Beranda » Esai dan Opini » Bahasa Indonesia yang Mulai Kehilangan Rasa

Bahasa Indonesia yang Mulai Kehilangan Rasa

By: Padhila Munawaroh, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang besar, bukan hanya karena wilayahnya yang luas, tapi karena keberagamannya. Dari sabang sampai Merauke, kita punya ratusan bahasa daerah. Namun, di antara keragaman itu, ada satu bahasa yang menyatukan yaitu bahasa Indonesia. Sayangnya, bahasa yang dulu diagungkan sebagai simbol persatuan kini mulai kehilangan rasa hormat dari penuturnya sendiri.

Hal ini terlihat jelas di lingkungan mahasiswa. Entah mengapa, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar seakan menjadi sesuatu yang “berlebihan”. Bahkan yang sangat memprihatinkan  lagi timbul kata-kata yang membuat mahasiswa malu berbahasa yang benar dengan ungkapan “kalau tidak berbahasa gaul kita dikatakan kampungan”, dan hal inilah yang mempengaruhi kita sekarang. Banyak yang lebih suka mencampur bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Kalimat seperti “soalnya itu vibes-nya beda banget” atau “aku tuh literally capek banget” terdengar biasa, padahal jelas bukan bahasa kita. Saya sering bertanya dalam hati, apakah kita malu menggunakan bahasa Indonesia secara utuh?

Bahasa Indonesia bukan hanya soal ejaan dan tata bahasa, tapi juga cerminan pola pikir. Ketika cara menulis mahasiswa mulai berantakan dari penempatan tanda baca sampai struktur kalimat yang tidak jelas, hal itu bukan sekadar kesalahan teknis, tapi tanda bahwa kemampuan berpikir runtut mulai luntur. Banyak mahasiswa menulis tanpa memperhatikan kejelasan makna. Asal kata-katanya banyak, dianggap sudah cukup. Padahal tulisan yang baik bukan diukur dari panjangnya, melainkan dari ketepatan maknanya.

Yang membuat saya heran, pelajaran bahasa Indonesia di sekolah sering kali hanya berhenti di teori. Kita diajari tentang kalimat efektif, majas, dan struktur teks, tapi jarang diajak menulis secara nyata. Akibatnya, ketika masuk kuliah, banyak mahasiswa yang gagap menuangkan pikiran ke dalam tulisan. Mungkin inilah sebabnya tugas-tugas ilmiah sering berisi kalimat yang “terpaksa nyambung”. Paragraf disusun hanya supaya terlihat banyak, bukan supaya ide tersampaikan dengan baik.

Lebih parah lagi, media sosial semakin memperkeruh cara berbahasa kita. Singkatan aneh, huruf kecil di awal kalimat, tanda baca berlebihan semua dianggap wajar. Ada yang menulis status seperti “aku tuh capeee bangettt!!!”, dan itu entah mengapa terasa lucu, padahal jauh dari tata bahasa yang seharusnya. Mungkin sebagian menganggap itu hanya gaya, tapi lama-lama gaya bisa jadi kebiasaan. Dan kebiasaan, kalau dibiarkan, bisa membentuk cara berpikir yang serampangan.

Yang ironis, banyak calon guru, termasuk saya, masih sering melakukan hal yang sama. Kita seolah lupa bahwa kelak, cara kita berbicara dan menulis akan ditiru oleh anak-anak. Kalau sejak sekarang saja kita tidak bisa menulis dengan baik, bagaimana nanti bisa mengajarkan bahasa yang benar kepada siswa? Saya tidak ingin anak didik saya nanti menganggap bahasa Indonesia itu membosankan atau tidak penting. Karena sejatinya, bahasa adalah identitas dan kehilangan bahasa berarti kehilangan arah.

Bahasa Indonesia memang terus berkembang, tapi bukan berarti kebebasan itu membuat kita bebas mengabaikan kaidah. Justru di tengah derasnya pengaruh asing, kita perlu kembali pada akar sendiri. Bahasa yang baik tidak harus kaku, asal tetap menghargai kaidah dan rasa. Mungkin sudah waktunya kita berhenti menganggap bahasa Indonesia sebagai sekadar pelajaran, dan mulai memperlakukannya sebagai bagian dari diri yang harus dijaga.

Entah sejak kapan, berbicara dengan bahasa sendiri terasa asing di telinga kita. Kadang saya juga berpikir, jangan-jangan suatu hari nanti, kita baru sadar pentingnya bahasa Indonesia ketika semuanya sudah terlambat ketika generasi muda lebih fasih berkata sorry daripada “maaf”.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less