampak psikososial yang mendalam. Bencana meninggalkan trauma, kecemasan, dan rasa kehilangan yang tak terukur. Di sini, solidaritas berfungsi sebagai “terapi kolektf” yang tak terpisahkan. Ketika korban melihat orang lain, baik tetangga, kerabat, atau bahkan orang asing untuk berbagi pengalaman serupa dan menawarkan dukungan emosional, rasa keterasingan berkurang drastis. Ruang aman yang dibentuk melalui gotong royong, dapur umum, atau sekadar sekumpul di posko, memberikan kesempatan bagi individu untuk memproses trauma secara komunal. Kegiatan pemulihan yang melibatkan masyarakat, seperti membersihkan puing bersama atau menbantu mengembalikan rasa kendali dan normalitas, sekaligus memperkuat kembali struktur sosial yang sempat runtuh. Ini membuktikan bahwa solidaritas adalah pondasi bagi ketahanan psikologis masyakarat.

Salah satu contoh paling monumental dari respons sosial dan pengaktifan skema AGIL adalah bencana gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004. Bencana ini menyebabkan kehancuran fisik dan kerugian jiwa yang massif, namun sekaligus memunculkan gelombang solidaritas sosial yang luar biasa yang sejalan dengan kerangka Parsons. Respons global dan lokal terlihat dalam upaya adaptasi, di mana bantuan kemanusiaan internasional membanjiri Aceh, sementara masyarakat lokal membangun tempat penampungan darurat. Pemerintah menunjukkan fungsi pencapaian tujuan dengan membentuk Badan Rehabilitas dan Rekontruksi (BRR) yang memiliki mandat jelas untuk membangun kembali Aceh dalam waktu terukur. Fungsi integrasi terwujud melalui solidaritas yang tidak hanya terjadi antarwarga lokal, tetapi juga antaragama, antarsuku, antarbangsa, di mana perbedaan sebelumnya mungkin menjadi sumber konflik seketika lebur karena kesamaan penderitaan. Di sinilah teori Durkheim menemukan relevasinnya yang paling dalam: ancaman kolektif telah memicu solidaritas mekanik sementara, yakni ikatan kuat yang didasarkan pada kesamaan pengalaman penderitaan dan nilai moral dasar kemanusiaan. Dalam situasi kekacauan norma akibat bencana, krisis yang sama ini justru menciptakan kembali kesadaran kolektif yang kuat. Keberadaan ikatan sosial yang instan ini menjadi sangat penting untuk mengatasi dampak psikologis yang dialami para korban. Solidaritas sosial ini berfungsi sebagai dukungan sosial (social support), yang secara efektif mengurangi tingkat kecemasan, trauma. Aksi gotong royong dan kebersamaan, yang dihidupkan kembali oleh pemeliharaan pola didukung oleh nilai-nilai keagamaan (Islami) dan budaya lokal yang kuat, menjadi lingkungan penyembuhan, memastikan masyarakat pulih tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual dan mental.

Kesimpulannya adalah, bencana alam berfungsi sebagai titik uji ekstrem bagi ketahanan masyarakat untuk membuktikan bahwa solidaritas sosial adalah fondasi bagi pemulihan. Melalui lensa Durkheim, krisis memicu lahirnya kembali solidaritas mekanik. Sementara itu, kerangka Parsons (AGIL) menawarkan penjelasan struktural, menunjukkan bahwa respons kolektif adalah mekanisme yang diperlukan agar sistem sosial dapat beradaptasi, mengintegrasikan anggotanya, dan mempertahankan norma dasarnya untuk mencapai ekuilibrium. Kasus gempa dan tsunami Aceh 2004 adalah bukti nyata bagaimana sinkronisasi kedua teori ini bekerja: solidaritas yang muncul secara spontan (mekanik) adalah sekaligus dukungan sosial yang esensial, yang membantu meredakan trauma psikologis dan memungkinkan lembaga formal (AGIL) bekerja untuk rekonstruksi. Oleh karena itu, Keterikatan sosial yang dipertahankan dan diperkuat melalui gotong royong dan nilai-nilai bersama bukanlah sekedar respons emosional, melainkan hukum fundamental yang memastikan keberlanjutan dan pemulihan kehidupan kolektif pascakrisis.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …