Home » Esai dan Opini » Pengembangan Dan Revisi Bahan Ajar Non Cetak

Pengembangan Dan Revisi Bahan Ajar Non Cetak

admin 12 Nov 2025 356

By: Lola Musfira. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia Pendidikan, terutama dalam cara guru menyajikan materi pembelajaran. Pembelajaran Bahasa Indonesia, sebagai salah satu mata pelajaran inti, kini tidak lagi hanya berfokus pada penguasaan teori kebahasaan, tetapi juga pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif. Salah satu materi yang saya ambil di jenjang SMA kelas XI adalah “Bermain Drama” yang tidak hanya menuntut kemampuan berbahasa secara lisan dan tulisan, tetapi juga kemampuan berkreasi dan berkolaborasi.

Video berjudul “Pengembangan Bahan Ajar Non Cetak Pendidikan Bahasa Indonesia – Bermain Drama Kelas XI” sumber yang diperoleh tertera pada link dibawah.

Sumber: YouTube (2020) https://youtu.be/q08Dn7DjZLI?si=jzayNjIB0JbSyH70

Dalam video tersebut menghadirkan inovasi dalam bahan ajar Bahasa Indonesia berbentuk media digital. Namun, agar sesuai dengan tuntutan pembelajaran modern dan kurikulum Merdeka, bahan ajar tersebut perlu direvisi dengan menambahkan unsur interaktivitas, pada pembelajaran berbasis proyek yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar.

ANALISIS DAN KRITIK

Bahan ajar yang ditampilkan dalam video masih berfokus pada penyampaian informasi secara satu arah. Meski telah berbentuk non-cetak, konten yang disajikan cenderung bersifat informatif, belum sepenuhnya interaktif, dan berfokus pada penjelasan guru. Siswa belum banyak diajak berinteraksi atau berkreasi, pembelajaran lebih menekankan pada hasil akhir bukan pada proses berlatih dan bekerja sama. Selain itu, bentuk medianya masih sederhana belum memanfaatkan video, animasi, atau kegiatan interaktif. Padahal, pembelajaran “Bermain Drama” seharusnya mengutamakan praktik, ekspresi, dan kerja kelompok, bukan hanya teori.

REVISI DAN PENYEMPURNAAN BAHAN AJAR

Revisi bahan ajar non-cetak pada materi “Bermain Drama” di kelas XI bertujuan untuk menyesuaikan isi dan metode pembelajaran dengan tuntutan zaman serta kebutuhan siswa masa kini. Dalam era digital, siswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus mampu mempraktikan, menganalisis dan menciptakan karya yang mencerminkan pemahaman mereka. Oleh karna itu, bahan ajar non-cetak yang direvisi harus bersifat interaktif, kolaboratif, dan kontekstual, serta memberikan ruang bagi siswa untuk berkreasi secara mandiri maupun kelompok. 

    1. Perbaikan Struktur dan Komponen Pembelajaran

Bahan ajar yang lama cenderung bersifat informatif, hanya berisi penjelasan tentang unsur-unsur drama seperti tema, tokoh, dialog, dan alur. Dalam versi revisi, struktur bahan ajar diperluas mengarahkan siswa pada pengalaman langsung dalam proses berkarya.

Struktur bahan ajar yang direvisi pada bagian-bagian berikut:

    1. Pendahuluan dan tujuan pembelajaran

Menjelaskan capaian pembelajaran dan manfaat bermain drama.

    1. Materi inti

Menjelaskan unsur drama dan juga memberikan contoh-contoh video pementasan, potongan naskah, dan analisis peran.

    1. Kegiatan interaktif

Melakukan latihan menulis dialog, membuat sketsa tokoh, atau merancang panggung mini secara digital.

    1. Proyek drama digital

Siswa dapat membuat video pendek pementasan kelompok.

    1. Refleksi dan penilaian diri

Di mana siswa menilai proses dan hasil belajar mereka

    1. Mengunakan Media Digital Interaktif

Pada revisi ini, bahan ajar dikembangkan menggunakan media digital yang menarik dan mudah diakses siswa. Cohtohnya:

» Membuat video contoh pementasan drama

»Menggunakan audio atau animasi tentang unsur-unsur drama

» Memiliki diskusi online seperti WhatsApp Group agar siswa bisa berbagi ide naskah.

