Home » Esai dan Opini » KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

KETIKA EYD DIABAIKAN: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA DI MEDIA SOSIAL DAN DAMPAKNYA PADA LITERASI GENERASI Z.

admin 16 Jan 2026 500

By: Ade Jihan Raysah Putri Daulay, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan pedoman resmi untuk penulisan bahasa Indonesia yang telah disahkan sejak 1972. EYD bertujuan menjaga konsistensi, kejelasan, dan keindahan bahasa sebagai identitas bangsa. Namun, di era digital saat ini, EYD sering diabaikan, terutama di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan TikTok. Fenomena ini semakin mencolok di kalangan Generasi Z (mereka yang lahir antara 1997-2012), yang dominan menggunakan platform ini untuk berkomunikasi. Arus digital telah mengubah tatanan komunikasi secara fundamental, menggeser fokus dari formalitas ke instanitas dan efisiensi. Dalam lanskap media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X, Bahasa Indonesia menjadi medan pertempuran antara kebutuhan ekspresi cepat dan kaidah resmi yang diatur dalam Ejaan yang Disempurnakan (EYD) atau kini Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Kebiasaan mengabaikan aturan baku, yang awalnya dianggap sebagai kreativitas digital, kini memunculkan persoalan serius. Paparan yang terusmenerus terhadap ketidakbakuan ini berpotensi mengancam kompetensi literasi formal serta identitas kebahasaan Generasi Z.

Kesalahan berbahasa di ruang digital memiliki spektrum yang luas, melampaui sekadar salah ketik. Secara fonologis, sering ditemukan penyingkatan masif, seperti “yg,” “bgt,” atau bahkan menghilangkan vokal untuk menghemat waktu pengetikan. Secara morfologis, banyak pengguna mengacaukan penulisan preposisi “di-” yang seharusnya dipisah (misalnya, di sana) dengan prefiks “di-” yang harus digabung (misalnya, ditulis). Selain itu, aturan sintaksis sering diabaikan, ditandai dengan minimalnya penggunaan huruf kapital di awal kalimat, abainya tanda baca, serta maraknya campur kode (code-mixing) bahasa Indonesia dengan bahasa asing, terutama Inggris. Fenomena ini didorong oleh tuntutan kecepatan, sifat santai (casual) media sosial, dan dorongan untuk menyesuaikan diri dengan “gaya” komunikasi daring yang populer.

Dampak yang paling mengkhawatirkan dari normalisasi kesalahan ini adalah habitualisasi (pembiasaan). Ketika otak secara konsisten memproses input yang salah sebagai norma, kemampuan Generasi Z untuk membedakan antara ragam bahasa formal dan informal menjadi kabur. Kesulitan beralih dari satu register ke register lain (code-switching) terlihat jelas dalam konteks akademik, seperti penulisan esai, laporan ilmiah, atau surat lamaran kerja profesional. Jika mereka gagal menguasai ragam bahasa formal, yang merupakan medium utama untuk bernalar, berargumentasi, dan menyampaikan gagasan kompleks secara terstruktur, maka kualitas diskursus publik dan ilmu pengetahuan di masa depan pun akan terdampak. Literasi bukan hanya soal membaca, melainkan kemampuan memproduksi teks yang koheren dan sesuai konteks.

Tentu, kreativitas berbahasa di media sosial tidak dapat dimatikan, namun ia harus ditempatkan pada konteksnya yang tepat. Untuk mengatasi dampak negatif ini, dibutuhkan upaya kolaboratif. Pendidik dan institusi bahasa harus gencar mempromosikan literasi digital yang tidak hanya mengajarkan penggunaan teknologi, tetapi juga kesadaran register; yaitu pemahaman kapan harus menggunakan bahasa baku dan kapan bahasa santai diperbolehkan. Selain itu, pemerintah dan Badan Bahasa perlu memposisikan Bahasa Indonesia secara strategis sebagai bahasa ilmu dan profesionalitas, bahkan di platform digital, agar martabat bahasa nasional tetap terjaga di tengah arus globalisasi dan informalitas.

Kesimpulannya, era digital memang telah melahirkan inovasi dan kosakata baru, tetapi juga membawa risiko terabaikannya kaidah dasar. Mengabaikan EYD di media sosial adalah isu yang kompleks, bukan semata kesalahan teknis, melainkan cerminan pergeseran budaya berbahasa. Tanggung jawab kini ada di tangan Generasi Z dan para pemangku kepentingan untuk menyeimbangkan antara ekspresi diri yang cepat dan kebutuhan untuk melestarikan kompetensi bahasa formal. Kegagalan dalam upaya ini akan berarti hilangnya presisi berpikir dan merosotnya kualitas literasi formal bangsa.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra

admin

06 Jun 2026

By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …

Mengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi

admin

06 Jun 2026

By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …

Menyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi

admin

06 Jun 2026

By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …

Pengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra

admin

06 Jun 2026

By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …

Pengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

admin

06 Jun 2026

By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …

Pengembangan Kemampuan Berbicara sebagai Dasar Komunikasi Efektif

admin

06 Jun 2026

By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …