BAHASA ASLI ACEH SINGKIL KIAN TERPINGGIRKANMengapa Gerenasi Muda Enggan Menggunakannya?
- account_circle admin
- calendar_month 1/04/2025
- visibility 475
- comment 0 komentar
- label Esai dan Opini
By: Manda Azzahra
Bahasa aceh Singkil merupakan salah satu bahasa daerah yang dituturkan oleh etnik singkil di wilayah Subulussalam Singkil. Subulussalam dan Singkil merupakan daerah yang memiliki banyak sekali persamaannya dari segi bahasa, adat dan budaya. Kedua daerah ini sebenarnya memang satu kesatuan, tapi sejak 2 januari 2007 Kota Subulussalam resmi menjadi kota sendiri dan terpisah dari kabupaten Aceh Singkil.
Bahasa aceh singkil ini juga memiliki banyak kesamaan dengan bahasa pakpak yang merupakan bahasa serumpun jadi orang yang berbicara dalam kedua bahasa ini dapat saling mengerti karna dalam segi kosakata yang sama, baik dalam bentuk kata,makna dan pengucapannya.
Menariknya, bahasa ini memiliki banyak sebutan, namun mayoritas penduduk di daerah subulussalam singkil ini menyebut bahasa ini sebagai “bahasa kampong” artinya bahasa kampung, ada juga menyebutnya dengan bahasa “pakpak boang”, ada juga menyebut dengan “bahasa julu” yang dimana dalam masyarakat subulussalam dan singkil ini kata julu itu diartikan sebagai orang pendatang dari pakpak yang telah bermigrasi ke subulussalam/singkil, bahkan yang anehnya ada juga yang menyebutkan bahasa ini sebagai “bahasa kade-kade” yang jika diartikan kedalam bahasa indonesia ialah bahasa apa-apa.
Sebagaian besar masyarakat di kota subulussalam masi sangat kental dengan penggunaan bahasa ini, namun didaerah singkil utara bahasa ini secara perlahan mulai terancam punah yang dimana mereka lebih dominan dalam menggunakan bahasa pesisir atau bahasa jame. Banyak anak muda di singkil utara ini lebih memilih menggunakan bahasa komukasi sehari-hari menggunakan bahasa jame ini, dan bahasa asli mereka perlahan mulai ditinggalkan. Bahasa jame ini dianggap lebih modern dan mudah diterima dalam pergaulan dari pada bahasa asli aceh singkil. Sayangnya banyak anak muda merasa malu menggunakan bahasa asli singkil ini karna takut diaggap kuno, kampungan atau pun kurang keren karna dari segi pengucapannya terdengar seperti sedikit kasar.
Saat ini bahasa asli singkil ini lebih sering digunakan didaerah pelosok itu pun biasanya hanya antar orang tua saja, tetapi dalam situasi formal mereka tetap menggunakan bahasa indonesia. Kalau ada yang berbicara menggunakan bahasa asli aceh singkil ini, sering kali mereka mendapatkan ejekan atau dianggap berbeda. Akibatnya mereka lebih memilih menyesuaikan diri dengan mayoritas dari pada bahasa daerah sendiri. Banyak orang tua juga lebih sering mengajarkan anak-anaknya berbahasa jame sejak kecil, sehinggal mereka tumbuh tanpa memiliki kebiasaan menggunakan bahasa asli mereka sendiri.
Salah satu penyebab utama bahasa ini semakin jarang digunakan ialah kurang adanya kesadaran dari masyarakat sendiri terhadap pentingnya melestarikan bahasa daerah ini juga menjadi faktor yang mempengaruhi kehilangannya. Banyak orang tua merasa tidak perlu lagi mengajarkan bahasa asli mereka ini kepada anak-anaknya karena menganggapnya tidak terlalu memiliki manfaat besar dimasa yang akan datang. Padahal, bahasa daerah ini bagian penting dari identitas budaya yangs eharusnya dijaga dan dilestarikan.
Jika permasalahan ini dibiarkan, bukan tidak mungkin bahasa asli aceh singkil ini akan benar-benar punah dalam beberapa generasi ke depan. Ini bukan sekedar kehilangan bahasa, tapi juga kehilangan bagian penting dari sejarah, adat dan budaya masyarakatnya sendiri.
Jadi, dari permasalahan ini saya sangat berharap agar pemerintah bisa mengambil langkah cepat mengatasi permasalahan ini, dapat melakukan langkah-langkah yang dapat mengembalikan kebanggaan masyarakat terhadap bahasa daerah aceh singkil ini.
Menurut pandangan saya hal ini dapat dilakukan dari hal kecil yang sangat menjadi pondasi awal yaitu dari orang tua, orang tua dapat membiasakan kembali berkomunikasi menggunakan bahasa asli aceh singkil ini dan membiasakan bahasa ingi menjadi bahasa sehari-hari dirumah. Bahkan jika diluar jam pelajaran guru juga dapat menggunakan mengajak siswanya berkomunikasi menggunakan bahasa ini, tanamkan dalam diri bahasa ini adalah bahasa yang sangat unik dan jangan dianggap bahasa ini bahasa yang kampungan yang memunculkan rasa malu. Pemerintah juga dapat membuat program edukasi, perlombaan berbahasa daerah serta bisa juga dimasukkan kedalam kurikulum pendidikan sebagai mata pelajaran muatan lokal.
Jadi, hilangnya bahasa asli aceh singkil ini bukanlah hanya perubahan kebiasaan berbahasa, melainkan juga ancaman terhadap identitas budaya masyarakat setempat. Rasa malu yang dirasakan generasi muda dalam menggunakan bahasa daerah mereka sendiri merupakan permasalahan yang sangat serius dan harus segera diatasi sebelum berakibat sangat fatal. Kalau tidak ada kesadaraan dan upaya nyata untuk mengembalikan bahasa ini, maka dalam waktu yang tidak lama lagi bahasa asli aceh singkil ini akan hanya menjadi kenangan sejarah. Oleh karena itu sudah saatnya masyarakat terutama generasi muda bangga menggunakan bahasa daerah ini dan kembali aktif menggunakannya agar warisan budaya yang berharga ini tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman.

Saat ini belum ada komentar