Penggunaan teknologi seperti ini membuat pembelajaran lebih terasa nyata dan menyenangkan. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi ikut aktif terlibat dalam proses mencipta dan menampilkan karya. 

    1. Menggunakan Pembelajaran Berbasis Proyek

Guru dapat memberikan tugas proyek kelompok “Pementasan Drama Sekolah”. Setiap kelompok  siswa dapat menentukan tema sendiri, misalnya:

    • Perencanaan: siswa memilih tema dan menentukan tokoh
    • Penulisan naskah: kelompok menulis naskah dengan memperhatikan unsur-unsur drama
    • Latihan: siswa berlatih memerankan tokoh dengan penghayatan dan dapat mengekspresikan peran
    • Pementasan dan rekaman: hasil karya direkam atau dipentaskan di depan kelas.
    • Refleksi: siswa dan guru Bersama-sama menilai hasil dan proses pembelajaran.

Model ini memberikan pengalaman belajar yang menyeluruh dari ide, perencanaan, hingga hasil nyata. Selain itu, guru juga dapat mengamati kemampuan kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas siswa selama proses berlangsung. 

    1. Penilaian dan Refleksi

Penilaian tidak hanya berdasarkan hasil akhir, tapi juga proses belajar agar guru dapat menentukan penilaian seperti:

    • Naskah yang dibuat oleh siswa
    • Kekompakan dan kreativitas setiap kelompok
    • Cara siswa mengekspresikan peran.

Siswa juga diberi kesempatan untuk menilai diri sendiri dan teman sekelompoknya. Hal ini membantu mereka mengembangkan rasa tanggu jawab, kejujuran, dan empati. Sistem ini, siswa merasa dihargai bukan karena hasil akhir saja, tetapi karena usaha dan proses belajar mereka. 

    1. Mengangkat Nilai Budaya

Siswa dapat membuat drama berdasarkan cerita rakyat, legenda, atau kisah daerah mereka. Hal ini dapat membuat pembelajaran lebih bermakna dan membantu melestarikan budaya lokal.

Contohnya: siswa di daerah Jawab bisa mengangkat kisah “Timun Mas”, sementara siswa Sumatra Barat bisa membuat drama dari legenda “Malin Kundang”. Dengan ini, siswa tidak hanya belajar menulis dan berakting, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya bangsa. 

    1. Inklusif dan Mudah Diakses

Bahan ajar perlu dibuat ramah untuk semua siswa misalnya, video disertai teks atau terjemahan, dan mudah dipahami oleh semua peserta didik.

DAMPAK TERHADAP PEMBELAJARAN PADA SISWA

Revisi bahan ajar non-cetak “Bermain Drama” membawa dampak positif yang besar bagi siswa dan proses pembelajaran. Siswa menjadi lebih aktif dan kreatif mereka tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga terlibat langsung dalam mencipta karya. Melalui kegiatan menulis naskah dan bermain peran, siswa belajar mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka dengan cara yang positif. Bermain drama dapat menuntut kemampuan berbicara, mendengarkan, dan memahami emosi orang lain. Kegiatan ini melatih siswa agar berani tampil di depan umum, percaya diri, dan mampu menyampaikan pesan dengan baik.

Dalam proyek drama, semua anggota kelomok memiliki peran penting. Ada yang menulis naskah, ada yang menjadi sutradara dan ada yang berakting. Proses kerja tim ini menumbuhkan tanggung jawab Bersama, saling menghargai, dan toleransi. Dengan bahan ajar digital dan kegiatan berbasis proyek, siswa tidak merasa bosan. Mereka belajar sambil bermain, sekaligus mengasah kemampuan berpikir kreatif dan kritis. Menggunakan bahan ajar yang lebih fleksibel dan digital, guru bisa menghemat waktu dalam menjelaskan teori dan lebih fokus membimbing proses praktik siswa. Guru pun dapat menilai dengan cara yang lebih objektif karena ada rekaman kegiatan belajar.

Secara keseluruhan, revisi ini menciptakan suasana belajar yang aktif, komunikatif, dan sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka, yaitu dengan memberikan ruang bagi siswa untuk belajar sesuai minat dan kemampuannya.

KESIMPULAN

Revisi bahan ajar non-cetak “Bermain Drama” kelas XI merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia di era digital. Bahan ajar yang sebelumnya bersifat informatif kini berkembang menjadi media pembelajaran yang interaktif, kreatif, dan berpusat pada siswa. Dengan menerapkan pembelajaran berbasis proyek, penggunaan media digital, serta penilaian autentik, siswa memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna. Mereka tidak hanya memahami unsur drama, tetapi juga mampu berkreasi, bekerja sama, dan menumbuhkan kepekaan sosial budaya.

Perubahan ini menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia tidak harus monoton dan teoritis. Dengan pendekatan yang tepat, pelajaran ini bisa menjadi wadah pengembangan karakter, kreativitas, dan komunikasi siswa. Akhirnya, revisi bahan ajar non-cetak ini bukan sekedar pembaruan, tetapi juga pembaruan makna pembelajaran itu sendiri. Dari pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif, dan dari kegiatan akademik menjadi pengalaman hidup yang membentuk kepribadian dan keterampilan.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
BAHAYA ‘KLIK-SEBAR’ DI KALANGAN REMAJA: LITERASI DIGITAL SEBAGAI PILAR UTAMA MELAWAN DISINFORMASI DAN MENJAGA HARMONI SOSIAL

admin

25 Jan 2026

By: Auliya Rusmayanti, Literasi digital saat ini menjadi aspek yang sangat penting dalam kehidupan sosial remaja. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama internet dan media sosial, remaja menjadi generasi yang sangat akrab dengan dunia digital. Gadget dan media sosial telah menyatu dalam aktivitas sehari-hari mereka, digunakan tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga mencari informasi dan mengekspresikan …

KETIKA KITA KEHILANGAN RASA INGIN TAHU TENTANG BAHASA YANG KITA CINTAI

admin

16 Jan 2026

By: Nasywa Khairia Siregar, Menurut saya Bahasa adalah inti dari kemajuan. ia bukan hanya alat untuk berbicara,tetapi  metode untuk kita berpikir ,alat memahami dan bahkan wawasan kita untuk melihat dunia , itulah betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kehidupan bernegara . namun apa jadinya jika kita tidak ingin tahu lagi tentang bahasa kita? Pertanyaan ini sangat …

BELAJAR NILAI KEHIDUPAN DARI KARYA SASTRA INDONESIA

admin

16 Jan 2026

By: Alnia  Sahpitriani, Karya sastra Indonesia merupakan bentuk ekspresi manusia terhadap kehidupan yang dituangkan melalui bahasa yang indah dan bermakna. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sosial, dan budaya yang sarat akan nilai-nilai kehidupan. Melalui karya sastra, pembaca dapat memahami berbagai aspek kemanusiaan, seperti perjuangan, kasih sayang, tanggung jawab, …

MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN DAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR, DENGAN LITERASI UNTUK MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM BERKOMUNIKASI YANG TEPAT.

admin

16 Jan 2026

By:Dinda Sartika Maulina, YPI Ulfa Khairuna adalah sebuah Sekolah Dasar yang banyak memiliki keindahan tersendiri, salah satu keindahan itu ialah, penerapan Literasi Rutin. Dan juga memiliki program organisasi (ekstrakulikuler)  membaca bagi siswa-siswa yang masih kesulitan berbicara dan membaca. Literasi Ulfa Khairuna dilakukan setiap hari pada pagi hari di dalam kelas masing-masing, dan pada setiap hari …

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin

16 Jan 2026

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok …

BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA GAME DAN STREAMING ONLINE

admin

16 Jan 2026

By: Chintya Bella Tampubolon, Bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Salah satu ruang yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa saat ini adalah dunia digital, terutama dunia game dan streaming online. Di ruang ini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup, identitas, dan budaya …