- Esai dan OpiniPembelajaran Literasi Di Sekolah Dasar Sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Karakter Siswa
- Esai dan OpiniPembelajaran Sastra Dan Bahasa Di Sekolah Dasar: Perspektif Para Ahli Pendidikan
- Esai dan OpiniMenurunnya Kemampuan Menulis Siswa di Era Digital
- Esai dan OpiniStrategi Cerdas Menggunakan Presentation Script untuk Mengasah Kemampuan Menyimak Siswa di Era Modern
- Esai dan OpiniBahasa di Ujung Jari: Cara Cerdas Belajar di Era Digital

Solidaritas Sosial Di Tengah Bencana Alam
By: Nur Azizah Br. Marbun. Seperti yang kita ketahui bahwa bencana alam merupakan fenomena yang tentunya memberikan luka pada banyak orang, karena bukan hanya berdampak pada infrastruktur fisik suatu wilayah, tetapi juga bagi struktur sosial dan psikologis masyarakatnya. Ketika gempa bumi meruntuhkan bangunan, banjir meluluhlantakan harta benda, atau letusan gunung berapi yang mampu mengungsikan ribuan jiwa, yang tersisa bukanlah kekosongan, melainkan sebuah respons mendasar yang mempersatukan: solidaritas sosial. Fenomena ini adalah cara masyarakat untuk membela diri secara bersama-sama. Artinya orang-orang yang hanya menjadi korban kini berubah menjadi pihak yang aktif membantu dan memiliki daya tahan.
Wujud dari solidaritas di masa krisis ini sangat beragam, bisa berupa bantuan kecil yang gampang dilakukan, sampai organisasi besar yang terstruktur. Beberapa contohnya adalah, para tetangga yang saling membantu mengamankan diri, relawan datang membawa kebutuhan logistik, serta beberapa warga yang bergerak menciptakan dapur umum. Semua tindakan ini berakar pada kesadaran kolektif bahwa penderitaan yang di alami adalah penderitaan bersama. Solidaritas ini membuat semua orang menyadari kalau mereka sama-sama lemah di hadapan bencana. Kesadaran inilah yang memunculkan semangat gotong royong, dimana semua orang saling membantu tanpa melihat perbedaan suku, agama, atau status sosial mereka.
Secara teori, solidaritas ini dapat dijelaskan melalui kerangka sosiolog klasik Emile Durkheim (1893) dengan buku “De la division du travail social”. Durkheim membedakan dua jenis solidaritas, yaitu organik dan mekanik. Solidaritas organik adalah ikatan yang ada di masyarakat modern dimana setiap orang punya pekerjaan atau peran berbeda-beda sehingga mereka sangat bergantung satu sama lain. Sedangkan, solidaritas mekanik adalah ikatan yang mencul dalam masyarakat sederhana, didasarkan pada kesamaan perasaan, nilai, dan keyakinan. Dalam konteks bencana alam, meskipun masyarakat modern didominasi oleh solidaritas organik, peristiwa krisis sering kali membuat masyarakat kembali ke solidaritas mekanik. Penderitaan yang dialami bersama menciptakan kedaran kolektif bahwa musibah tersebut adalah penderitaan bersama. Kesadaran dan kelemahan yang sama di hadapan bencana ini menumbuhkan semangat gotong royong, Dimana semua orang saling membantu tanpa memandang perbedaan.
Selain Durkheim, fenomena ketahanan dan pemulihan masyarakat pascabencana juga dapat di analisis menggunakan kerangka fungsionalisme structural dari Talcott Parsons (1951) dengan buku ”The Social System”. Parsons melihat masyarakat sebagai sebuah sistem yang terdiri dari berbagai subsistem yang saling terkait dan harus memenuhi empat fungsi dasar agar sistem sosial dapat bertahan dan berjalan stabil. Keempat fungsi ini dikenal sebagai skema AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration, Latency atau Pattern Maintenance). Dalam konteks bencana alam, keempat fungsi AGIL ini bekerja secara intensif untuk mengembalikan keseimbangan (equilibrium) sosial. Masyarakat merespons cepat untuk mengamankan sumber daya yang diperlukan, seperti pembentukan posko darurat dan distribusi logistik yang mencerminkan fungsi Adaptasi. Selanjutnya, melalui koordinasi antarlembaga, tujuan utama untuk survival dan pemulihan dapat dicapai yang mencerminkan fungsi Pencapaian Tujuan. Inti dari solidaritas sosial yang berada pada fungsi integrasi, dimana ikatan emosional dan moral muncul untuk menyatukan masyarakat dan meminimalisir konflik. Terakhir, fungsi pemeliharaan pola memastikan nilai-nilai dan norma-norma dasar seperti rasa kemanusiaan dan semangat persatuan tetap dipertahankan dan diperkuat di tengah kekacauan, menjadikannya jangkar moral yang mencegah disintegrasi total. Dalam skema AGIL ini, Parsons menjelaskan bahwa respons kolektif terhadap bencana bukanlah sekedar tindakan spontan, melainkan sebuah mekanisme sosial terorganisir yang bertujuan memelihara sistem sosial agar mampu berfungsi kembali setelah guncangan hebat.
