Bahasa Indonesia di Era Globalisasi: Antara Kebanggaan dan Tantangan Generasi Muda
- account_circle admin
- calendar_month 4/11/2025
- visibility 547
- comment 0 komentar
- label Esai dan Opini
By: Nazila Husnah Rangkuti. Bahasa Indonesia adalah identitas nasional yang mempersatukan lebih dari 700 bahasa daerah di Nusantara. Melalui bahasa Indonesia, bangsa ini dapat saling memahami, berkomunikasi, dan membangun kebersamaan dalam perbedaan. Namun, di era globalisasi yang penuh dengan arus informasi dan budaya asing, posisi bahasa Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pengaruh bahasa asing, terutama bahasa Inggris, serta kebiasaan berkomunikasi melalui media sosial membuat generasi muda sering kali melupakan pentingnya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: masihkan generasi muda menjadikan bahasa Indonesia sebagai sumber kebanggaan nasional?
Globalisasi membawa dampak positif dalam bidang pendidikan dan teknologi, tetapi di sisi lain, ia juga mengubah pola komunikasi masyarakat. Mahasiswa, sebagai kelompok intelektual muda, kini terbiasa menggunakan bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa asing. Kata-kata seperti “update,” “deadline,” “meeting,” atau “event” menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Penggunaan istilah tersebut memang menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan dunia global, namun jika dilakukan berlebihan, hal ini dapat menimbulkan kesan bahwa bahasa Indonesia kurang modern atau tidak mampu menampung istilah ilmiah.
Padahal, bahasa Indonesia memiliki kekayaan kosakata yang terus berkembang. Banyak istilah baru yang telah diadaptasi agar sesuai dengan konteks zaman, seperti “pranala” untuk link, “gawai” untuk gadget, dan “unggah” untuk upload. Namun, masih sedikit generasi muda yang terbiasa menggunakan istilah tersebut karena kurangnya sosialisasi dan kebiasaan. Di sinilah pentingnya peran lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi, untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia melalui pembelajaran yang kreatif dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Selain persoalan kosakata, cara berbahasa di media sosial juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak anak muda yang terbiasa menulis tanpa memperhatikan ejaan, tanda baca, dan kesantunan. Misalnya, penggunaan huruf kapital berlebihan, singkatan yang tidak baku, atau kata-kata kasar yang mengabaikan nilai sopan santun. Fenomena ini mencerminkan penurunan kualitas berbahasa dan beretika. Padahal, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cermin kepribadian seseorang. Mahasiswa yang mampu berbahasa dengan baik dan santun akan lebih dihargai, karena kemampuan berbahasa menjukkan kemampuan berpikir dan berkarakter
Namun, tidak semua dampak globalisasi bersifat negatif. Media sosial dan teknologi juga dapat menjadi sarana efektif untuk memperkuat eksistensi bahasa Indonesia. Banyak kreator konten muda yang berhasil menggunakan bahasa Indonesia dengan cara yang menarik, edukatif, dan kreatif. Mereka membuktikan bahwa bahasa Indonesia tetap bisa hidup dan berkembang di tengah budaya digital, asalkan digunakan dengan rasa bangga dan tanggung jawab.
Untuk menjaga keberlangsungan bahasa Indonesia, setiap generasi memiliki peran penting. Mahasiswa dapat mulai dari hal sederhana: menggunakan bahasa Indonesia baku dalam karya ilmiah, berbicara santun dalam diskusi, serta membiasakan diri membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia yang baik. Semakin sering digunakan dalam konteks positif, semakin tinggi pula derajat bahasa itu di mata penggunanya.
Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan simbol jati diri bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi, mempertahankan dan membanggakan bahasa Indonesia bukan berarti menolak kemajuan, tetapi justru menunjukkan kecerdasan dalam menjaga identitas di tengah perubahan. Generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam melestarikan bahasa Indonesia dengan menggunakannya secara baik, kreatif, dan bermartabat. Dengan demikian, bahasa Indonesia tidak hanya akan tetap hidup, tetapi juga berkembang sebagai bahasa modern yang mampu berdiri sejajar dengan bahasa dunia lainnya.

Saat ini belum ada komentar