Pengaruh Literasi Digital Terhadap Minat Baca Karya Sastra Pada Siswa SD
- account_circle admin
- calendar_month 26/04/2026
- visibility 170
- comment 0 komentar
- label Esai dan Opini
By: Nurul Anggraini Br Ginting
Di era teknologi yang serba cepat ini, anak-anak sekolah dasar sudah sangat akrab dengan gawai dan konten digital. Jika dulu siswa lebih banyak membaca buku cerita fiksi atau majalah anak, kini mereka lebih sering menghabiskan waktu melihat konten visual di platform digital. Perubahan media baca ini membawa dampak besar pada cara mereka mengonsumsi karya sastra. Memang membaca melalui gawai terasa lebih praktis dan menarik secara visual, namun hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi perkembanagan minat baca yang mendalam, terutama pada teks-teks sastra yang panjang.
Literasi digital bagi siswa SD sering kali terbatas pada menonton video atau membaca teks singkat di media sosial. Karya sastra seperti dongeng, fabel, atau puisi yang seharusnya dibaca secara utuh, kini sering kali diringkas atau hanya dilihat melalui cuplikan visual. Akibatnya, siswa menjadi kurang terbiasa mendalami alur cerita yang kompleks dan keindahan diksi dalam bahasa indonesia.
Menurut saya, keberadaan platform digital tidak seharusnya mematikan minat baca, melainkan bisa menjadi sarana baru. Namun, masalah muncul ketika siswa tidak lagi memiliki kesabaran untuk membaca teks narasi yang panjang karena terbiasa dengan informasi instan. Jika hal ini dibiarkan, kemampuan imajinasi dan apresiasi bahasa mereka terhadap karya sastra asli akan menurun.
Misalnya, saat diminta menceritakan kembali sebuah dongeng, banyak siswa yang hanya tahu garis besar ceritanya dari video YouTube tanpa memahami pesan moral atau kosakata baru yang didalam buku aslinya. Contoh lain adalah saat mengerjakan tugas mengapresiasi puisi, siswa cenderung mencari interprestasi cepat di internet daripada mencoba memaknai bait-bait puisi tersebut secara mandiri.
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa meskipun akses informasi semakin mudah, kualitas pemahaman membaca siswa bisa menurun jika hanya bergantung pada konten digital yang dangkal. Kurangnya interaksi dengan teks sastra yang baku dan puitis membuat perbendaharaan kata mereka menjadi terbatas pada bahasa percakapan digital saja.
Literasi digital adalah pedang bermata dua bagi siswa SD. Di satu sisi memberikan kemudahan akses, namun di sisi lain dapat menurunkan minat baca terhadap karya sastra yang mendalam. Ketergantungan pada konten visual yang instan berisiko membuat siswa kehilangan kemampuan analisis terhadap teks-teks bahasa indonesia yang baik.
Guru dan orang tua sebaiknya mulai memperkenalkan e-book sastra yang interaktif namun tetap mempertahankan keutuhan teks. Selain itu, kegiatan “ Jam Membaca Senyap” di sekolah menggunakan buku fisik tetap perlu dipertahankan untuk melatih fokus siswa. Teknologi harus diposisikan sebagai jembatan, bukan pengganti buku sastra.
Referensi
Pengamatan Pribadi Terhadap Kebiasaan Membaca Siswa Di Lingkungan Sekitar.
Catatan Perkembangan Literasi Digital Anak Sekolah Dasar.
Praktek membaca puisi yang saya tugaskan langsung ke peserta didik saya.

Saat ini belum ada komentar