Solidaritas sosial tidak hanya berperan dalam pemenuhan kebutuhan fisik (logistik, tempat tinggal), tetapi juga dalam penanganan dampak psikososial yang mendalam. Bencana meninggalkan trauma, kecemasan, dan rasa kehilangan yang tak terukur. Di sini, solidaritas berfungsi sebagai “terapi kolektf” yang tak terpisahkan. Ketika korban melihat orang lain, baik tetangga, kerabat, atau bahkan orang asing untuk berbagi pengalaman serupa dan menawarkan dukungan emosional, rasa keterasingan berkurang drastis. Ruang aman yang dibentuk melalui gotong royong, dapur umum, atau sekadar sekumpul di posko, memberikan kesempatan bagi individu untuk memproses trauma secara komunal. Kegiatan pemulihan yang melibatkan masyarakat, seperti membersihkan puing bersama atau menbantu mengembalikan rasa kendali dan normalitas, sekaligus memperkuat kembali struktur sosial yang sempat runtuh. Ini membuktikan bahwa solidaritas adalah pondasi bagi ketahanan psikologis masyakarat.
Salah satu contoh paling monumental dari respons sosial dan pengaktifan skema AGIL adalah bencana gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004. Bencana ini menyebabkan kehancuran fisik dan kerugian jiwa yang massif, namun sekaligus memunculkan gelombang solidaritas sosial yang luar biasa yang sejalan dengan kerangka Parsons. Respons global dan lokal terlihat dalam upaya adaptasi, di mana bantuan kemanusiaan internasional membanjiri Aceh, sementara masyarakat lokal membangun tempat penampungan darurat. Pemerintah menunjukkan fungsi pencapaian tujuan dengan membentuk Badan Rehabilitas dan Rekontruksi (BRR) yang memiliki mandat jelas untuk membangun kembali Aceh dalam waktu terukur. Fungsi integrasi terwujud melalui solidaritas yang tidak hanya terjadi antarwarga lokal, tetapi juga antaragama, antarsuku, antarbangsa, di mana perbedaan sebelumnya mungkin menjadi sumber konflik seketika lebur karena kesamaan penderitaan. Di sinilah teori Durkheim menemukan relevasinnya yang paling dalam: ancaman kolektif telah memicu solidaritas mekanik sementara, yakni ikatan kuat yang didasarkan pada kesamaan pengalaman penderitaan dan nilai moral dasar kemanusiaan. Dalam situasi kekacauan norma akibat bencana, krisis yang sama ini justru menciptakan kembali kesadaran kolektif yang kuat. Keberadaan ikatan sosial yang instan ini menjadi sangat penting untuk mengatasi dampak psikologis yang dialami para korban. Solidaritas sosial ini berfungsi sebagai dukungan sosial (social support), yang secara efektif mengurangi tingkat kecemasan, trauma. Aksi gotong royong dan kebersamaan, yang dihidupkan kembali oleh pemeliharaan pola didukung oleh nilai-nilai keagamaan (Islami) dan budaya lokal yang kuat, menjadi lingkungan penyembuhan, memastikan masyarakat pulih tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara spiritual dan mental.
Kesimpulannya adalah, bencana alam berfungsi sebagai titik uji ekstrem bagi ketahanan masyarakat untuk membuktikan bahwa solidaritas sosial adalah fondasi bagi pemulihan. Melalui lensa Durkheim, krisis memicu lahirnya kembali solidaritas mekanik. Sementara itu, kerangka Parsons (AGIL) menawarkan penjelasan struktural, menunjukkan bahwa respons kolektif adalah mekanisme yang diperlukan agar sistem sosial dapat beradaptasi, mengintegrasikan anggotanya, dan mempertahankan norma dasarnya untuk mencapai ekuilibrium. Kasus gempa dan tsunami Aceh 2004 adalah bukti nyata bagaimana sinkronisasi kedua teori ini bekerja: solidaritas yang muncul secara spontan (mekanik) adalah sekaligus dukungan sosial yang esensial, yang membantu meredakan trauma psikologis dan memungkinkan lembaga formal (AGIL) bekerja untuk rekonstruksi. Oleh karena itu, Keterikatan sosial yang dipertahankan dan diperkuat melalui gotong royong dan nilai-nilai bersama bukanlah sekedar respons emosional, melainkan hukum fundamental yang memastikan keberlanjutan dan pemulihan kehidupan kolektif pascakrisis.
admin
26 Apr 2026
By: Rachel Fairus Mumtaz Sebagai calon guru Sekolah Dasar, saya menyadari bahwa proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir serta pembentukan karakter peserta didik. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa untuk aktif, kreatif, dan reflektif. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang secara …
admin
26 Apr 2026
By: Nurul Fadila Putri HAKIKAT DAN TUJUAN PEMBELAJRAN SASTRA DI SEKOLAH DASAR Pembelajaran sastra di sd memiliki hakikat yang berbeda dengan pembelajaran sastra di jenjang yang lebih tinggi. Menurut Saxby dalam Nurgiyanto (2013), sastra anak adalah karya sastra yang secara emosional dan psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak-anak yang bersumber dari pengalaman emosional …
admin
26 Apr 2026
By: Gledy Sintya Situmorang Perkembangan teknologi digital menyebabkan perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Kemudahan akses informasi melalui internet, media sosial, dan berbagai aplikasi komunikasi memberikan dampak positif sekaligus negatif. Salah satu dampak negatif yang terlihat adalah menurunnya kemampuan menulis siswa, khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal …
admin
26 Apr 2026
By: Nurhanisa Lubis Dalam pembelajaran bahasa, keterampilan menyimak merupakan fondasi utama yang mendukung kemampuan berbicara, membaca, dan menulis. Namun, pada praktiknya, banyak siswa mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang disampaikan secara lisan. Hal ini sering disebabkan oleh kurangnya fokus, metode pembelajaran yang monoton, serta penyampaian materi yang tidak terstruktur. Kondisi tersebut menuntut adanya inovasi …
admin
26 Apr 2026
By: Endah Nur Hafizah Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa. Saat ini, belajar bahasa tidak lagi terbatas pada buku dan ruang kelas. Dengan adanya internet dan berbagai aplikasi digital, siapa pun dapat belajar bahasa kapan saja dan di mana saja. Namun, kemudahan ini sering kali tidak …
admin
26 Apr 2026
By: Delfi Nanda Azmita Minat baca adalah salah satu bagian penting dalam keberhasilan suatu pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa dan sastra. Namun yang terjadi di Indonesia, minat baca masyarakat tergolong sangat rendah. Kondisi ini menjadi perhatian yang cukup serius karena kemampuan membaca sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam memahami informasi, berpikir kritis, dan juga mengembangkan …
18 Dec 2024 2.824 views
By: Siti Nurhalija, Rizky Fadhilah Filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat yang berfokus pada kajian tentang hakikat pendidikan, termasuk tujuan, nilai, dan praktiknya. Sebagai disiplin ilmu, filsafat pendidikan berusaha memahami dan menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu pendidikan, mengapa pendidikan penting, dan bagaimana proses pendidikan seharusnya dilakukan. Filsafat pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi …
01 Apr 2025 1.851 views
By: Reza Widya Lubis Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, terutama yang berasal dari tradisi Melayu. Kearifan lokal ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari seni, adat istiadat, sastra lisan, hingga filosofi hidup masyarakatnya. Namun, di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan masuknya budaya …
03 Jan 2025 1.471 views
Inoe Kamis, 19 Desember 2024, tim dosen dari berbagai program studi di Fakultas Pendidikan Universitas Muslim Nusantara Al-Wasliyah Medan, yang terdiri dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Program Studi Ekonomi Manajemen, Program Studi Pendidikan Fisika, dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SMP Plus Kasih Ibu …
Comments are not available at the moment.