Home » Esai dan Opini » Pengaruh Literasi Digital Terhadap Minat Baca Karya Sastra Pada Siswa SD

Pengaruh Literasi Digital Terhadap Minat Baca Karya Sastra Pada Siswa SD

admin 26 Apr 2026 96

By: Nurul Anggraini Br Ginting

Di era teknologi yang serba cepat ini, anak-anak sekolah dasar sudah sangat akrab dengan gawai dan konten digital. Jika dulu siswa lebih banyak membaca buku cerita fiksi atau majalah anak, kini mereka lebih sering menghabiskan waktu melihat konten visual di platform digital. Perubahan media baca ini membawa dampak besar pada cara mereka mengonsumsi karya sastra. Memang membaca melalui gawai terasa lebih praktis dan menarik secara visual, namun hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi perkembanagan minat baca yang mendalam, terutama pada teks-teks sastra yang panjang.

Literasi digital bagi siswa SD sering kali terbatas pada menonton video atau membaca teks singkat di media sosial. Karya sastra seperti dongeng, fabel, atau puisi yang seharusnya dibaca secara utuh, kini sering kali diringkas atau hanya dilihat melalui cuplikan visual. Akibatnya, siswa menjadi kurang terbiasa mendalami alur cerita yang kompleks dan keindahan diksi dalam bahasa indonesia.

Menurut saya, keberadaan platform digital tidak seharusnya mematikan minat baca, melainkan bisa menjadi sarana baru. Namun, masalah muncul ketika siswa tidak lagi memiliki kesabaran untuk membaca teks narasi yang panjang karena terbiasa dengan informasi instan. Jika hal ini dibiarkan, kemampuan imajinasi dan apresiasi bahasa mereka terhadap karya sastra asli akan menurun.

Misalnya, saat diminta menceritakan kembali sebuah dongeng, banyak siswa yang hanya tahu garis besar ceritanya dari video YouTube tanpa memahami pesan moral atau kosakata baru yang didalam buku aslinya. Contoh lain adalah saat mengerjakan tugas mengapresiasi puisi, siswa cenderung mencari interprestasi cepat di internet daripada mencoba memaknai bait-bait puisi tersebut secara mandiri.

Dari contoh tersebut, terlihat bahwa meskipun akses informasi semakin mudah, kualitas pemahaman membaca siswa bisa menurun jika hanya bergantung pada konten digital yang dangkal. Kurangnya interaksi dengan teks sastra yang baku dan puitis membuat perbendaharaan kata mereka menjadi terbatas pada bahasa percakapan digital saja.

Literasi digital adalah pedang bermata dua bagi siswa SD. Di satu sisi memberikan kemudahan akses, namun di sisi lain dapat menurunkan minat baca terhadap karya sastra yang mendalam. Ketergantungan pada konten visual yang instan berisiko membuat siswa kehilangan kemampuan analisis terhadap teks-teks bahasa indonesia yang baik.

Guru dan orang tua sebaiknya mulai memperkenalkan e-book sastra yang interaktif namun tetap mempertahankan keutuhan teks. Selain itu, kegiatan “ Jam Membaca Senyap” di sekolah menggunakan buku fisik tetap perlu dipertahankan untuk melatih fokus siswa. Teknologi harus diposisikan sebagai jembatan, bukan pengganti buku sastra.

Referensi

Pengamatan Pribadi Terhadap Kebiasaan Membaca Siswa Di Lingkungan Sekitar.

Catatan Perkembangan Literasi Digital Anak Sekolah Dasar.

Praktek membaca puisi yang saya tugaskan langsung ke peserta didik saya.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Pentingnya Apresiasi Drama dalam Pembelajaran Sastra

admin

06 Jun 2026

By : Livia Salsabila Siregar, Apresiasi drama memiliki peran penting dalam pembelajaran sastra karena lewat drama siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami kehidupan yang digambarkan di dalamnya. Dalam drama, siswa bisa melihat bagaimana tokoh berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah yang terjadi. Saat mempelajari drama, siswa juga belajar memahami karakter tokoh, alur cerita, suasana, …

Mengetuk Pintu Jiwa Menemukan Diri di Balik Lembar-lembar Puisi

admin

06 Jun 2026

By: Aulia Alvira, Secara kasat mata, puisi hanyalah deretan kata yang berbaris di atas kertas. Ia sering kali dituduh sebagai karya yang rumit, penuh teka-teki, bahkan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari. Namun, bagi mereka yang mau meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan membaca dengan hati, puisi berubah menjadi sebuah cermin ajaib. Mengapresiasi puisi bukan sekadar …

Menyimak di Era Digital: Dari Kedalaman Makna Menuju Kedangkalan Informasi

admin

06 Jun 2026

By: Filzah Shahirah, Dalam ilmu bahasa dan sastra, menyimak sering kali dianggap sebagai keterampilan yang pasif dan terjadi secara alami. Padahal, menyimak (listening) sangat berbeda dengan sekadar mendengar (hearing). Mendengar hanyalah proses fisik masuknya suara ke telinga, sedangkan menyimak adalah sebuah tindakan aktif-kognitif untuk mencerna makna, menghayati rasa, dan mengevaluasi informasi secara kritis. Menyimak adalah …

Pengembangan Berbicara Anak Dalam Bahasa dan Sastra

admin

06 Jun 2026

By: Siti Nurhalizah Lubis, Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang fundamental dalam kehidupan manusia. Bagi anak-anak, kemampuan berbicara bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cerminan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional mereka. Sejak lahir, anak telah memiliki potensi bahasa yang luar biasa. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa stimulasi yang tepat dari lingkungan …

Pengaruh Media Pembelajaran Digital Terhadap Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

admin

06 Jun 2026

By : Siti Fadillah Suyoto, Perkembangan teknologi digital yang pesat telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Dalam konteks pembelajaran, teknologi digital telah menciptakan paradigma baru yang menawarkan berbagai kemungkinan inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, pendidik terus mencari berbagai strategi dan inovasi pembelajaran yang efektif. …

Pengembangan Kemampuan Berbicara sebagai Dasar Komunikasi Efektif

admin

06 Jun 2026

By: Nur Maghfirah Fakhri, Kemampuan berbicara merupakan bagian penting dalam keterampilan berbahasa yang berperan langsung dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Dalam dunia pendidikan, berbicara tidak sekadar digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir, memahami, dan mengungkapkan gagasan secara runtut. Oleh sebab itu, pengembangan kemampuan ini perlu dilakukan secara terencana agar dapat mendukung …