Kurangnya Kebakuan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar
- account_circle admin
- calendar_month 19/04/2026
- visibility 185
- comment 0 komentar
- label Esai dan Opini
By: Umi Khairani
Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejak dini, terutama di jenjang sekolah dasar, siswa seharusnya mulai dibiasakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah kebakuan. Namun, pada kenyataannya, penggunaan bahasa Indonesia yang baku di lingkungan sekolah dasar masih kurang diperhatikan. Hal ini terlihat dari kebiasaan siswa maupun lingkungan sekitar yang lebih sering menggunakan bahasa tidak baku dalam komunikasi sehari-hari.
Berdasarkan pengamatan pribadi penulis, fenomena ini cukup sering terjadi baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Misalnya, dalam percakapan sehari-hari, kata “tidak” sering digantikan dengan “ga” atau “nggak”. Begitu juga dengan kata “saya” yang berubah menjadi “aku” atau bahkan “gue”, tergantung pengaruh lingkungan. Kebiasaan ini tidak hanya dilakukan oleh siswa, tetapi juga terkadang oleh guru dan orang dewasa di sekitar mereka. Akibatnya, siswa menjadi terbiasa menggunakan bahasa tidak baku dan menganggapnya sebagai hal yang wajar.
Pengalaman penulis saat mengamati kegiatan belajar di sekolah dasar menunjukkan bahwa penggunaan bahasa baku sering kali hanya muncul dalam situasi formal, seperti saat membaca teks di buku pelajaran atau ketika ujian berlangsung. Namun, di luar itu, baik saat diskusi maupun interaksi santai, siswa cenderung kembali menggunakan bahasa sehari-hari yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Bahkan, dalam beberapa kasus, guru tidak selalu mengoreksi penggunaan bahasa yang kurang tepat tersebut, sehingga kebiasaan ini terus berlanjut.
Menurut ahli linguistik, penggunaan bahasa yang baik dan benar sangat penting untuk membentuk kemampuan berkomunikasi yang efektif. Gorys Keraf berpendapat bahwa bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi, sedangkan bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah tata bahasa. Dari pendapat ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa tidak baku sebenarnya tidak selalu salah, tetapi menjadi kurang tepat jika digunakan dalam konteks pendidikan formal seperti di sekolah.
Selain itu, Chaer (Abdul Chaer) juga menyatakan bahwa kebiasaan berbahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Jika lingkungan sehari-hari lebih dominan menggunakan bahasa tidak baku, maka anak-anak akan meniru dan menjadikannya sebagai kebiasaan. Hal ini menunjukkan bahwa peran lingkungan, baik keluarga maupun sekolah, sangat besar dalam membentuk kemampuan berbahasa anak.
Kurangnya pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia baku di sekolah dasar dapat berdampak pada kemampuan akademik siswa. Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam menulis karangan, memahami teks formal, atau menyusun kalimat yang sesuai dengan kaidah. Selain itu, kebiasaan ini juga dapat memengaruhi sikap siswa terhadap bahasa Indonesia itu sendiri, sehingga mereka kurang menghargai pentingnya penggunaan bahasa yang baik dan benar.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya yang konsisten dari berbagai pihak. Guru sebagai pendidik memiliki peran penting dalam memberikan contoh penggunaan bahasa baku dalam setiap kegiatan pembelajaran. Selain itu, sekolah dapat membuat program khusus, seperti hari berbahasa Indonesia baku atau lomba berbahasa yang baik dan benar. Di sisi lain, orang tua juga perlu membiasakan penggunaan bahasa yang lebih baku di rumah agar anak mendapatkan contoh yang konsisten.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kurangnya kebakuan bahasa Indonesia di sekolah dasar merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian serius. Melalui pembiasaan, keteladanan, dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat ditingkatkan sejak dini. Hal ini penting agar generasi muda mampu berkomunikasi secara efektif sekaligus menjaga keberlangsungan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa.

Saat ini belum ada komentar