Home » Esai dan Opini » Pengembangan Dan Revisi Bahan Ajar Non Cetak

Pengembangan Dan Revisi Bahan Ajar Non Cetak

admin 12 Nov 2025 461

By: Lola Musfira. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia Pendidikan, terutama dalam cara guru menyajikan materi pembelajaran. Pembelajaran Bahasa Indonesia, sebagai salah satu mata pelajaran inti, kini tidak lagi hanya berfokus pada penguasaan teori kebahasaan, tetapi juga pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif. Salah satu materi yang saya ambil di jenjang SMA kelas XI adalah “Bermain Drama” yang tidak hanya menuntut kemampuan berbahasa secara lisan dan tulisan, tetapi juga kemampuan berkreasi dan berkolaborasi.

Video berjudul “Pengembangan Bahan Ajar Non Cetak Pendidikan Bahasa Indonesia – Bermain Drama Kelas XI” sumber yang diperoleh tertera pada link dibawah.

Sumber: YouTube (2020) https://youtu.be/q08Dn7DjZLI?si=jzayNjIB0JbSyH70

Dalam video tersebut menghadirkan inovasi dalam bahan ajar Bahasa Indonesia berbentuk media digital. Namun, agar sesuai dengan tuntutan pembelajaran modern dan kurikulum Merdeka, bahan ajar tersebut perlu direvisi dengan menambahkan unsur interaktivitas, pada pembelajaran berbasis proyek yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar.

ANALISIS DAN KRITIK

Bahan ajar yang ditampilkan dalam video masih berfokus pada penyampaian informasi secara satu arah. Meski telah berbentuk non-cetak, konten yang disajikan cenderung bersifat informatif, belum sepenuhnya interaktif, dan berfokus pada penjelasan guru. Siswa belum banyak diajak berinteraksi atau berkreasi, pembelajaran lebih menekankan pada hasil akhir bukan pada proses berlatih dan bekerja sama. Selain itu, bentuk medianya masih sederhana belum memanfaatkan video, animasi, atau kegiatan interaktif. Padahal, pembelajaran “Bermain Drama” seharusnya mengutamakan praktik, ekspresi, dan kerja kelompok, bukan hanya teori.

REVISI DAN PENYEMPURNAAN BAHAN AJAR

Revisi bahan ajar non-cetak pada materi “Bermain Drama” di kelas XI bertujuan untuk menyesuaikan isi dan metode pembelajaran dengan tuntutan zaman serta kebutuhan siswa masa kini. Dalam era digital, siswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus mampu mempraktikan, menganalisis dan menciptakan karya yang mencerminkan pemahaman mereka. Oleh karna itu, bahan ajar non-cetak yang direvisi harus bersifat interaktif, kolaboratif, dan kontekstual, serta memberikan ruang bagi siswa untuk berkreasi secara mandiri maupun kelompok. 

    1. Perbaikan Struktur dan Komponen Pembelajaran

Bahan ajar yang lama cenderung bersifat informatif, hanya berisi penjelasan tentang unsur-unsur drama seperti tema, tokoh, dialog, dan alur. Dalam versi revisi, struktur bahan ajar diperluas mengarahkan siswa pada pengalaman langsung dalam proses berkarya.

Struktur bahan ajar yang direvisi pada bagian-bagian berikut:

    1. Pendahuluan dan tujuan pembelajaran

Menjelaskan capaian pembelajaran dan manfaat bermain drama.

    1. Materi inti

Menjelaskan unsur drama dan juga memberikan contoh-contoh video pementasan, potongan naskah, dan analisis peran.

    1. Kegiatan interaktif

Melakukan latihan menulis dialog, membuat sketsa tokoh, atau merancang panggung mini secara digital.

    1. Proyek drama digital

Siswa dapat membuat video pendek pementasan kelompok.

    1. Refleksi dan penilaian diri

Di mana siswa menilai proses dan hasil belajar mereka

    1. Mengunakan Media Digital Interaktif

Pada revisi ini, bahan ajar dikembangkan menggunakan media digital yang menarik dan mudah diakses siswa. Cohtohnya:

» Membuat video contoh pementasan drama

»Menggunakan audio atau animasi tentang unsur-unsur drama

» Memiliki diskusi online seperti WhatsApp Group agar siswa bisa berbagi ide naskah.

Penggunaan teknologi seperti ini membuat pembelajaran lebih terasa nyata dan menyenangkan. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi ikut aktif terlibat dalam proses mencipta dan menampilkan karya. 

    1. Menggunakan Pembelajaran Berbasis Proyek

Guru dapat memberikan tugas proyek kelompok “Pementasan Drama Sekolah”. Setiap kelompok  siswa dapat menentukan tema sendiri, misalnya:

    • Perencanaan: siswa memilih tema dan menentukan tokoh
    • Penulisan naskah: kelompok menulis naskah dengan memperhatikan unsur-unsur drama
    • Latihan: siswa berlatih memerankan tokoh dengan penghayatan dan dapat mengekspresikan peran
    • Pementasan dan rekaman: hasil karya direkam atau dipentaskan di depan kelas.
    • Refleksi: siswa dan guru Bersama-sama menilai hasil dan proses pembelajaran.

Model ini memberikan pengalaman belajar yang menyeluruh dari ide, perencanaan, hingga hasil nyata. Selain itu, guru juga dapat mengamati kemampuan kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas siswa selama proses berlangsung. 

    1. Penilaian dan Refleksi

Penilaian tidak hanya berdasarkan hasil akhir, tapi juga proses belajar agar guru dapat menentukan penilaian seperti:

    • Naskah yang dibuat oleh siswa
    • Kekompakan dan kreativitas setiap kelompok
    • Cara siswa mengekspresikan peran.

Siswa juga diberi kesempatan untuk menilai diri sendiri dan teman sekelompoknya. Hal ini membantu mereka mengembangkan rasa tanggu jawab, kejujuran, dan empati. Sistem ini, siswa merasa dihargai bukan karena hasil akhir saja, tetapi karena usaha dan proses belajar mereka. 

    1. Mengangkat Nilai Budaya

Siswa dapat membuat drama berdasarkan cerita rakyat, legenda, atau kisah daerah mereka. Hal ini dapat membuat pembelajaran lebih bermakna dan membantu melestarikan budaya lokal.

Contohnya: siswa di daerah Jawab bisa mengangkat kisah “Timun Mas”, sementara siswa Sumatra Barat bisa membuat drama dari legenda “Malin Kundang”. Dengan ini, siswa tidak hanya belajar menulis dan berakting, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya bangsa. 

    1. Inklusif dan Mudah Diakses

Bahan ajar perlu dibuat ramah untuk semua siswa misalnya, video disertai teks atau terjemahan, dan mudah dipahami oleh semua peserta didik.

DAMPAK TERHADAP PEMBELAJARAN PADA SISWA

Revisi bahan ajar non-cetak “Bermain Drama” membawa dampak positif yang besar bagi siswa dan proses pembelajaran. Siswa menjadi lebih aktif dan kreatif mereka tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga terlibat langsung dalam mencipta karya. Melalui kegiatan menulis naskah dan bermain peran, siswa belajar mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka dengan cara yang positif. Bermain drama dapat menuntut kemampuan berbicara, mendengarkan, dan memahami emosi orang lain. Kegiatan ini melatih siswa agar berani tampil di depan umum, percaya diri, dan mampu menyampaikan pesan dengan baik.

Dalam proyek drama, semua anggota kelomok memiliki peran penting. Ada yang menulis naskah, ada yang menjadi sutradara dan ada yang berakting. Proses kerja tim ini menumbuhkan tanggung jawab Bersama, saling menghargai, dan toleransi. Dengan bahan ajar digital dan kegiatan berbasis proyek, siswa tidak merasa bosan. Mereka belajar sambil bermain, sekaligus mengasah kemampuan berpikir kreatif dan kritis. Menggunakan bahan ajar yang lebih fleksibel dan digital, guru bisa menghemat waktu dalam menjelaskan teori dan lebih fokus membimbing proses praktik siswa. Guru pun dapat menilai dengan cara yang lebih objektif karena ada rekaman kegiatan belajar.

Secara keseluruhan, revisi ini menciptakan suasana belajar yang aktif, komunikatif, dan sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka, yaitu dengan memberikan ruang bagi siswa untuk belajar sesuai minat dan kemampuannya.

KESIMPULAN

Revisi bahan ajar non-cetak “Bermain Drama” kelas XI merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia di era digital. Bahan ajar yang sebelumnya bersifat informatif kini berkembang menjadi media pembelajaran yang interaktif, kreatif, dan berpusat pada siswa. Dengan menerapkan pembelajaran berbasis proyek, penggunaan media digital, serta penilaian autentik, siswa memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna. Mereka tidak hanya memahami unsur drama, tetapi juga mampu berkreasi, bekerja sama, dan menumbuhkan kepekaan sosial budaya.

Perubahan ini menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia tidak harus monoton dan teoritis. Dengan pendekatan yang tepat, pelajaran ini bisa menjadi wadah pengembangan karakter, kreativitas, dan komunikasi siswa. Akhirnya, revisi bahan ajar non-cetak ini bukan sekedar pembaruan, tetapi juga pembaruan makna pembelajaran itu sendiri. Dari pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif, dan dari kegiatan akademik menjadi pengalaman hidup yang membentuk kepribadian dan keterampilan.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra

admin

06 Jun 2026

By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …

Mengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi

admin

06 Jun 2026

By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …

Menyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi

admin

06 Jun 2026

By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …

Pengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra

admin

06 Jun 2026

By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …

Pengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

admin

06 Jun 2026

By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …

Pengembangan Kemampuan Berbicara sebagai Dasar Komunikasi Efektif

admin

06 Jun 2026

By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …