Home » Esai dan Opini » Bahasa Indonesia yang Mulai Kehilangan Rasa

Bahasa Indonesia yang Mulai Kehilangan Rasa

admin 21 Dec 2025 255

By: Padhila Munawaroh, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang besar, bukan hanya karena wilayahnya yang luas, tapi karena keberagamannya. Dari sabang sampai Merauke, kita punya ratusan bahasa daerah. Namun, di antara keragaman itu, ada satu bahasa yang menyatukan yaitu bahasa Indonesia. Sayangnya, bahasa yang dulu diagungkan sebagai simbol persatuan kini mulai kehilangan rasa hormat dari penuturnya sendiri.

Hal ini terlihat jelas di lingkungan mahasiswa. Entah mengapa, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar seakan menjadi sesuatu yang “berlebihan”. Bahkan yang sangat memprihatinkan  lagi timbul kata-kata yang membuat mahasiswa malu berbahasa yang benar dengan ungkapan “kalau tidak berbahasa gaul kita dikatakan kampungan”, dan hal inilah yang mempengaruhi kita sekarang. Banyak yang lebih suka mencampur bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Kalimat seperti “soalnya itu vibes-nya beda banget” atau “aku tuh literally capek banget” terdengar biasa, padahal jelas bukan bahasa kita. Saya sering bertanya dalam hati, apakah kita malu menggunakan bahasa Indonesia secara utuh?

Bahasa Indonesia bukan hanya soal ejaan dan tata bahasa, tapi juga cerminan pola pikir. Ketika cara menulis mahasiswa mulai berantakan dari penempatan tanda baca sampai struktur kalimat yang tidak jelas, hal itu bukan sekadar kesalahan teknis, tapi tanda bahwa kemampuan berpikir runtut mulai luntur. Banyak mahasiswa menulis tanpa memperhatikan kejelasan makna. Asal kata-katanya banyak, dianggap sudah cukup. Padahal tulisan yang baik bukan diukur dari panjangnya, melainkan dari ketepatan maknanya.

Yang membuat saya heran, pelajaran bahasa Indonesia di sekolah sering kali hanya berhenti di teori. Kita diajari tentang kalimat efektif, majas, dan struktur teks, tapi jarang diajak menulis secara nyata. Akibatnya, ketika masuk kuliah, banyak mahasiswa yang gagap menuangkan pikiran ke dalam tulisan. Mungkin inilah sebabnya tugas-tugas ilmiah sering berisi kalimat yang “terpaksa nyambung”. Paragraf disusun hanya supaya terlihat banyak, bukan supaya ide tersampaikan dengan baik.

Lebih parah lagi, media sosial semakin memperkeruh cara berbahasa kita. Singkatan aneh, huruf kecil di awal kalimat, tanda baca berlebihan semua dianggap wajar. Ada yang menulis status seperti “aku tuh capeee bangettt!!!”, dan itu entah mengapa terasa lucu, padahal jauh dari tata bahasa yang seharusnya. Mungkin sebagian menganggap itu hanya gaya, tapi lama-lama gaya bisa jadi kebiasaan. Dan kebiasaan, kalau dibiarkan, bisa membentuk cara berpikir yang serampangan.

Yang ironis, banyak calon guru, termasuk saya, masih sering melakukan hal yang sama. Kita seolah lupa bahwa kelak, cara kita berbicara dan menulis akan ditiru oleh anak-anak. Kalau sejak sekarang saja kita tidak bisa menulis dengan baik, bagaimana nanti bisa mengajarkan bahasa yang benar kepada siswa? Saya tidak ingin anak didik saya nanti menganggap bahasa Indonesia itu membosankan atau tidak penting. Karena sejatinya, bahasa adalah identitas dan kehilangan bahasa berarti kehilangan arah.

Bahasa Indonesia memang terus berkembang, tapi bukan berarti kebebasan itu membuat kita bebas mengabaikan kaidah. Justru di tengah derasnya pengaruh asing, kita perlu kembali pada akar sendiri. Bahasa yang baik tidak harus kaku, asal tetap menghargai kaidah dan rasa. Mungkin sudah waktunya kita berhenti menganggap bahasa Indonesia sebagai sekadar pelajaran, dan mulai memperlakukannya sebagai bagian dari diri yang harus dijaga.

Entah sejak kapan, berbicara dengan bahasa sendiri terasa asing di telinga kita. Kadang saya juga berpikir, jangan-jangan suatu hari nanti, kita baru sadar pentingnya bahasa Indonesia ketika semuanya sudah terlambat ketika generasi muda lebih fasih berkata sorry daripada “maaf”.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra

admin

06 Jun 2026

By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …

Mengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi

admin

06 Jun 2026

By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …

Menyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi

admin

06 Jun 2026

By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …

Pengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra

admin

06 Jun 2026

By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …

Pengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

admin

06 Jun 2026

By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …

Pengembangan Kemampuan Berbicara sebagai Dasar Komunikasi Efektif

admin

06 Jun 2026

By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …